
Sumber daya air (SDA) memiliki peran fundamental dalam keberlangsungan kehidupan dan pembangunan berkelanjutan. Perannya tidak terbatas sebagai kebutuhan dasar manusia, tetapi juga berkaitan erat dengan pemenuhan pangan, penyediaan energi, serta kelestarian lingkungan. Hubungan yang saling bergantung antarsektor tersebut kemudian dikenal melalui konsep water-energy-food-environment nexus, yang melihat pengelolaan air sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sektor-sektor lainnya.
Urgensi pendekatan tersebut semakin terlihat di tengah berbagai tekanan terhadap ketersediaan dan pengelolaan SDA. Permasalahan di sektor air dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ketahanan pangan, pemenuhan kebutuhan energi, hingga keberlanjutan lingkungan. Oleh sebab itu, pengelolaan SDA membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, dengan membangun sinergi antara ketahanan air, swasembada pangan, energi, dan aspek keberlanjutan.
Gagasan tersebut menjadi dasar diangkatnya tema “Pengelolaan Cerdas Interkoneksi Air, Pangan, Energi, dan Lingkungan Menuju Kemandirian dan Kesejahteraan Nasional” dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-43 Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI). Digelar di Yogyakarta pada 4–5 September 2026, PIT ke-43 HATHI menjadi ruang bagi berbagai pemangku kepentingan untuk mempertemukan gagasan, hasil penelitian, serta pengalaman di lapangan dalam bidang sumber daya air.
Secara umum HATHI memang lekat dibidang teknik hidraulik. Namun cakupan pembahasannya sejatinya mencakup seluruh sub-peminatan dalam bidang keahlian sumber daya air. Dalam rangkaian kegiatan PIT ke-43, HATHI membuka kesempatan bagi akademisi, praktisi, maupun komunitas untuk bisa menuangkan inovasi yang mereka punya dalam bentuk paper ilmiah. Paper yang masuk kemudian disaring dan dikelompokkan ke dalam sejumlah subtema untuk dibahas dalam sesi-sesi yang lebih spesifik. “Tema utama tadi di breakdown dan dibahas menjadi beberapa subtema. Mungkin tidak langsung empat isu dibahas dalam satu pertemuan, tetapi harapannya dari masing-masing puzzle bisa saling melengkapi, menyambung ke konsep water-energy-food-environment nexus.” Neil Andika (Sekretaris HATHI cabang DIY).
Menariknya, gagasan yang hadir dalam PIT ke-43 HATHI tidak hanya berasal dari kalangan akademisi. Sejumlah paper disusun berdasarkan observasi maupun penelitian langsung di lapangan sehingga turut menghadirkan perspektif praktisi. Keberagaman tersebut membuat forum tidak hanya menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi wadah untuk saling memberikan masukan terhadap inovasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Pembahasan mengenai ketahanan air dalam PIT juga bersinggungan dengan persoalan yang tengah dihadapi di lapangan, termasuk kondisi kekeringan dan menyusutnya debit sungai. Meskipun tidak secara khusus terdapat subtema yang membahas kekeringan, isu tersebut dapat dikaitkan dengan sejumlah pembahasan seperti neraca air, tekanan air tanah, serta analisis dan mitigasi bencana. Subtema-subtema tersebut dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan solusi terhadap persoalan kekeringan.
Ke depan, Neil Andika berharap penyelenggaraan PIT HATHI dapat menghadirkan lebih banyak paper dengan topik yang semakin beragam, serta melibatkan lebih banyak akademisi dan mahasiswa. Menurutnya, keterlibatan yang lebih luas dapat membuka ruang pertukaran gagasan dan jejaring secara langsung. Harapan tersebut menjadi penting di tengah berbagai persoalan SDA yang semakin kompleks. Pengelolaan air pada akhirnya tidak hanya membutuhkan jawaban dari sisi teknis, tetapi juga kemampuan untuk mempertemukan berbagai kepentingan dan memastikan solusi yang dihasilkan dapat diterima serta diterapkan oleh masyarakat.
Data dan Tulisan oleh Firas Firlyal Bachrudin dan Muhammad Irfan Zaky Azzurri
Dokumentasi oleh Muhammad Nafi Faiz Farras dan Gabriel Hovan
Tim Liputan (Firas, Irfan, Farras dan Hovan)
