Perlindungan Habitat Satwa di Tengah Konstruksi Jalan Tol IKN

Dalam pembangunan infrastruktur, penting bagi pihak perencana dan pelaksana untuk memperhatikan keberlanjutan lingkungan yang ada di sekitar kawasan konstruksi. Begitu halnya dengan megaproyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dibangun di kawasan hutan Kalimantan. Tak hanya membuka lahan untuk daerah ibu kota yang baru, akses menuju kawasan tersebut juga harus diperhatikan guna mendukung konektivitas. Salah satu akses jalan yang mendukung adalah Jalan Tol IKN Seksi 3B-2 yang dilaksanakan secara Kerja Sama Operasi (KSO) antara beberapa penyedia jasa, yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WASKITA), PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JAKON), dan PT PP (Persero) Tbk. Jalan tol seksi ini merupakan salah satu dari beberapa seksi jalan tol yang akan menghubungkan Kota Balikpapan dengan IKN. Pada proyek jalan tol ini, telah dibangun ikon keberlanjutan habitat satwa Kalimantan di tengah pembukaan lahan untuk proyek konstruksi, yaitu Jembatan Satwa Cut and Cover pertama di Indonesia.

Jembatan Satwa ini disebut sebagai cut and cover karena metode konstruksi yang digunakan. Sebelumnya, titik lokasi pembangunan yang direncanakan telah digali untuk keperluan pembuatan main road. Akhirnya, lokasi tersebut harus ditimbun kembali untuk pembangunan jembatan sehingga disebut sebagai cut and cover. Jembatan satwa dengan lebar 15 meter membentang di 2 titik, yaitu di STA 8+325 dan 10+025 pada Proyek Tol IKN Seksi 3B-2; Segmen KKT Kariangau–SP Tempadung, Kalimantan Timur. Jembatan ini dibangun sebagai bentuk komitmen pembangunan IKN untuk tetap mempertahankan habitat satwa liar serta lingkungan hutan di Kalimantan. Irfan Wafi Rahmawan selaku Engineer Proyek Tol IKN Seksi 3B-2 mengatakan bahwa pembangunan di IKN ini sangat masif dan lokasi yang digunakan sebagai lahan konstruksi awalnya adalah hutan, bahkan beberapa merupakan hutan lindung. “Kita tahu bahwa jalan proyek pembangunan jalan tol ini melewati hutan lindung sehingga concern kita, sebisa mungkin pembangunan jalan tol ini tidak mengganggu bahkan menghilangkan habitat satwa endemik di sini,” singgungnya.

Latar Belakang Usulan Jembatan Satwa

Inisiasi pembangunan Jembatan Satwa didasarkan pada data kolektif Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Balai KSDA) Kalimantan Timur yang menyatakan bahwa ada banyak koridor satwa yang melewati proyek Jalan Tol Balikpapan–IKN. Koridor satwa yang khususnya melewati Proyek Tol IKN Seksi 3B-2 adalah koridor satwa orang utan, macan dahan, beruang madu, dan bekantan. Berkaitan dengan hal tersebut, Kelompok Kerja Pesisir yang bekerja untuk isu lingkungan hidup menyampaikan keperluan untuk mengakomodir koridor satwa dalam pekerjaan proyek Jalan Tol IKN. Kelompok Kerja Pesisir lalu bersurat kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Republik Indonesia. Dari situ, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui UPT BKSDA menyetujui upaya pelestarian keanekaragaman hayati di IKN sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 yaitu mendukung keberlanjutan habitat satwa liar dan kawasan yang mempunyai nilai keanekaragaman hayati tinggi dalam pembangunan infrastruktur. Selanjutnya, Balai KSDA Kalimantan Timur melakukan koordinasi dengan Balai Besar Pelaksana Pembangunan Jalan Nasional Kalimantan Timur. Surat ini kemudian direspon oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kala itu, Basuki Hadimuljono. Maka, terbitlah usulan Jembatan Satwa yang secara khusus berada di proyek Jalan Tol IKN Seksi 3B-2.

