WEX 2026: Peran Arsitektur dalam Pemberdayaan UMKM

WEX 2026 atau Wiswakharman Expo merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Studi Arsitektur. WEX terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu exhibition, competition, dan symposium. Pada tahun ini, WEX diadakan pada tanggal 10–17 Mei di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.

Exhibition

Pameran WEX dilaksanakan pada 10–17 Mei di GIK. Mengangkat tema “Resisting Margins: Shaping Spaces of Equal Chances” dengan fokus pada ketimpangan ruang aktivitas jual beli bagi pedagang kecil dan masyarakat. Pameran mengangkat studi kasus relokasi Teras Malioboro yang dilakukan dari lokasi strategis ke lokasi nonstrategis. Relokasi tersebut pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan kondisi perdagangan. Namun, lokasi baru dinilai kurang strategis karena akses menuju area berjualan dianggap terlalu jauh ke bagian dalam, kurang mudah dijangkau oleh pengunjung, dan tidak dilewati turis. Alhasil, banyak pendatang yang tidak mengetahui bahwa terdapat area berjualan di lokasi tersebut. Tentunya ini berdampak langsung pada pedagang yaitu omzet pedagang menurun serta aktivitas sosial dan interaksi pengunjung sedikit.

Target pengunjung pameran adalah mahasiswa dan umum. Pameran bertujuan untuk menggambarkan kondisi sosial dan ketimpangan pedagang saat ini. Pameran juga memberikan pemahaman terkait dengan masalah ruang publik dan akses ekonomi bagi pedagang kaki lima. Pameran dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu pendahuluan, permasalahan, dan solusi yang ditawarkan. Pada bagian pendahuluan, pengunjung diberikan penjelasan mengenai latar belakang serta tema yang diangkat. Berdasarkan pemahaman terhadap latar belakang tersebut, pengunjung kemudian diarahkan menuju bagian kedua yang memaparkan permasalahan yang ada. Pada area ini, ruang dirancang dalam kondisi sempit, tidak tertata, dan dibuat terasa “asing” bagi pengunjung. Hal tersebut dirancang untuk merepresentasikan suasana UMKM atau pedagang kaki lima agar pengunjung dapat merasakan langsung atmosfer yang dihadirkan dalam pameran. Selanjutnya, pengunjung diajak menuju bagian ketiga yang berisi solusi atas permasalahan yang diangkat. Bagian ini merupakan area inti pameran, ditampilkan hasil karya Kuliah Kerja Arsitektur (KKA) mahasiswa angkatan 2023 berupa maket sebagai bentuk solusi terhadap isu yang diangkat serta poster dan maket karya peserta lomba. Pada bagian akhir, pengunjung dapat memberikan umpan balik (feedback) serta melihat dan membeli produk-produk UMKM yang dipamerkan.

Di dalam pameran terdapat bedah buku Archilogy Vol XI. Isu utama yang dibahas dalam buku tersebut adalah gentrifiaksi atau proses perubahan sosial ekonomi di suatu kawasan perkotaan yang terjadi ketika kaum kelas menengah/atas membeli dan merenovasi kawasan di lingkungan berpenghasilan rendah. Gentrifikasi memicu lonjakan biaya hidup, sewa, dan pajak properti yang kerap menggusur penduduk asli atau kelas bawah.

Isu yang dibahas dalam setiap tahunnya berbeda, menyesuaikan dengan topik yang diambil untuk KKA. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah “Inclusive Space for Domestic Economic Development in Yogyakarta”. Yogyakarta sebagai kota Pendidikan, budaya, dan pariwisata menghasilkan daya tarik pendatang. Banyak pelaku usaha luar melihat Yogyakarta sebagai lokasi strategis investasi. Hal ini berdampak pada kenaikan lahan, perubahan fungsi ruang, dan masyarakat lokal sulit mengikuti daya saing. Oleh sebab itu, fenomena gentrifikasi kerap terjadi. Akibatnya, kawasan berubah dari residensial menjadi komersial, ruang semakin dimodifikasi, dan terjadi pergeseran fungsi ruang secara masif. Padahal, konsep ruang ideal tidak hanya soal produktivitas ekonomi, tetapi mencakup akses yang setara untuk semua lapisan masyarakat terutama pelaku UMKM. Ruang harus dapat dimanfaatkan secara adil, tidak hanya untuk transaksi ekonomi besar, tetapi juga untuk menghidupkan aktivitas. Arsitek tidak memiliki kendali penuh atas gentrifikasi, tetapi tetap memiliki peran penting melalui penciptaan ruang inklusif dan menghasilkan desain yang fleksibel. Dalam kasus ini, arsitek berfokus pada masalah “Bagaimana UMKM tetap bisa hidup tanpa tertekan modal besar?”.

