Beranda Berita Semangat Sekaten dalam Sekati Tak Terusik Pandemi

Semangat Sekaten dalam Sekati Tak Terusik Pandemi

oleh Redaksi

Penduduk Kota Budaya dan Kota Pelajar pasti tidak asing dengan agenda tahunan yang diadakan Keraton Yogyakarta. Agenda tahunan yang dikenal masyarakat dengan nama Sekaten ini ditujukan untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini biasanya diadakan setiap tanggal 5 hingga 12 bulan Mulud (atau dalam kalender Islam disebut Rabi’ul Awal).

Sekaten yang masyarakat kenal sekarang merupakan akulturasi budaya Hindu dan Islam yang disesuaikan dengan kebudayaan Jawa. Upacara yang awalnya diadakan untuk memberikan sesaji kepada arwah leluhur, berkembang menjadi sarana penyebaran agama Islam. Gamelan menjadi katalis yang menggantikan rebana dalam upacara Sekaten sehingga mudah diterima oleh masyarakat sekitar. Kesenian ini pada zaman dahulu ampuh untuk menarik perhatian masyarakat dan memudahkan para Wali Songo untuk menyampaikan ajaran agama Islam.

Nama Sekaten memiliki beberapa tafsiran yang diyakini dan dipahami masyarakat sekitar sebagai sebuah filosofi. Pertama, sekaten berasal dari kata sekati yang berarti gamelan. Kedua, kata suka dan ati yang membentuk kata sekati memiliki makna senang hati. Terakhir, sekaten merujuk ke agama Islam berasal dari kata syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat.

Sebuah budaya tradisional pastinya memiliki rangkaian prosesi khusus yang harus dijalankan. Untuk upacara Sekaten, prosesi tersebut dimulai pada tanggal 5 Mulud dengan dibunyikannya gamelan pada pukul 16.00 yang disertai dengan upacara udhik-udhik atau penyebaran keping uang logam oleh Sri Sultan. Ketika gamelan sudah berhenti dibunyikan pada pukul 23.00, selanjutnya gamelan akan dipindahkan ke Pagongan di halaman depan Masjid Gede Kauman yang jaraknya tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Di tempat tersebut gamelan akan dibunyikan sampai akhir prosesi Sekaten pada tanggal 11 Mulud, kecuali saat waktu salat dan hari Jumat.

Pada tanggal 11 Mulud, kehadiran Sri Sultan ke serambi masjid pukul 20.00 hingga 23.00 untuk mendengarkan pembacaan riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW juga merupakan salah satu prosesi penting dalam upacara Sekaten. Prosesi ini akan diakhiri dengan pengembalian gamelan ke keraton. Puncak dari upacara Sekaten adalah diadakannya Garebeg Mulud, suatu prosesi penghantaran enam gunungan yang melambangkan alam semesta, dari Komplek Keraton menuju Masjid Gede Kauman pada tanggal 12 Mulud .

Upacara Sekaten ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Yogyakarta dengan berbagai macam tujuan seperti mengenal tradisi Sekaten itu sendiri sampai berwisata di Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS). Seperti yang diketahui banyak orang, upacara Sekaten pasti selalu dibarengi dengan PMPS yang diadakan di Alun-Alun Utara sejak sekitar 30 tahun terakhir. PMPS biasanya dimulai dari awal bulan Sapar (atau dalam kalender Islam disebut Safar) selama 40 hari. Di dalam PMPS, terdapat banyak hiburan rakyat, pertunjukkan seni, tempat belanja, dan wahana permainan yang selalu ditunggu masyarakat. Walaupun PMPS memiliki daya tarik yang besar untuk masyarakat, ternyata dahulu PMPS merupakan siasat kolonial Belanda untuk membatasi penyebaran agama Islam dengan mengalihkan perhatian masyarakat. Hal ini sesuai dengan penuturan KPH Notonegoro yang dikutip dari travel.detik.com.

Untuk mengembalikan Hajad Dalem Sekaten, Sri Sultan merencanakan bahwa PMPS (yang sejatinya tidak termasuk dalam upacara Sekaten) hanya akan dilaksanakan dua tahun sekali. Mulai dari tahun 2019, Sekaten dilaksanakan tanpa adanya PMPS yang akan digantikan pada tahun selanjutnya. Hal ini juga bertujuan untuk memelihara kondisi Alun-Alun agar tetap dalam kondisi yang baik.