Kekhususan Jembatan Satwa Proyek Tol IKN Seksi 3B-2

Koridor perlintasan satwa memang diupayakan sebagai area lindung dan konservasi yang perlu dikoordinasikan dengan Pemerintah Kota Balikpapan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pelaksanaan (WIKA-WASKITA-JAKON-PP) telah membuat nota kesepakatan bersama dengan PPK Perencanaan, Balai KSDA, KLHK, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat sekitar yang diwakili oleh kepala desa. Bahwasanya di area Jembatan Satwa tidak boleh dijadikan atau digunakan untuk keperluan komersial atau penggunaan lain, seperti jalan pintas menuju daerah seberang. Kesepakatan tersebut didukung dengan beberapa penyesuaian desain, yaitu jenis tanaman yang ditanam bukan merupakan pohon sumber makanan satwa sehingga mengurangi risiko satwa berkumpul dan melompat ke area main road. Jenis tanaman tersebut adalah semak perdu, pucuk merah, vetiver atau akar wangi, bungur, salam, sungkai, dan sejenis bambu-bambuan. Tanaman tersebut dipilih karena memungkinkan ditanam di tanah timbunan dan berakar serabut atau tunggang yang sifatnya tidak merusak struktur jembatan. Penempatan titik-titik tanaman pun diupayakan secara zig-zag atau acak supaya kendaraan tidak bisa lewat di atas Jembatan Satwa. 

Jembatan ini juga dilengkapi dengan pagar pengaman agar satwa tidak masuk ke area jalan tol untuk keselamatan satwa dan pengguna jalan. Pagar yang digunakan merupakan panel dua lapis dengan tinggi dua meter yang sisi dalamnya rata sehingga orang utan dan bekantan tidak bisa memanjat, sedangkan bagian luarnya diperindah dengan ukiran (panel perforated). Apabila tinggi pagar lebih dari dua meter akan berisiko kurang aman dari segi struktural karena lokasi proyek yang berada di dekat laut maka ada pengaruh beban angin yang cukup besar. Sebagai upaya untuk memperkaku pagar jembatan, digunakan sloof melintang di antara kedua pagar. 

Pada awal penentuan lokasi untuk jembatan satwa, terdapat perubahan titik lokasi dari STA 11+375 dan 7+450 menjadi STA 8+325 dan 10+025 setelah melakukan tinjauan lokasi dan memperhatikan titik koridor satwa. Awalnya juga terdapat dua usulan terkait jenis jembatan satwa, yaitu portal girder dan arch slab cut and cover. Akan tetapi, dari Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN), Balai KSDA, Yayasan PRO NATURA, dan LSM lain setuju untuk menggunakan desain arch slab karena bentuknya yang menyerupai alam. Selain itu, dilakukan perubahan ketinggian tanah timbunan menjadi hanya 2–3 m karena Corrugated Steel Plate (CSP) yang digunakan lebih tipis dari desain akibat kesulitan pengadaan sesuai tebal rencana. Akhirnya, tebal CSP disesuaikan dengan ukuran pasaran di Indonesia yaitu tebal 8 mm dan tanah timbunan tidak bisa setinggi rencana. Dikarenakan struktur CSP yang lebih tipis tidak akan kuat untuk menahan beban tanah timbunan. 

Tantangan Konstruksi Jembatan Satwa

Selama proses konstruksi, pembangunan Jembatan Satwa ini dihadapkan pada berbagai tantangan. Pertama, Jembatan Satwa ini merupakan Jembatan Satwa pertama di Indonesia yang berstruktur cut and cover. Jadi ini merupakan tantangan tersendiri dari proses perencanaan hingga pelaksanaan. Kedua, terdapat banyak perubahan desain karena setelah dievaluasi dari sisi engineering, struktur jembatan tidak bisa langsung ditimbun penuh oleh timbunan tanah. Oleh karena itu, diputuskan bahwa setelah struktur arch slab diberikan timbunan mortar busa terlebih dahulu baru timbunan tanah. Ketiga, terkait dengan birokrasi, yaitu prosedur persetujuan yang panjang apabila terjadi perubahan desain. 

Harapan Keberlanjutan Jembatan Satwa

Hingga akhir bulan Januari, progres pembangunan Jembatan Satwa telah mencapai 95% dan ditargetkan selesai pada bulan Februari. Dengan adanya jembatan ini, berbagai pihak yang terlibat telah mengupayakan yang terbaik untuk pelestarian satwa endemik di area Tol IKN. Semoga Jembatan Satwa ini bisa memaksimalkan fungsi awalnya dan adanya jalan tol tidak mengganggu bahkan merusak habitat satwa endemik yang ada, khususnya di area Hutan Lindung Sungai Wein. “Selain kita melakukan atau membangun konstruksi di IKN, kita juga harus bisa menjaga keberlanjutan atau keberlangsungan dari habitat satwa. Jadi kita harus sustainable!” ujar Irfan Wafi, Engineer Proyek Tol IKN 3B-2.

Tulisan oleh Portia Puteri Aditama

Data oleh Portia Puteri Aditama

Layout oleh Grace Marta Sepgiani Simanjuntak