
Suatu siang yang terik, Pak Budi mendatangi kantor dinas sosial dengan muka lesu. Di tangannya tergenggam map merah berisi surat keterangan tidak mampu, berkas tagihan listrik yang menunggak tiga bulan, dan kuitansi kontrakan yang sudah dikejar pemiliknya.
Di balik meja berkaca jernih dalam ruangan yang sejuk ber-AC, duduk seorang petugas bernama Pak Bowo. Kancing baju safarinya tampak menjerit, berjuang sekuat tenaga agar tidak terlempar karena menahan perutnya. Lengkap dengan kopiah hitam legamnya, ia menyambut Pak Budi lewat senyuman hangat bak memberi secercah harapan manis (entah bisa diharapkan atau tidak).
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Pak Bowo.
“Begini, Pak… beras di dapur habis, kerjaan serabutan sedang tidak menentu, jadi saya mau mengajukan bansos,” kata Pak Budi penuh harap.
Secara terampil jari Pak Bowo menari di atas keyboard komputer canggihnya. “Tunggu sebentar, kita verifikasi data dulu ya. Bapak punya sepeda motor?”
“Punya, Pak. Motor bebek tahun 2000-an. Itu saja kalau nyala saat distarter syukur, Pak,” jawab Pak Budi.
“Punya ponsel pintar?”
“Ada, HP second. Layarnya retak-retak mirip kualitas aspal jalan desa.”
“Dinding rumah pakai semen?”
“Semen, Pak. Tapi lembap karena bocor dan jika digaruk rontoklah semen murah itu”
Pak Bowo mendadak menggebrak meja, wajahnya berbinar-binar seolah baru saja menemukan harta karun.
“Selamat, Pak Budi. Berdasarkan hasil analisis kami, Anda tidak berhak menerima Bantuan Sosial!” ujar Pak Bowo dengan suara lantang.
Pak Budi terperangah kaget, hampir melompat dari kursi. “Lho, kok begitu, Pak? Saya ini hidup pas-pasan, itu saja kalo pas kadang malah kurang!”
“Bapak memang susah, tapi Bapak tidak miskin. Bapak ini tergolong kelas menengah ke bawah!” tegas Pak Bowo berapi-api.
“Bedanya apa, Pak? Wong sama-sama ‘kebawah’?!”
Pak Bowo menggeser kursinya mendekat sambil menempelkan kumis tebal lentiknya ke telinga Pak Budi.
“Begini teorinya, Pak. Kalau Bapak saya masukkan kategori miskin, nanti angka kemiskinan di laporan nasional naik. Atasan pusing, menteri kena tegur, kredibilitas negara turun. Tapi kalau status Bapak disematkan kelas Menengah, Bapak tidak perlu diberi bansos, dan di konferensi pers kami bisa mengklaim : ‘Angka kemiskinan berhasil ditekan secara signifikan!’ Bukankah itu sebuah keajaiban statistik?”
Pak Budi menganga, Tak bisa berkata-kata. “Tapi Pak… kalau saya tidak dapat bantuan, besok anak istri saya makan apa?”
Pak Bowo tersenyum bijak sambil menepuk-nepuk bahu Pak Budi.
“Tenang, Pak. Orang miskin itu cuma menanggung beban perut, tapi Kelas Menengah seperti Bapak menanggung beban reputasi bangsa! Jadi kalau besok Bapak lapar, jangan sedih. Anggap saja Bapak sedang berpartisipasi dalam program menjaga reputasi bangsa melalui grafik yang berhasil diteken garisnya.”
“Ya Gustiiii…. negara apa ini tooooo.” Keluh Pak Budi.
Pak Budi keluar dari kantor itu sambil memandangi map merahnya, bingung harus bangga karena mendadak jadi “Kelas Menengah” atau pingsan karena belum sarapan.
Tulisan oleh Muhammad Rizal Fahmi
Ilustrasi oleh Muhammad Ageng Mukti
