Beranda Berita Career Path Engineers Antisipasi Lost Navigation dan Kesiapan di Dunia Kerja

Career Path Engineers Antisipasi Lost Navigation dan Kesiapan di Dunia Kerja

oleh Redaksi

Rangkaian Dies Natalis Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada ke-64 masih terus berlanjut. Seminar “Professional Career Studium Generale Series” ke-3 telah dilaksanakan pada hari Sabtu (23/09). Perbedaan paling fundamental dari dua seminar sebelumnya terdapat pada lokasi pelaksanaan dan fokus diskusi. Berlokasi di Auditorium Pascasarjana UGM,  “Forging Your Future in Engineering and Constructions” diangkat sebagai subtema. Seminar ini dibawakan oleh dua narasumber di bidang konstruksi sekaligus bagian dari Keluarga Alumni Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (KAMIGAMA), yaitu Iwan Febrianto angkatan 2003 dan Sudarsono angkatan 1986.

Menurut penuturan Kepala Prodi Teknik Mesin Muslim Mahardika, di masa depan dengan tantangan yang semakin sulit, calon engineers pasti akan menghadapi rintangan dalam menentukan tujuan karir. Pengalaman yang telah lebih dulu dialami oleh para alumni diharapkan dapat menjadi kompas bagi para mahasiswa, khususnya mahasiswa teknik mesin agar tidak lost navigation selama proses pemilihan karir. Oleh karena itu, tujuan pada seminar kali ini adalah berbagi kiat dan ilmu kepada audiens terkait career path yang akan mereka tuju di masa depan.

“A Commitment to Support Factory Reliability” merupakan topik diskusi oleh Iwan Febrianto, Senior Vice Project Rendal Har PT Petrokimia Gresik. Petrokimia Gresik merupakan anak perusahaan Pupuk Indonesia milik BUMN yang menjadi penghasil pupuk dan produk kimia lainnya untuk solusi agroindustri. Peran engineers dengan background teknik mesin berada pada desain peralatan khusus petrokimia. Selain itu, kontribusi yang diberikan oleh engineers bukan hanya dalam pengembangan teknologi, tetapi dapat membantu negara dalam ketahanan pangan. 

Menurut Iwan, terdapat empat fungsi utama engineers di PT Petrokimia Gresik, yaitu operation, rendal har, executor, dan engineering. Rendal har atau pemeliharaan memiliki lima posisi utama, yaitu inspeksi statik atau melakukan pemeriksaan dan memberi action plan pada peralatan statik serta pengaruhnya pada pemilihan bahan baku. Posisi lainnya adalah inspeksi rotating yang berkaitan dengan analisa kegagalan. Selain itu, juga mencakup perencanaan strategi pemeliharaan, reliability terkait keandalan pabrik, dan perencanaan TA atau inspeksi besar.

“Bagaimana mengatur antara pekerjaan dan ekstrakurikuler harus balance. Semakin banyak kepala yang kita handle, semakin banyak ide yang diminta,” tutur Iwan.

Selain aktif dalam dunia profesional, career path dapat dikembangkan pada pekerjaan nonprofesional lainnya. Hal ini akan memberikan dampak baik pada kemampuan engineers dalam hal kepemimpinan. Dunia pekerjaan akan terus mengutamakan output sebagai bentuk pencapaian, tetapi proses di balik itu tetap menjadi hal yang penting. Sebelum menutup pemaparannya, Iwan berpesan kepada calon engineers, ketika masuk ke dunia kerja, jangan pernah menolak pekerjaan dan berikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan.

“Tripatra merupakan EPC swasta terbesar di Indonesia,” kata Sudarsono membuka diskusi.

Engineering, procurement, construction (EPC) merupakan suatu sistem manajemen untuk proses desain atau perencanaan. Selain itu, perencanaan juga memiliki tanggung jawab untuk pengadaan material dan pelaksanaan konstruksi yang dirancang sebelumnya. Proyek EPC memiliki keuntungan dalam waktu dan keuangan yang lebih fleksibel dan pasti. Fokus proyek EPC bagi mechanical engineers terdapat pada perancangan perpipaan dan hal-hal teknis lainnya. Sedangkan dari segi proses, lebih banyak ke sektor kimia dan sipil.

