Beranda Artikel LRT Jabodebek dan Jembatan Lengkungnya

LRT Jabodebek dan Jembatan Lengkungnya

oleh Redaksi

Light Rail Transit (LRT)

Apa itu LRT? Dilansir dari website resmi LRT Jabodebek, Light Rail Transit (LRT) yang juga dapat disebut sebagai Lintas Rel Terpadu atau Kereta Api Ringan merupakan suatu moda transportasi publik yang berbasis kereta dan beroperasi di atas rel ringan. Dikatakan ringan karena sistem konstruksinya yang ringan. Oleh karena itu, LRT tidak mengandalkan banyaknya jumlah penumpang dalam satu perjalanan, melainkan banyaknya jumlah rute dalam satu perjalanan. LRT umumnya dibangun di kota-kota besar dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi untuk menyelesaikan permasalahan kemacetan yang ada di kota-kota besar. Oleh karena itu, konstruksi LRT dibuat melayang (elevated) dengan alasan padatnya arus lalu lintas yang beroperasi sejajar dengan tanah (at grade). Jembatan LRT yang dibuat melayang tidak selalu memiliki rute yang lurus karena banyak konstruksi atau rintangan lainnya yang sudah dibangun di sekitar rute LRT. Oleh karena itu, umumnya jembatan LRT dibuat melengkung untuk memutari konstruksi atau rintangan tersebut. 

Proyek LRT di Indonesia

Saat ini terdapat tiga proyek LRT yang sudah dibangun di kota besar di Indonesia. Proyek tersebut adalah LRT Sumatera Selatan, LRT Jakarta, dan LRT Jabodebek. LRT Sumatera Selatan atau yang biasa disebut LRT Palembang dibangun di Palembang, Indonesia pada tahun 2015 dan mulai beroperasi pada bulan Oktober 2018. LRT yang difungsikan sebagai pendukung transportasi publik pada kompetisi olahraga Asian Games 2018 menghubungkan stasiun Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II hingga Jakabaring Sport City. Berbeda dengan LRT Palembang, LRT yang melintas di dalam Kota Jakarta dibangun berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Transportasi Umum di Provinsi DKI Jakarta. LRT Jakarta mulai dibangun oleh PT Jakarta Propertindo (Preseroda) pada tanggal 22 Juni 2016. LRT tersebut mulai dioperasikan oleh PT LRT Jakarta yang merupakan anak perusahaan dari PT Jakarta Propertindo atau yang biasa disebut Jakpro pada tanggal 1 Desember 2019.

Di sisi lain, LRT Jabodebek dibangun berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 49 tahun 2017 yang sebelumnya mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi yang kemudian diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 65 tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/ Light Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi. Sejalan dengan peraturan tersebut, LRT Jabodebek diharapkan dapat meningkatkan kualitas transportasi publik dalam mendukung pembangunan di sekitar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Berdasarkan Survei Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), dalam satu hari ada 996 ribu kendaraan yang masuk dari luar DKI Jakarta—31% dari Tangerang, 31% dari Bogor dan Depok, dan 38% dari Bekasi. Hal tersebut mendorong pembangunan konstruksi LRT Jabodebek oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk. sejak bulan September 2015 dan diharapkan rampung pada bulan Agustus 2023.

Rekor MURI LRT Jabodebek

Proyek LRT Jabodebek merupakan salah satu proyek LRT yang mencuri perhatian publik karena PT Adhi Karya (Persero) Tbk, sebagai kontraktor Proyek LRT Jabodebek, berhasil meraih penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia atau MURI sebagai jembatan kereta boks beton lengkung dengan bentang terpanjang dengan hasil pembebanan axial static loading test terbesar. Jembatan lengkung yang terletak di persimpangan Jalan HR Rasuna Said Kuningan dan Jalan Gatot Subroto ini memiliki bentang sepanjang 148 meter dengan radius lengkung 115 meter yang dibangun menggunakan material beton seberat 9.688,8 ton dan memiliki pembebanan axial static loading test yang mengacu pada kriteria ASTM D1143 sebesar 4.400 ton menurut catatan rekor MURI pada 11 November 2019.

