Dari Hulu yang Terluka, Bencana Mengalir Membawa Duka

Pada akhir November 2025, wilayah Sumatra dilanda bencana hidrometeorologi besar yang dipicu oleh terbentuknya Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Interaksinya dengan Siklon Tropis KOTO memperkuat dinamika atmosfer sehingga memicu curah hujan ekstrem pada 25–27 November 2025 di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Perpaduan antara atmosfer yang labil, lereng curam, dan batuan lapuk menciptakan kondisi yang sangat rentan. Akibatnya, berbagai wilayah mudah mengalami banjir bandang dan longsor ketika terjadi curah hujan tinggi.

Kerusakan lingkungan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama akibat menurunnya tutupan hutan, turut memperburuk dampak bencana. Berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air menyebabkan aliran permukaan meningkat signifikan. Hal ini tidak hanya mempercepat pembentukan banjir, tetapi juga meningkatkan potensi longsoran tanah di berbagai titik rawan. Curah hujan yang mencapai lebih dari 300 mm di sejumlah daerah semakin memperparah kondisi tersebut.

Dampak terhadap infrastruktur tercatat cukup luas. Di Sumatra Utara, terdapat setidaknya 57 titik longsor yang menghambat akses antarwilayah, disertai terputusnya beberapa segmen penting seperti ruas Jalan Tarutung–Sibolga serta terisolasinya sejumlah desa di Kecamatan Parmonangan dan Adiankoting dengan total lebih dari 12.000 jiwa terdampak. Layanan dasar juga mengalami gangguan serius; tercatat 495 site telekomunikasi tidak berfungsi, atau setara 1,42 persen dari total 34.660 site di provinsi tersebut. Kondisi ini diperparah oleh terputusnya pasokan listrik, internet, dan jaringan telepon di beberapa daerah sehingga memperlambat proses penanganan awal. Selain itu, sembilan kabupaten/kota di Sumatra Utara dilaporkan terdampak banjir dengan variasi tingkat kerusakan. Di Aceh, sedikitnya empat jembatan dan empat ruas jalan utama putus, salah satunya memutus akses menuju Aceh Selatan dan menghambat distribusi logistik serta bantuan darurat.

Selain kerusakan infrastruktur, dampak kemanusiaan yang ditimbulkan juga sangat signifikan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 Desember, total korban meninggal dunia di Sumatra mencapai 442 jiwa, sementara 402 jiwa masih dinyatakan hilang. Di Sumatra Barat, 129 korban meninggal dan 118 hilang, serta 16 orang mengalami luka-luka. Jumlah pengungsi meningkat hingga lebih dari 77.918 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Kondisi serupa terjadi di Sumatra Utara yang  tercatat 217 jiwa meninggal dunia dan korban hilang mengalami peningkatan menjadi 209 orang.

Bencana ini menggambarkan keterkaitan erat antara kondisi atmosfer, kerentanan lingkungan, dan kesiapan infrastruktur. Kombinasi faktor-faktor tersebut memperbesar skala kerusakan dan menjadi catatan penting bagi peningkatan mitigasi, pengelolaan DAS, dan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi peristiwa cuaca ekstrem di masa mendatang. Sebagai respons, pemerintah bersama pihak swasta telah mengirimkan 160 ton bantuan kemanusiaan, termasuk 50 unit Starlink untuk pemulihan komunikasi serta lebih dari 22 ribu paket kebutuhan pokok bagi wilayah terdampak. BNPB juga menyiapkan hunian sementara, membuka jalur akses darurat, serta mempercepat upaya evakuasi dan pemulihan layanan dasar di daerah yang masih terisolasi.

Tulisan oleh Sahib Aarde Elhaq

Data oleh Archiera Azalia W.

Layout oleh Shafa Acmerosa Nugroho