Perusahaan EPC memiliki tipikal susunan kelembagaannya sendiri, meliputi project manager, project control manager, cost control manager, dan project services. Terdapat tiga elemen yang mendukung perusahaan EPC, yaitu engineering manager, procurement manager, dan construction manager. Engineers berperan dalam penyusunan alur perancangan awal desain produk atau process flow diagram (PFD) dan instrumen yang mendukung perancangan atau process instrument diagram (P&ID). 

Saat pelaksanaan proyek, khususnya di lapangan, terdapat tiga kendala umum yang dialami perusahaan. Tiga kendala tersebut adalah time, cost, dan scope. Ketiga unsur ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Jika timeline tidak bisa diubah, cost atau scope-nya yang harus diubah dan begitu seterusnya. Segitiga constraint ini memberikan pengaruh terhadap kualitas produk ataupun jasa yang diberikan oleh perusahaan. Lebih dari 80% proyek migas mengalami delay sehingga berimplikasi pada kerugian besar terhadap kontraktor dan pemilik usaha. Hal ini diyakini oleh Sudarsono sebagai kegagalan dalam mengendalikan segitiga constraint tersebut.

Selain itu, terdapat beberapa hal krusial yang harus diperhatikan oleh engineers ketika terjun ke dalam suatu proyek. Mulai dari perancangan awal oleh vendor, fabrikasi tepat waktu, approvement antara klien dan kontraktor, tahap pengiriman, hingga fase konstruksi. Sayangnya, kondisi Indonesia saat ini belum bisa merancang sistem mekanisnya sendiri sehingga masih bergantung pada pengadaan luar negeri. Hal ini tentu membuka peluang bagi calon engineers untuk belajar ke luar negeri. 

“Belajar itu penting. Komunikasi, berorganisasi, mengasah leadership itu juga amat sangat penting,” terang Sudarsono.

Seluruh tahapan pekerjaan rekayasa membutuhkan kerja sama dan komunikasi yang baik dari seluruh unsur di dalam perusahaan. Memimpin membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik terlebih pada proyek EPC yang mempekerjakan ribuan orang. Belajar di luar akademik menjadi wadah utama untuk mengasah leadership menuju karir yang cemerlang. Di akhir penuturannya, Sudarsono berpesan kepada calon engineers untuk tidak merasa rendah diri dan harus memiliki kebanggaan terhadap pekerjaan ataupun proyek yang telah dikerjakan di masa depan nantinya.


Seminar dilanjutkan dengan membuka sesi tanya jawab. Terdapat beberapa pertanyaan menarik yang diajukan oleh audiens. Pertanyaan teknis terkait tanggapan Petrokimia terhadap tantangan net zero emission, seperti diskusi pada seminar sebelumnya. Petrokimia menjawab dengan memaparkan strategi mereka berupa program blue ammonia, penggunaan listrik yang ramah lingkungan, menjaga lingkungan sekitar pabrik, dan langkah strategis untuk investasi sebanyak 90 miliar dalam pengolahan limbah.

Antusias audiens tidak berhenti sampai di situ, terdapat pertanyaan nonteknis yang menyinggung kepemimpinan dari dua narasumber terhadap pegawai dengan umur yang lebih senior. Iwan menanggapi dengan membawa kasus khusus, pegawai lebih senior memerlukan adanya pendekatan personal dan respect terhadap orang lain, tetapi tetap menjaga batasan antara atasan dan pegawai. Sedangkan menurut Sudarsono, kasus tersebut dapat diatasi dengan adanya kolaborasi antartim. 

Kegiatan ditutup dengan closing statement dari kedua narasumber. 

“Harus punya keyakinan dan kebanggaan masuk teknik, khususnya Teknik Mesin UGM. Karena secara kompetensi, kita mampu, tetapi sering merasa minder. Di teknik mesin, semua basic yang diperlukan di industri ada. Jadi, harus yakin bahwa masa depan kita cerah,”

tutur Sudarsono.

“Jangan takut dalam berpendapat. Jangan mudah menyerah. Apa yang akan dihadapkan di depan pasti lebih berat. Harus adaptif, di mana pun berada harus selalu berusaha maksimal, karena hasil tidak akan mengkhianati usaha yang maksimal,”

tutup Iwan.

Tulisan oleh Dwi Gustiara

Data oleh Sharfina Putri Nurul Shadrina

Dokumentasi oleh Ridwan Firmansyah

Tim Liputan Clapeyron (Tiara, Fina, Ridwan)

Artikel Terkait