Selat Hormuz Membara, Rupiah Tak Berdaya

Menurut ilmu ekonomi, hukum penawaran dan permintaan menyatakan bahwa harga barang berbanding terbalik dengan tingkat permintaan masyarakat. Ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat, stok yang tersedia akan menipis, dan harga barang tersebut akan melonjak. Prinsip yang sama berlaku pula dalam sistem perdagangan mata uang. Kondisi inilah yang tengah menimpa rupiah. Ketika dolar semakin diburu, nilai rupiah perlahan melemah dan berimbas pada seluruh lapisan masyarakat. 

Saat ini, kondisi rupiah tengah berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Pada 5 Mei 2026, kurs JISDOR Bank Indonesia (BI) tercatat menyentuh angka Rp17.425,00 serta data dari Reuters melaporkan rupiah melemah ke angka Rp17.445 per dolar AS di pasar spot. Kondisi ini disebabkan oleh ketegangan geopolitik yang memanas di Selat Hormuz—jalur laut antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selat Hormuz merupakan chokepoint vital untuk jalur ekspor minyak dan LNG (Liquefied Natural Gas) dunia. EIA (Energy Information Administration) mencatat sekitar 20 juta barel per hari—setara dengan 25% perdagangan minyak global—diekspor melalui Selat Hormuz pada 2025.  

Gejolak konflik di Selat Hormuz turut mengguncang harga minyak dan biaya logistik yang merangkak naik. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak secara langsung ikut mempertebal kebutuhan dolar untuk kebutuhan impor energi. Kondisi ini membuat investor global semakin enggan memegang aset berisiko sehingga mata uang rupiah berada dalam situasi tertekan. Pada 5 Mei 2026, kurs transaksi BI menyentuh angka Rp17.454,84 untuk kurs jual USD dan Rp17.281,16 untuk kurs beli USD yang semakin menunjukkan betapa mengkhawatirkannya posisi rupiah saat ini.

Menanggapi kondisi yang sedang berlangsung, pihak BI mempertahankan BI-Rate di angka 4,75% pada April 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Tak berhenti di sana, BI juga berencana untuk memperketat batas dokumen underlying pembelian dolar menjadi di atas USD25.000 per bulan sebagai langkah untuk membendung pembelian dolar yang tidak didukung kebutuhan ekonomi riil. Selain itu, Kementerian ESDM turut mengambil langkah mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz dengan menyesuaikan sumber impor minyak mentah yang kini tersebar dari Afrika, Amerika, hingga Rusia. Menteri ESDM mengatakan bahwa sekitar seperempat impor minyak mentah Indonesia masih berasal dari Timur Tengah, sementara sekitar 30% impor LPG juga dari wilayah yang sama.

Lemahnya nilai rupiah kembali menuai sorotan publik setelah pernyataan Presiden Indonesia Prabowo Subianto bahwa rakyat di desa tidak memakai dolar dalam aktivitas sehari-hari saat menghadiri acara peresmian Museum Ibu Marsinah pada Sabtu, 16 Mei 2026. Pernyataan serupa  juga kembali ia lontarkan dalam acara peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih dengan mengatakan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar meskipun nilai tukar rupiah melemah. Dari kedua pernyataan tersebut, Presiden tampak berupaya meredam kepanikan pasar dan publik dengan alibi yang terdengar memihak rakyat tetapi justru menutup mata dari realita pahit di dalamnya. Pernyataan ini juga sekaligus menjadi bagian dari narasi pemerintah yang terus berupaya membangun citra ekonomi Indonesia yang kuat sementara kenyataan dengan lantang membantahnya.

Jika dikaitkan dengan ekonomi terbuka, lemahnya nilai rupiah tidak hanya berdampak pada pihak yang menggunakan dolar untuk transaksi secara langsung. Masyarakat umum, sekalipun masyarakat desa juga turut menanggung beban yang tak pernah mereka pilih. Naiknya harga energi, pupuk, biaya logistik, dan kebutuhan pokok yang dipengaruhi oleh kurs dan harga komoditas global semakin mencekik leher warga dengan erat. Besarnya tekanan ini tercermin dari laporan Reuters pada 18 Mei 2026 bahwa indeks saham Jakarta turun lebih dari 4% ketika perdagangan kembali dibuka setelah long weekend. Menurut data BPS terkait Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2026, NTP nasional turun sebesar 0,09% dari bulan sebelumnya menjadi 125,24 seiring indeks harga yang harus dibayar petani naik lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang mereka terima. Jika rupiah adalah satu-satunya mata uang yang mereka gunakan, maka menjaga stabilitasnya adalah sebuah keharusan, bukan sekedar bahan omongan diatas mimbar kekuasaan.

Masalah melemahnya nilai rupiah kali ini dipicu oleh memanasnya konflik geopolitik pada jalur utama energi yang dampaknya merambat ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pemahaman bahwa melemahnya nilai rupiah hanya memengaruhi kalangan tertentu adalah sebuah kekeliruan. Sudah saatnya masyarakat aktif bersuara terkait isu ini dan mengawal setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Tulisan oleh Anisa Salsabila

Data oleh Muhammad Fristo Wijaya

Layout oleh Naura Indriana Shabry