Beranda Artikel Penyambung Transportasi Udara di Barat Daya Jawa Timur

Penyambung Transportasi Udara di Barat Daya Jawa Timur

oleh Redaksi

Seperti yang kita ketahui, bandar udara atau lebih populer disebut dengan bandara merupakan kawasan yang berada di daratan atau perairan dengan fungsi sebagai tempat pesawat untuk lepas landas dan mendarat. Tak hanya itu, bandara juga bisa digunakan sebagai tempat naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan  antarmoda. Baru-baru ini, telah dibangun bandara baru bernama Bandara Internasional Dhoho Kediri yang berlokasi di Kabupaten Kediri.

Mengenal Lebih Dekat Bandara Dhoho Kediri

Nama Dhoho diambil dari kata “Daha” yang merupakan kota kuno di pusat Kerajaan Kediri dan Kerajaan Majapahit. Bandar Udara Internasional Dhoho Kediri merupakan proyek kerja sama antara pemerintah dan badan usaha (KPBU),  PT Surya Dhoho Investama—yang merupakan anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk. —dan akan dioperasikan oleh Angkasa Pura l. PT Gudang Garam tbk. adalah perusahaan rokok terbesar keenam di Indonesia yang merupakan badan usaha yang memprakarsai pembangunan proyek ini dengan skema KPBU yang ditandatangani oleh presdir PT Surya Dhoho Investama dan Plt Dirjen Perhubungan Udara. Pembangunan Bandara ini memiliki sifat unsolicited yang berarti bahwa proyek ini diprakarsai dan diusulkan pembangunannya oleh badan usaha, bukan dari pemerintah. Sehingga, pembangunan bandara ini menggunakan biaya murni dari swasta tanpa adanya bantuan dana dari APBN.

Bandara ini melayani beberapa kota di wilayah barat daya Jawa Timur seperti Kabupaten-Kota Kediri, Tulungagung, Ngawi, Nganjuk, Kabupaten-Kota Blitar, dan Kabupaten-Kota Madiun. Dipilihnya Kabupaten Kediri sebagai lokasi dibangunnya Bandara Dhoho adalah karena lokasinya yang dinilai strategis. Kabupaten Kediri berdekatan dengan sejumlah daerah lain yaitu, Kota Kediri, Kabupaten/Kota Blitar, Kabupaten Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, dan Kota/Kabupaten Madiun.

Perjalanan Pembangunan Bandara Dhoho Kediri

Bandara Internasional Dhoho Kediri  lebih kurang memiliki luas 400 hektare yang melibatkan tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Grogol, Tarokan, dan Banyakan. Bandara Internasional ini memiliki panjang runway atau landasan pacu 3.300 meter dengan lebar 60 meter. Bandara Dhoho termasuk dalam bandara dengan runway terpanjang kelima di Indonesia. Dengan ukuran runway tersebut, bandara ini dapat menampung pesawat besar seperti Boeing 777-300ER. Terdapat fasilitas apron komersial berukuran panjang 548 meter dan lebar 141 meter, apron VIP berukuran 221 meter dan lebar 97 meter, 4 taxiways, dan lahan parkir seluas 37.108 meter persegi.  

Pada sisi darat bandara, terdapat terminal penumpang seluas 18.000 meter persegi dengan kapasitas 1,5 juta penumpang per tahun. Kapasitas penumpang akan mengalami peningkatan bertahap dengan tahap I (2023) berjumlah 1,5 juta penumpang per tahun, tahap II sebanyak 4,5 juta penumpang per tahun, dan tahap III dapat melonjak hingga 10 juta penumpang per tahun.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprioritaskan penyelesaian pembangunan Bandara Dhoho sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) pada tahun 2024. Konstruksi pembangunan bandara ini telah rampung 100 persen dan telah selesai pula proses kalibrasinya. Kalibrasi merupakan tahap awal dari penilaian bandara—meliputi pengujian akurasi, jangkauan, parameter kinerja pelayanan, dan fasilitas—yang dilakukan dengan cara menggunakan peralatan uji yang terpasang di pesawat. Dilanjutkan dengan sejumlah penilaian lain yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan penerbangan. Tahap akhir yang harus dilakukan sebelum pengoperasian adalah melakukan tes take off dan landing beberapa pesawat untuk mengetahui bahwa bandara layak dioperasikan

