Beraksi Menagih Janji

myhome

Idealisme yang kokoh. Penyambung lidah rakyat. Garda depan pembela kebenaran dan penegakkan keadilan. Mungkin ini sekian dari banyak adjektiva yang melekat pada diri seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Atribut yang mendorongnya untuk kembali meluncurkan aksi “menagih janji” Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT) di luar gedung Grha Sabha Pramana Sabtu (12/3) silam.

Janji Menristekdikti mengenai UKT meliputi 4 poin penting yang pada intinya akan melibatkan mahasiswa lebih dalam mengatur kebijakan UKT dan memberi ruang untuk memperbarui dan meringankan UKT. Aksi damai untuk menuntut janji direncanakan pada saat menristekdikti Mohamad Nasir mengisi acara Technocorner 2016, yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (KMTETI). Koordinasi aksi damai disampaikan koordinator perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) se-UGM kepada panitia Technocorner melalui surat pemberitahuan.
Sempat berbincang dengan awak Clapeyron, sumber dari pihak KMTETI menyatakan bahwa pada awalnya koordinasi dengan pihak yang hendak meminta waktu audiensi dengan menteri berjalan dengan baik. “Awalnya mereka ingin audiensi dengan jumlah perwakilan 5 orang,” ujar mahasiswa yang tak ingin namanya disebut. Beberapa waktu kemudian perwakilan dari pemohon audiensi kembali mengabarkan panitia bahwa yang hendak datang lebih dari perkiraan awal, namun berjanji akan tertib dan tidak mengusik kondusivitas acara.

Tiba hari Seminar Nasional Technocorner 2016, terjadi atraksi yang luar biasa di lingkungan Grha Saba Pramana. Ratusan mahasiswa bersatu berseru mengunjuk rasa ketidakpuasan ganjaran biaya kuliah yang terlalu mahal. Aliansi lembaga-lembaga tinggi mahasiswa se-UGM kembali mempertanyakan kebijakan pemerintah tentang UKT yang kian “mencekik”. Sangat disayangkan bahwa Menristekdikti tidak hadir melainkan diwakilki oleh Intan Ahmad, Direktur Jendral Pembelajaraan dan Kemahasiswaan.

Gegap gempita kerumunan di Grha Sabha Pramana diluar dugaan, baik dari pihak panitia Technocorner maupun dari peserta aksi. “Aku juga kaget dengan jumlah massa aksi yang cukup banyak padahal info hanya mulut ke mulut,” ujar sumber dari perwakilan massa aksi.

myhome2

Aksi damai menuai perbincangan dan adu perspektif antara mereka yang menyelenggarakan seminar dan simpatisan aksi. Usai pemaparan materi & hendak meninggalkan lokasi seminar, Intan Ahmad dilahangi jalannya oleh mahasiswa. Adapun mahasiswa menabrakan diri pada kendaraan Dirjen agar dapat didengarkan aspirasinya. Pada akhirnya Dirjen keluar dari kendaraan untuk duduk di trotoar dan mendengarkan permohonan mahasiswa. Dari kubu panitia tentu ini diluar dugaan dan sukar diterima karena keamanan dan kenyamanan Dirjen menjadi tanggung jawab panitia. Melalui aksi damai aliansi BEM, DEMA dan LEM dapat menyuarakan aspirasinya kepada pejabat Kemenristekdikti & melabel peristiwa ini sebagai kemenangan dan bukti nyata pengorbanan mahasiswa.

Perlu digarisbawahi aksi damai tidak mengganggu berjalannya acara Technocorner. “Audiensi” dengan Dirjen berlangsung di luar Grha Sabha Pramana, tepat di pojok barat daya, sedangkan seminar berlangsung di dalam auditorium. Hal ini dikonfirmasi oleh sumber dari KMTETI maupun dari perwakilan massa aksi. Meski demikian tentu saja timbul ketidaknyamanan bagi panitia. Proses untuk mengundang menteri bukanlah hal yang mudah, sekalipun pada akhirnya didisposisikan kepada Dirjen. Kepuasan panitia menghadirkan perwakilan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi seakan ternodai dengan peristiwa yang terjadi Sabtu lalu sebagai akhir cerita. Memang perlu didukung upaya mahasiswa menuntut keadilan UKT, namun perlu juga memperhatikan cara dalam mengupayakannya.

Sabtu 12 Maret 2016 bisa dikatakan sebagai hari kemenangan pejuang UKT dan bukti pengorbanan mahasiswa haus akan perubahan. Perlu diacungkan jempol bagi mereka yang secara aktif mengorbankan waktu, menguras tenaga dan mengangkat pedang memperjuangkan hak mahasiswa untuk kuliah apapun kondisi finansialnya. Sangat disayangkan timbul hal-hal yang tidak diinginkan pada siang itu. Ada pihak yang merasa dikhianati oleh rekan se-almamater dan merugi atas aksi damai yang digelar. Semoga kelak tidak terulang kembali.

Penulis :
Kemal Fardianto

  • Dhirta Parera

    woow