Pemilihan Desain Jembatan Lengkung LRT Jabodebek

Konstruksi yang terbentang di atas Jembatan Layang (flyover) Tol Dalam Kota yang berada di simpang Kuningan, Jakarta Selatan ini awalnya memiliki empat rancangan desain yang diusung, yaitu steel box girder dengan metode incremental launching (Prancis); cable stayed (Prancis); concrete box girder balanced cantilever dengan kolom di tengah (Prancis); dan concrete box girder balanced cantilever dengan bentang utama 148 meter (Indonesia). Dr. Ir. Avrilia Delitriana selaku insinyur lokal yang terlibat dalam perencanaan pelaksanaan konstruksi jembatan ini mempertimbangkan keberadaan struktur flyover Tol Dalam Kota di Simpang Kuningan dan underpass yang menghubungkan kawasan Mampang dan Kuningan. Hal tersebut menyebabkan pembuatan kolom tengah tidak mungkin diterapkan pada konstruksi jembatan ini. Dengan faktor tersebut, pada akhirnya dipilihlah desain milik Indonesia dalam menyelesaikan masalah ini. Tak hanya itu, desain milik Indonesia dinilai memiliki risiko kerusakan gempa yang minim dibandingkan desain lainnya.

Risiko Gempa pada Desain Jembatan Lengkung LRT Jabodebek

Analisis time history adalah metode yang dipilih untuk menganalisis guncangan gempa pada desain konstruksi LRT Jabodebek. Analisis ini berupa model matematik dari struktur berdasarkan pencatatan riwayat gempa. Gempa tiruan ini digunakan untuk menentukan respons struktur bangunan terhadap gerakan tanah akibat gempa. Gempa tiruan yang digunakan pada lengkung LRT Jabodetabek ini bersumber dari tujuh gempa yang pernah terjadi di dunia. Sumber gempa tersebut berasal dari Bigbear, Chile, Livermore, Michoacan, Miyagi, Sumatera Selatan, dan Tohoku. Dari tujuh sumber gempa tiruan tersebut, PGA (Peak Ground Acceleration) dicatat nilainya. PGA (Peak Ground Acceleration) adalah nilai percepatan tanah maksimum pada permukaan yang pernah terjadi di suatu wilayah dalam periode waktu tertentu akibat guncangan gempa bumi. Setelah nilai PGA dicatat, rata-rata PGA diambil dan dicocokan dengan mekanisme gempa yang terjadi di Jakarta melalui metode Square Root of the Sum of the Squares (SRSS). Karena PGA dari masing-masing gempa tiruan belum tentu terjadi pada waktu yang bersamaan, metode SRSS harus digunakan dalam analisis guncangan gempa ini.

Spesifikasi Jembatan Lengkung LRT Jabodebek

Pada LRT Jabodebek, desain U-Shaped Girder yang diadopsi dari Prancis milik PT Adhi Karya digunakan pada hampir seluruh proyek LRT Jabodebek karena keuntungan estetika, struktural, polusi suara, biaya, dan waktu. Akan tetapi, tipe box girder—dengan spesifikasi radius lengkung 115 meter, panjang bentang 148 meter, dan berat material beton 9.688,8 ton dengan metode cor di tempat (cast-in-situ)—merupakan tipe yang digunakan pada Jembatan Lengkung. Spesifikasinya telah telah disetujui oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono. Alasan mengapa pada lengkung tersebut digunakan tipe box girder dan bukan tipe U-Shaped Girder adalah karena tipe box girder mampu membentang lebih panjang dibandingkan tipe U-Shaped Girder. Umumnya, U-Shaped Girder mampu membentang dengan panjang mencapai 30 meter, sedangkan box girder mampu membentang sepanjang 148 meter. Hal tersebut yang menjadikan tipe box girder cocok digunakan pada jembatan lengkung ini. Box girder yang digunakan pada jembatan lengkung ini berbentuk balok dengan penampang yang berbentuk trapesium. Box girder ini terletak di antara dua penyangga berupa pier ataupun abutment pada suatu jembatan yang berfungsi sebagai penyalur beban yang berada di atas girder ke bagian struktur di bawahnya. Pemilihan profil box girder yang membentang sepanjang 148 meter ini dinilai mampu memberikan keindahan pada kota.