PT Gudang Garam tbk. mengeluarkan dana investasi kepada Bandara Dhoho Kediri sebesar Rp 10,8 triliun yang dibagi dalam beberapa tahap investasi, yaitu tahap pertama Rp 6,6 triliun, tahap kedua 1,2 triliun, dan tahap terakhir Rp 3 triliun. Bandara ini memiliki masa pembangunan selama 5 tahun mulai dari awal pembebasan lahan. Pada saat pengoperasiannya nanti, bandara ini berkolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga yang akan memberikan supply avtur pada pesawat. Hingga saat ini, telah terkonfirmasi lima maskapai yang akan beroperasi di bandara ini— yang terdiri dari maskapai Super Air Jet, Lion, Batik Air, Sriwijaya Air, dan City Link.

Hal Positif Dibangunnya Bandara Dhoho Kediri

Selain memberikan layanan jasa transportasi udara dan layanan haji umroh, Bandara Dhoho juga memfasilitasi penumpang dengan konektivitasnya terhadap kereta cepat Jakarta-Surabaya. Akan dibangun pula jalan bebas hambatan, yaitu tol Kediri-Tulungagung, Kediri-Kertosono, ruas Banyakan-Tiron, serta Jembatan Jongbiru yang meningkatkan konektivitas menuju Bandara Dhoho. Dari segi ekonomi, Bandara Dhoho mendukung peningkatan taraf perekonomian dengan menyediakan tiga stan yang dapat digunakan untuk 60 UMKM di Kediri. Kehadiran Bandara ini diharapkan mampu meningkatkan tumbuhnya titik ekonomi baru, pariwisata, dan perdagangan.

Dampak dan Tantangan Pembangunan Bandara Dhoho

Terdapat beberapa permasalahan yang timbul pada saat pembangunan Bandara Dhoho Kediri  Permasalahan pertama adalah bandara ini memicu masalah pengendalian banjir karena di kawasan terminal Bandara Dhoho terdapat lima buah sungai. Permasalahan kedua berkaitan erat dengan permasalahan pertama, terjadi ketika penanganan sungai tidak dilakukan dengan baik, maka dapat menimbulkan masalah banjir pada hilir sungai. Permasalahan ketiga muncul setelah peresmian, bandara terpadu ini nantinya akan meningkatkan volume kendaraan hingga 50%. Ketika kontruksi tidak disertai dengan perancangan pembangunan yang tepat, kenaikan volume kendaraan akan menimbulkan masalah kemacetan. Tak hanya pengoperasian bandara saja, masalah juga dirasakan oleh warga yang harus dipindahkan ke permukiman baru karena terdampak proyek bandara. Permukiman baru ini belum dialiri listrik dari PLN yang menyebabkan warga kesulitan untuk beraktivitas. Warga permukiman ini mengandalkan alternatif pengganti listrik berupa genset dan baterai untuk mendapatkan penerangan. Sampai saat ini, belum ada titik terang dari PLN tentang masalah tersebut.

Sempat terjadi beberapa kendala selama pembangunan, di antaranya adalah gugatan warga pemilik lahan terdampak yang ditujukan pada PT Gudang Garam Tbk. dan Kantor Pertanahan Kabupaten Kediri. Hal ini terjadi karena harga yang ditawarkan untuk membeli tanah oleh PT Gudang Garam Tbk. kepada warga berada dibawah harga standar dan dianggap tidak layak. Terjadi pula ketidakjelasan dalam proses pembelian sehingga pada akhirnya warga bersikeras membawa ini ke pengadilan karena tidak ingin melepaskan tanahnya cuma-cuma. Oleh sebab itu, masalah ini menjadi pertimbangan warga karena mereka telah mengorbankan tempat tinggal dan mata pencahariannya.

Data oleh Farrel Todotua Tarihoran

Tulisan oleh Haniifah Multivana

Ilustrasi oleh Lucent Hilmy

Artikel Terkait