Beranda Berita Mencegah Banjir Bandara dengan Membangun Jetty? Inilah Proyek Bogowonto, Garda Utama YIA

Mencegah Banjir Bandara dengan Membangun Jetty? Inilah Proyek Bogowonto, Garda Utama YIA

oleh Redaksi

Sobat Ero, coba tengok foto proyek di atas! Bisa dilihat ada puluhan—bahkan ratusan—struktur tetrahedral yang ditumpuk di sekitar garis laut. Namun, sebenarnya ini proyek apa, ya? Biasanya kan, struktur yang bernama jetty tersebut ditemukan di daerah high traffic seperti pelabuhan, lokasi perikanan, atau pantai rekreasi. Jadi, mengapa yang ini dibangun dekat bandara?

Untuk mengetahui lebih lanjut, kita harus melangkah ke belakang terlebih dahulu—literally—karena di belakang proyek ini terdapat sungai besarr bernama Bogowonto—sungai yang kononnya Pangeran Diponegoro sekalipun tidak ingin lintasi.  

Raison D’être

Lokasi pembangunan jetty yang tidak konvensional ini bukanlah tanpa sebab. Muara Sungai Bogowonto dari tahun ke tahun memiliki reputasi yang buruk karena perannya dalam fenomena banjir sekitar. 

Setiap tahunnya, 1,2 juta m3 sedimen menutupi mulut sungai dan mencegah aliran air ke lautan. Air yang terperangkap tersebut akhirnya meninggi dan meluap ke daerah setempat dan menggenang rumah para penghuni. Hal ini sangat mengancam keberlangsungan warga karena selain permukiman, daerah sekitar juga terdiri dari lokasi pertambangan, lahan pertanian, dan area perikanan.

Di samping itu semua—literally—juga terletak Proyek Strategis Nasional (PSN) Yogyakarta International Airport (YIA) yang merupakan fasilitas krusial. Spesifiknya, tepat di sebelah timur muara Sungai Bogowonto kita bisa menemui runway bandara pesisir ini.

Berdasarkan banyak pertimbangan, risiko banjir sekitar Sungai Bogowonto sama sekali tidak bisa diambil demi keberlangsungan penerbangan YIA. Selain melayani Daerah Istimewa Yogyakarta, YIA juga merupakan pintu utama menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.

Sebagai salah satu destinasi 10 Bali Baru, pengembangan KSPN Borobudur merupakan prioritas utama Pemerintah dalam meningkatkan devisa negara pasca-pandemi. Oleh karena itu, seluruh aspek pengembangan wilayah sekitar, khususnya aspek konektivitas, merupakan satu kesatuan upaya yang tidak terpisahkan. Pembangunan Jalan Tol Yogya–Bawen dan YIA merupakan dua infrastruktur esensial yang mesti beroperasi dengan lancar.

Jika diringkas, inti pembangunan jetty ini adalah unuk mencegah pendangkalan akibat sedimentasi lautan, mengurangi risiko banjir, dan menstabilkan muara sungai demi keberlangsungan YIA dan warga sekitar.

Lapis ke Lapis Struktur Jetty

Pembangunan Jetty Bogowonto ini merupakan 1 dari 3 program pengendali banjir YIA.  Dua program lainnya adalah pembangunan prasarana pengendali banjir di Sungai Bogowonto dan Sungai Serang (yang juga terletak tepat di timur Bandara). Lingkup pekerjaan tambahan tersebut mencakup peningkatan kapasitas sungai, penguatan lereng, pengadaan pompa banjir, serta pembangunan long storage dan kolam retensi.

Dalam proyek pengaman pesisir Bogowonto ini, dibangun dua buah jetty, yaitu Jetty Barat dan Jetty Timur. Dari 1,2 juta m3 sedimen, sekitar 700 ribu m3 tertimbun di sisi timur dan 500 m3 sisanya di sisi barat. Jumlah tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan dimensi dan desain kedua jetty. Meskipun kedua jetty akan dibangun dengan panjang yang sama (300 m), Jetty Timur akan disertai tanggul sepanjang 295 m, sedangkan tanggul Jetty Barat hanya memiliki panjang 245 m.

Jetty ini terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu core, slope protection, dan toe protection. Pada masing-masing lapisan tersebut, digunakan pula struktur yang berbeda-beda. Core jetty yang berlaku sebagai “fondasi”-nya menggunakan blok beton (2 ton, 1×1 m) yang dipasang secara acak, sedangkan tetrapod yang umum diasosiasikan dengan struktur jetty ini digunakan sebagai pelindung bagian slope dan toe

Secara keseluruhan, digunakan tetrapod dengan berat 4, 7, 11, dan 13 ton. Namun, tentunya masing-masing lapisan menggunakan tetrapod dengan spesifikasi yang berbeda.  Khususnya, bagian toe protection mayoritas menggunakan tetrapod 7 ton yang juga disusun acak, sementara bagian slope menggunakan yang 13 ton. Berbeda dengan bagian toe dan core, tetrapod pada bagian slope harus disusun dengan miring dan rapi untuk mengunci satu sama lain demi melindungi struktur jetty dari deburan ombak.

Seluruh jetty dibangun tegak lurus ke arah lautan dan tentunya tepat berada di mulut muara. Konsep kerjanya adalah saat gelombang pembawa sedimen datang secara diagonal ke arah muara, sedimen tersebut akan terhadang dan tertumpuk di salah satu jetty, tidak menghalangi bibir sungai.

Cetak, Angkut, Pasang

Perlu diingat bahwa jumlah tetrapod dan blok beton yang digunakan mencapai ratusan, bahkan ribuan unit.  Jadi, untuk mempermudah pengangkutan dan logistik, tetrapod tersebut dibentuk langsung di lokasi pembangunan. 