Metode Konstruksi

Dalam buku yang berjudul The Design of Prestressed Concrete Bridges (2008) karya Robert Benaim, terdapat tujuh metode pemasangan girder pada konstruksi jembatan. Metode tersebut adalah cast-in-situ span-by-span construction of continuous beam, precast segmental span-by-span erection, cast-in-situ balanced cantilever construction, precast segmental balanced cantilever construction, progressive erection of precast segmental decks, incremental launching, dan prefabrication of complete spans. Di antara tujuh metode tersebut, metode balanced cantilever dititikberatkan dalam pembangunan jembatan lengkung LRT Jabodebek. Metode balanced cantilever memanfaatkan efek keseimbangan dari beban jembatan itu sendiri sehingga struktur dapat berdiri sendiri tanpa menggunakan sokongan lain seperti perancah (formwork). Metode ini tepat digunakan, mengingat penggunaan tiang perancah akan menyulitkan situasi lalu lintas yang beroperasi di bawah konstruksi jembatan lengkung. Meninjau tujuh metode yang disebutkan di atas, terdapat dua metode yang menggunakan konsep balanced cantilever. Namun, perbedaannya keduanya terletak pada teknik pengecoran yang digunakan (cast-in-situ atau precast segmental). Teknik cast-in-situ adalah teknik pengerjaan pengecoran yang dilakukan langsung di lokasi pembangunan, sedangkan precast segmental merupakan pengecoran/produksi beton di luar kawasan pembangunan sehingga nantinya beton tersebut dapat langsung dipasang. Pada jembatan lengkung LRT Jabodebek, teknik cast-in-situ dengan metode balanced cantilever digunakan untuk membangun jembatan lengkung yang terletak di antara Stasiun LRT Kuningan dan Stasiun LRT Pancoran. Apabila diteliti lebih lanjut, metode two form travelers dipilih dalam pembangunan jembatan lengkung ini. Metode two form travelers berbeda dengan metode one form travelers. Perbedaannya terdapat pada jumlah traveler (alat pembentuk kantilever) yang digunakan pada balanced cantilever dengan menggunakan teknik cast-in-situ.

Tahapan Konstruksi

Tahapan konstruksi dimulai dengan pengerjaan konstruksi fondasi. Pekerjaan ini dilakukan dengan menuangkan beton yang telah dibuat ke permukaan tanah dengan ketebalan tertentu. Tahapan selanjutnya adalah instalasi shoring. Shoring merupakan rangkaian perancah (scaffolding) antara struktur pier sebagai penyangga box girder. Setelah shoring dipasang, sensor dipasang. Sensor berfungsi untuk mengontrol defleksi (perubahan bentuk pada balok vertikal) yang terjadi pada shoring dan formwork ketika pengujian beban pada shoring atau pekerjaan pengecoran dilakukan. Setelah sensor tersebut berhasil terpasang, formwork atau bekisting (cetakan tempat beton basah dituang) dipasang, kemudian tim akan menandai formwork box girder. Setelah itu, pekerjaan konstruksi siap berlanjut pada tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya, yakni menguji beban pada shoring yang kemudian dilakukan launching traveler. Setelah itu, batangan besi dan bearing dipasang dan pengecoran dilakukan. Bearing adalah perangkat struktural yang dipasang untuk meneruskan beban seperti gempa, angin, dan lalu lintas. Selanjutnya, stressing dilakukan setelah beton berumur sekitar empat hari agar segmen tetap tertahan di tempatnya. Tahapan stressing dapat dilihat pada gambar di atas. Tahapan terakhir adalah mendorong maju traveler ke segmen berikutnya sampai terjadi pengulangan sebanyak tujuh belas segmen dan konstruksi jembatan lengkung LRT Jabodebek selesai.

Kondisi Khusus Jembatan Lengkung LRT Jabodebek

Jembatan lengkung LRT termasuk ke dalam kategori irregular bridge atau jembatan yang tidak biasa karena terdapat kondisi-kondisi khusus. Kondisi khusus tersebut adalah unbalanced stiffness (kekakuan yang tidak seimbang), torsi yang besar, dan hold down device. Unbalanced stiffness terjadi ketika pier memiliki ketinggian yang berbeda sehingga kekakuan yang dihasilkan juga berbeda pula. Selain itu, efek torsi yang besar terjadi akibat desain dengan radius yang kecil. Namun, hal ini dimitigasi dengan menambahkan vertical prestressed tendon pada pier. Tak hanya itu, hold down device berupa stress bar (baja prategang jenis batang) ditambahkan untuk menahan tarikan akibat kombinasi beban gempa.

Di luar kondisi khusus tersebut, terdapat isu yang bertebaran mengenai jembatan lengkung LRT yang mengalami salah desain. Dilansir dari laman kompas.com, Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, S.E., M.B.A. mengatakan bahwa desain dari jembatan lengkung menyebabkan kecepatan kereta melambat karena radius lengkung yang kurang lebar. 

“Jadi sekarang kalau belok harus pelan sekali, karena harusnya itu lebih lebar tikungannya,” ujar Wakil Menteri BUMN yang dilantik pada 25 Oktober 2019 silam.

Di luar dari kondisi khusus dan isu-isu tersebut, jembatan lengkung LRT karya anak bangsa ini patut diapresiasi. Lantaran, bukan hanya sebagai rancangan anak bangsa semata, melainkan sebagai ciri khas atau landmark bagi para penumpang dan wisatawan yang turut menggunakan transportasi LRT itu sendiri.

Data oleh Sharfina Putri Nurul Shadrina

Tulisan oleh Sebastian Sanjaya

Ilustrasi oleh Shafa As Syifa Listyoutri

Artikel Terkait