Upacara Sekaten yang dibarengi dengan PMPS seharusnya dilaksanakan pada tahun 2020, tetapi tidak terjadi karena kondisi Pandemi Covid-19 yang membatasi kegiatan masyarakat. Untuk mengembalikan semangat masyarakat, Pemerintah Kota Yogyakarta mengadakan kegiatan yang hampir mirip dengan PMPS, tetapi dilaksanakan di dalam mal. Hal ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Yogyakarta dan untuk mengendalikan pergerakan masyarakat yang datang sehingga mengurangi potensi penyebaran Covid-19 . Kegiatan ini bernama Sekati YK Ing Mall. Nama ini dipilih karena sekati memiliki arti gamelan yang merupakan ciri khas dari upacara Sekaten, sedangkan YK atau Yogya Kreatif merupakan label yang sengaja dibuat untuk mengenalkan kota ini kepada masyarakat luas dengan segala budaya, tradisi, dan karya seninya.

Dikutip dari travel.detik.com, Sekati YK Ing Mall ini direncanakan akan dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini adalah tahun pertama kegiatan ini dan sudah dilaksanakan pada tanggal 13 hingga 18 Oktober 2021. Acara-acara yang digelar pada Sekati YK Ing Mall adalah pameran UMKM, food festival, games, fashion show, workshop, live music, dan tari-tarian. Mal yang dipilih untuk menyelenggarakan kegiatan ini adalah Malioboro Mall, Galeria Mall, dan Lippo Plaza dengan menggandeng 70 UMKM. Dalam pelaksanaanya, 40 UMKM berada di Malioboro Mall, 20 di Galeria Mall, dan 10 di Lippo Plaza.

Pelaksanaan Sekati YK Ing Mall dilaksanakan dengan protokol cleanliness, health, safety, and environment sustainability (CHSE). Perayaan Sekaten dilaksanakan di mal yang telah menerapkan CHSE dan program Peduli Lindungi sehingga mampu mencegah penyebaran Covid-19 dengan baik. Acara Sekati YK Ing Mall ini juga dapat membiasakan masyarakat dalam melakukan pemindaian QR Code Peduli Lindungi sebagai identitas sudah atau belum melakukan vaksin.

Kegiatan Sekati YK Ing Mall diharapkan dapat mendorong industri kreatif untuk terus berkembang dan meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Dengan membawa semangat yang sama dengan Sekaten, dalam kegiatan ini juga ada Bregodo (pasukan prajurit Keraton) dan gunungan produk UMKM. Selain bisa menjadi tempat mempromosikan dan membantu UMKM di tengah pandemi, kegiatan ini juga dapat mengenalkan budaya tradisional kepada generasi muda yang banyak berkegiatan di pasar modern (mal).

Setiap kegiatan pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam kondisi pandemi seperti ini, pemilihan mal sebagai tempat diadakannya Sekati YK memang pilihan yang tepat. Akan tetapi, kekurangannya adalah tidak semua masyarakat dapat mengaksesnya dan terkesan hanya untuk masyarakat golongan menengah ke atas. Sekati diadakan dengan semangat Sekaten yang merupakan hiburan rakyat sehingga seharusnya juga dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Kegiatan ini memang akan berdampak baik untuk UMKM di industri kreatif, tetapi kurang melibatkan pedagang kecil yang juga merupakan salah satu daya tarik Pasar Malam Perayaan Sekaten.

Jika ke depannya Sekati tetap dilaksanakan di mal sedangkan kondisi pandemi sudah terkendali, perlu dilakukan pengkajian ulang untuk pelaksanaannya. Mengingat stereotip “mal diperuntukkan untuk masyarakat golongan menengah ke atas” banyak beredar dan diyakini masyarakat. Namun, tantangan seperti inilah yang harus dipecahkan dengan memunculkan inovasi-inovasi menarik di masa mendatang. Tidak bisa dimungkiri bahwa Sekati tahun ini, yang membawa semangat Sekaten, lahir dari tantangan-tantangan seperti pandemi dan derasnya arus globalisasi yang mulai mengikis budaya negeri.

Sejauh apapun kakimu melangkah, setinggi apapun jabatan yang kamu emban, ketika gamelan Keraton sudah berdentang, langkahmu untuk datang dan kembali tak akan lagi bisa terhalang. Segala tangis dan peluh akan berganti dengan tawa riang tanpa beban bersama teman di tengah riuhnya orang-orang. Merdunya shalawatan di tengah malam menenangkan hati yang butuh ketentraman dan akhirnya kembali disadarkan oleh kasih sayang Tuhan.
Kebahagiaan Sekaten untuk semua kalangan tanpa ada alasan.

Tulisan oleh Nada Gitalia
Data oleh Reiner Arya
Ilustrasi oleh Caroline Valencia K

Artikel Terkait