
Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau dan wilayah laut yang luas, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor wisata bahari. Letaknya yang berada pada jalur pelayaran dan yachting internasional juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berpeluang menjadi tujuan marina dan wisata yacht di kawasan Asia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh infrastruktur, regulasi, dan ekosistem marina yang memadai. Melihat kondisi tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama SF Marina Indonesia menyelenggarakan International Workshop Marina Design for Indonesia pada 9–10 September 2026 di Gedung SIMT ITS, Surabaya. Kegiatan workshop ini mempertemukan akademisi, pemerintah, praktisi, pelaku industri, konsultan, asosiasi pelabuhan, hingga mahasiswa untuk berdiskusi bersama mengenai pengembangan marina dari berbagai perspektif yang berbeda.
Workshop diawali dengan pemaparan mengenai kondisi dan potensi pembangunan marina di Indonesia. Dalam sesi bertajuk Marina Design Guidelines and Legal Aspects in Indonesia, Ir. Rahman Hidayat, S.T., M.Eng., Dr.-Eng., IPU., ASEAN Eng., PU SDA, Chairman PIANC Indonesia, menjelaskan bahwa pembangunan marina membutuhkan perpaduan antara desain yang tepat, perizinan yang jelas, dan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Beliau juga memperkenalkan berbagai tipe marina, aspek pengendalian arus dan gelombang, serta bagaimana merancang sebuah marina. Dalam perancangannya, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti penggunaan struktur yang fleksibel, penerapan konsep eco marina, serta kesiapan suatu marina untuk dapat melayani kapal yacht berukuran besar atau superyacht.
Sesi diskusi kemudian berlanjut pada aspek regulasi dan perkembangan kapal rekreasi. Krisnan Kusmara Kudumaatmadja dari Community for Maritime Studies Indonesia (CMSI), melalui materi Yachting & Boat Regulation, memaparkan perbedaan antara boat, recreational boat, yacht, dan ship. Beliau menjelaskan perkembangan teknologi kapal, kebutuhan registrasi dan identitas kebangsaan kapal, serta berbagai persoalan regulasi, pajak, impor, dan bea masuk kapal wisata. Materi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan industri yacht tidak hanya membutuhkan fasilitas fisik, tetapi juga sistem regulasi yang mampu mendukung kegiatan rekreasi dan pariwisata laut.
Pengembangan marina tentu memerlukan aspek teknis yang baik, berupa komponen-komponen teknis. Dalam materi Marina Components dan Marina Design Criteria, Peter Santesson, Southeast Asia Area Manager SF Marina, memberikan beberapa materi mengenai komponen dan kriteria desain marina. Beliau memperkenalkan berbagai komponen seperti gangway, floating pontoon, sistem pile anchoring, Seaflex anchoring, breakwater, serta fasilitas untuk instalasi air dan listrik. Selain itu, Peter juga menekankan pentingnya penggunaan data yang tepat sebelum merancang marina. Informasi mengenai kondisi lingkungan (angin, gelombang, lingkungan, dan geoteknik) dan kebutuhan komersial menjadi dasar agar desain marina dapat berfungsi dengan aman dan efektif.
Kebutuhan terhadap data kondisi lingkungan kemudian diperjelas oleh Dr. Eko Prasetyo, M.T., Direktur Meteorologi Maritim BMKG. Melalui materi Data Collection: Wind, Wave, Tide, Current & Depth, peserta workshop diperkenalkan pada berbagai jenis data dan instrumen yang digunakan untuk memahami kondisi laut. Data angin, gelombang, pasang surut, arus, dan kedalaman menjadi bagian penting dalam proses perencanaan fasilitas kelautan. Dalam mendukung hal tersebut, BMKG memiliki kemampuan dalam menyediakan informasi prediksi kondisi gelombang dan arus laut.