Logikanya, daripada mencetak masing-masing tetrapod di batching plant terpisah dan mengangkutnya lewat puluhan kilometer jalur utama selatan DIY, kenapa tidak kita buat “pabrik sendiri”?

Dalam poyek Jetty Bogowonto ini, bagian belakang Jetty Timur dikhususkan sebagai area produksi. Selain itu, lahan seluas 2,5 hektare tersebut juga digunakan untuk fasilitas proyek dan stockyard.

Area produksi Bogowonto sendiri dibagi menjadi tiga area:

  • Area 1 digunakan untuk produksi khusus beton dan profil tulangan
  • Area 2 digunakan untuk produksi tetrapod 7 dan 13 ton. Sebelumnya, produksi tetrapod 4 ton juga dilakukan di sana, tetapi setelah selesai, konfigurasi 7 dan 13 diambil.
  • Area 3 digunakan untuk produksi tetrapod 7 dan 11 ton.

Secara umum, ada 4 to-do list dalam proyek ini, yaitu pekerjaan pembesian, pengecoran,  pengangkutan, dan akhirnya pemasangan. Pertama-tama, besi yang akan digunakan sebagai tulangan blok dan tetrapod akan dirakit terlebih dahulu dan distok di stockyard besi.

Berikutnya, tulangan tersebut akan diangkut ke area produksi untuk melakukan fase pengecoran. Adonan beton akan dituangkan, menyelimuti tulangan besi yang telah dirangkai sedemikian rupa di dalam casing yang berbeda-beda, tergantung spesifikasi tetrapod yang diperlukan. 

Setelah hasil cor sudah berumur 24 jam, tetrapod akan diangkut ke stockyard umum dan setelah 14 hari, baru bisa dipasang pada bagian jetty yang dibutuhkan.

Jetty Bandara 101

Secara sekilas, proyek ini terlihat seperti yang simpel, kan ya? Secara struktural, tidak terdapat inovasi pada struktur jetty yang signifikan. Lahan kerjanya juga tidak problematik dan mudah diakses karena memang terletak dekat pusat lalu lintas manusia YIA.

Namun, Sobat Ero jangan salah! Sebenarnya, terdapat banyak kompromi dan rintangan khas yang hanya bisa ditemui di proyek Bogowonto ini. Ada apa saja, tuh? Yuk, baca terus artikelnya!

Karena letaknya yang dekat bandara, wilayah kerja proyek Bogowonto termasuk dalam KKOP atau kawasan keselamatan operasi penerbangan. Pada daerah ini, seluruh obstacle penerbangan harus disingkirkan. Otomatis, regulasi tersebut mencakup benda dan alat dengan tingkat elevasi tertentu, seperti drone dan crane yang erat kaitannya dengan dunia ketekniksipilan. 

Hal ini juga yang menyebabkan Tim Clapeyron tidak bisa mengambil drone footage, Sobat Ero

Ero, Maskot Clapeyron

Jadi, kalau penggunaan crane tidak diperbolehkan, tetrapod dipasang dengan alat apa? Jawabannya adalah..…tetap menggunakan crane. Namun, tentunya dengan rekayasa tertentu!

Sebenarnya, penggunaan kedua alat tersebut tidaklah sepenuhnya dilarang, hanya saja elevasinya perlu dibatasi. Oleh sebab itu, pihak pelaksana memasang dua sistem safety device—satu internal untuk secara otomatis membatasi ketinggian crane yang bekerja dan satu eksternal dengan alar yang akan berbunyi saat ketinggian tersebut terlewati.

Teknisnya, khalayak tetrapod dengan spesifikasi berbeda-beda, kapasitas crane yang digunakan juga beragam. Untuk tanggul, digunakan roller crane 50 ton, sedangkan roller crane 150 ton digunakan untuk stasioning jetty 0 sampai 150 dan yang 300 ton untuk stasioning 151 sampai 306.

Scheduling Masterclass

Terlepas masalah peralatan, problem utama lainnya adalah waktu. Proyek Bogowonto ini membawa tantangan yang besar dalam manajemen konstruksi karena penjadwalannya yang sangat ketat.

Letaknya yang dekat dari bandar udara melimitasi jam kerja hanya sampai jam 10 malam. Padahal, banyak aktivitas konstruksi yang dilakukan pada malam hari untuk memaksimalkan waktu dan menghindari kegiatan masyarakat sekitar. 

Isu lain yang datang sepaket dengan pekerjaan pantai adalah arus dan gelombang. Pekerjaan ideal hanya bisa dicapai saat kondisi surut yang idealnya terjadi di antara pukul 4 dan 8 pagi.

Kasarannya, kegiatan pemasangan sudah dimulai dari jam 5 subuh dan saat kondisi mulai pasang, peletakan tetrapod difokuskan di stasioning jetty yang mendekati tepi. Seluruh pekerjaan umum yang biasanya dimulai jam 8 pagi juga ditarik ke jam 6 untuk mengoptimalkan waktu yang ada.

Penangkal banjir YIA ini adalah testimoni sinergitas multisektor dalam menunjang suatu tujuan utama. Meskipun terlihat kecil, proyek ini tidak kalah kompleks dari PSN sampingnya yang disorot media. Meskipun sekilas terlihat sederhana, kenyataan di lapangan sering berkata sebaliknya. 

Semoga ke depannya, infrastruktur penyokong bisa mendapat rekognisi yang sepantasnya dalam mendukung infrastruktur krusial lainnya di seluruh Indonesia.

Tulisan oleh Muhammad Haekal Azariansyah
Data oleh Alya Ramadianisa
Dokumentasi oleh Rifki Fadhilah
Tim Liputan oleh (Liveta Nissi, Alya Ramadianisa, Rifki Fadhilah)

Artikel Terkait