Setelah data dikumpulkan, proses berikutnya adalah melakukan analisis untuk menghasilkan parameter yang dapat digunakan dalam desain. Prof. Ir. R. Haryo Dwito Armono, S.T., M.Eng., Ph.D., dari ITS, melalui materi Data Analysis: Fetch, Wave Calculation & Tide Analysis, menjelaskan konsep fetch sebagai panjang atau jarak permukaan laut terbuka yang memungkinkan angin bertiup dalam arah yang relatif sama. Konsep tersebut menjadi salah satu dasar dalam perhitungan gelombang. Selain itu, beliau juga menjelaskan pentingnya penggunaan data angin, kedalaman, dan kondisi perairan untuk melakukan analisis gelombang serta pasang surut yang diperlukan dalam perencanaan marina.
Pembahasan mengenai desain kemudian diarahkan pada bagaimana sebuah marina dapat disusun agar aman sekaligus memiliki nilai ekonomi. Peter Santesson kembali menjelaskan mengenai marina layout dan yacht mix. Tata letak marina perlu memperhatikan ruang manuver, jumlah dan posisi gangway, area parkir yacht, area VIP, area superyacht, area komersial, serta zona bongkar muat. Peletakan tata ruang sangat penting dalam mendukung komposisi yacht yang beragam, sehingga dapat meningkatkan potensi ekonomi marina apabila didukung dengan desain dan fasilitas yang sesuai. Selain itu, keberadaan breakwater juga menjadi bagian penting karena berfungsi untuk melindungi area dalam marina dari gelombang.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah sistem tambat kapal. Dr. Hasanudin, S.T., M.T., dosen Departemen Teknik Perkapalan ITS, beliau menjelaskan sebuah sistem tambat kapal atau mooring system yang meliputi sistem pile, chain, dan Seaflex. Sistem tersebut memiliki fungsi utama untuk mempertahankan posisi kapal, meredam energi gelombang, menjaga keselamatan dan kenyamanan pengguna, serta melindungi aset kapal. Masing-masing sistem memiliki kelebihan dan keterbatasan. Sistem pile, misalnya, memiliki kestabilan yang tinggi dan kebutuhan perawatan yang relatif rendah, tetapi penerapannya dipengaruhi oleh kedalaman dan kondisi tanah. Sementara itu, sistem Seaflex menggunakan elemen elastis yang memungkinkan fleksibilitas terhadap pergerakan air.
Penjelasan mengenai Seaflex kemudian dilanjutkan oleh Lars Brandt, President & CEO Seaflex. Ia memperkenalkan teknologi Seaflex sebagai sistem penambatan elastis yang telah digunakan selama puluhan tahun. Sistem ini dirancang agar ponton tetap berada pada posisi yang relatif stabil meskipun menghadapi pergerakan gelombang. Selain mempertimbangkan aspek teknis, teknologi tersebut juga menekankan upaya meminimalkan gangguan terhadap dasar laut sehingga dapat menjadi salah satu pilihan dalam pembangunan marina yang lebih ramah lingkungan.
Pengaplikasian Seaflex dan sistem tambat kapal juga didukung oleh berbagai aspek dan komponen lainnya. Norman Akromudin dari SF Marina Indonesia, melalui sesi materi, beliau membahas berbagai jenis bollard, cleats, dan connectors. Dalam sesi tersebut juga dibahas mengenai pengalaman pembangunan marina di Benoa, Bali. Proses pembangunan dimulai dari persiapan lokasi, penggunaan fasilitas kerja sementara, sertifikasi tenaga kerja, proses penggambaran dan pemodelan tiga dimensi, hingga penerapan prosedur keselamatan kerja. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembangunan marina membutuhkan koordinasi yang baik antara perencanaan, konstruksi, keselamatan, dan pengelolaan lingkungan.
Selain proses pembangunan yang baik, sebuah marina juga memerlukan sistem pemeliharaan yang baik. Sergio Casadio dari SF Marina, dalam sesi materi, memperkenalkan sistem pemeliharaan yang meliputi kelistrikan, penyediaan air, dan pump-out system. Salah satu fasilitas yang diperkenalkan adalah power pedestal yang dirancang agar mudah digunakan, aman, kuat, dan mudah dalam pemeliharaan. Sistem tersebut juga dapat dilengkapi dengan pengukuran penggunaan energi serta pemantauan secara digital sehingga pengelola marina dapat mengetahui penggunaan listrik dan air secara lebih efisien. Integrasi sistem utilitas semacam ini menjadi bagian penting dalam menciptakan marina yang modern dan mampu memberikan pelayanan yang baik kepada para wisatawan.
Melihat marina dari perspektif pengembangan bisnis dan pariwisata, tentunya Indonesia memiliki potensi yang besar. Prasetyo, Direktur Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero), menyampaikan mengenai peluang masa depan marina di Indonesia. Indonesia memiliki potensi wisata bahari yang sangat besar, termasuk destinasi yang telah dikenal oleh wisatawan internasional. Meskipun berbagai kegiatan yachting internasional telah berlangsung di Indonesia, perkembangan marina masih menghadapi tantangan, salah satunya adalah persepsi bahwa Indonesia belum cukup menarik secara komersial dibandingkan negara-negara tetangga. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan fasilitas, promosi, dan kesadaran masyarakat terhadap potensi ekonomi dari wisata bahari.
Sesi diskusi mengenai proyek marina kemudian ditutup dengan materi dari Joseph Prabantara, Co-Founder PT Marina Development Indonesia (MDI). Beliau memperkenalkan perkembangan proyek marina internasional di Indonesia, termasuk Bali Gapura Marina, serta memperlihatkan berbagai contoh marina internasional seperti Monaco dan Yalikavak di Turki. Melalui pemaparan tersebut, peserta workshop dapat melihat bagaimana marina tidak hanya berfungsi sebagai tempat bersandar yacht, tetapi juga dapat terhubung dengan sektor pariwisata, rekreasi, bisnis, dan kegiatan ekonomi lainnya. Perkembangan proyek tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai peluang pembangunan marina internasional di Indonesia pada masa mendatang.
Rangkaian materi dalam International Workshop Marina Design for Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan marina merupakan pekerjaan multidisiplin yang tidak dapat dilihat dari aspek konstruksi saja. Perencanaan marina membutuhkan pemahaman terhadap kondisi lingkungan laut, analisis data, sistem struktur dan tambat, fasilitas utilitas, keselamatan, regulasi, hingga aspek ekonomi dan pariwisata. Di sisi lain, Indonesia memiliki modal geografis yang sangat besar untuk mengembangkan sektor tersebut.
Melalui workshop ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai bagaimana sebuah marina dirancang dan dibangun, tetapi juga memahami tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk mengembangkan ekosistem marina secara berkelanjutan. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku industri, konsultan, dan asosiasi pelabuhan menjadi langkah penting untuk menjembatani kebutuhan teknologi dengan kondisi nyata di lapangan. Dengan perencanaan yang matang, regulasi yang mendukung, serta perhatian terhadap aspek lingkungan dan masyarakat, marina berpotensi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan wisata bahari dan ekonomi maritim Indonesia.
Di akhir sesi kegiatan International Workshop Marina Design for Indonesia, terdapat announcement peluncuran Program Studi baru Teknik Pantai & Pelabuhan ITS yang disampaikan oleh Prof. Dr. Eng. M. Zikra, S.T., M.Sc. Pembukaan program studi ini menjadi langkah pengembangan keilmuan Teknik Kelautan ITS sekaligus respons terhadap kebutuhan industri maritim yang masih membutuhkan sarjana engineer dengan keahlian spesifik di bidang kepantaian, pelabuhan, dan marina. Lulusan program studi ini diharapkan memiliki kompetensi dalam merancang bangunan dan perlindungan pantai serta infrastruktur pelabuhan. Prof. Zikra juga berharap dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang akan muncul program studi serupa di berbagai universitas di Indonesia sebagai bentuk kolaborasi untuk bersama-sama mengembangkan keilmuan dan sektor maritim nasional.
Data dan Tulisan oleh Al-Fath M. R. Putra Hariyanto dan Muhammad Irfan Zaky A.
Layout oleh Raffael Alain Hanindra
Tim Liputan (Al-Fath, Irfan, dan Alan)