Dalam buku ini juga menampilkan perjalanan Panjang KKA mulai dari pra-KKA, KKA, dan pasca KKA. Proses KKA dimulai dari survey site dan wawancara dengan pelaku usaha langsung di lokasi. Kemudian data yang diperoleh digunakan sebagai dasar desain bangunan. Output yang dihasilkan dari KKA adalah ide desain bangunan terhadap konteks lapangan, maket dan poster, serta publikasi buku. Buku Archilogy Vol XI berfungsi sebagai dokumentasi proses pembelajaran, referensi akademik, dan membangun sudut pandang mahasiswa sebagai calon arsitek muda.

Symposium

Tema Architectural Simposium yang diangkat adalah “The Paradox of Identity and Gentrification”. Simposium ini terdiri atas dua sesi, dengan sesi kedua menghadirkan Dadi Prasojo selaku Associate Director of RAD+ar serta Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah periode 2013–2023 sebagai pembicara. Kegiatan simposium dilaksanakan pada Sabtu, 16 Mei 2026 di GIK UGM.

Fokus pembahasan yang disampaikan oleh Dadi Prasojo berkaitan dengan arsitektur yang berhubungan dengan alam dan keberlanjutan (sustainability). Isu yang diangkat meliputi ruang terbuka hijau (RTH), permasalahan sampah, serta hubungan antara arsitektur dan lingkungan. Dalam pemaparannya, Dadi Prasojo membawa pandangan RAD+ar yang menjadikan hubungan antara arsitektur dan alam sebagai identitas utama dalam pendekatan desainnya. Desain berkelanjutan dinilai memiliki potensi yang besar untuk diterapkan di Indonesia dan masyarakat Indonesia dianggap sudah cukup siap untuk menerimanya. Namun, tantangan utama terletak pada bagaimana arsitek mampu mengimplementasikan prinsip keberlanjutan ke dalam desain dengan tepat. Dalam praktiknya, RAD+ar berupaya menjaga keseimbangan antara aspek estetika, keberlanjutan, dan kebutuhan klien. Untuk mencapai keseimbangan tersebut, diperlukan berbagai eksplorasi desain dan pendekatan yang mendalam.

Sementara itu, Ganjar Pranowo lebih berfokus pada pembahasan mengenai kondisi sosial masyarakat. Ia menyinggung kesiapan lapangan kerja serta persaingan kerja yang semakin ketat sehingga mahasiswa perlu memiliki kesadaran terhadap realitas dunia kerja di masa depan. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mampu mengedukasi masyarakat, menyampaikan ide kepada komunitas, serta membangun relasi sosial. Ganjar Pranowo juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap aspek politik dan kebijakan publik, karena keduanya memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat dan proses pembangunan.

Simposium berlangsung dengan menarik dan memicu berbagai pertanyaan kritis dari audiens. Ijel, mahasiswa Teknik Sipil UGM, menyampaikan pertanyaan mengenai pendekatan yang paling tepat dalam penataan pedagang kaki lima (PKL) serta faktor-faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan relokasi. Menanggapi hal tersebut, Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa kunci utama keberhasilan relokasi terletak pada komunikasi dan tercapainya konsensus dengan para pedagang serta didukung oleh mitigasi risiko sebelum relokasi dilakukan. Selain itu, lokasi relokasi harus tetap berada dekat dengan akses pengunjung. Dalam konteks ini, arsitek memiliki peran penting dalam merancang ruang yang menarik, menjadikan kawasan sebagai destinasi, serta memperhatikan aspek lanskap dan pengalaman pengunjung.

Pertanyaan menarik lainnya disampaikan oleh Iqbal, alumni Arsitektur UGM yang sedang menempuh studi magister di UCL, Inggris. Ia menanyakan bagaimana cara meningkatkan ruang terbuka hijau tanpa menggusur masyarakat serta bagaimana menjaga ekosistem ekonomi kecil ketika kota terus berkembang. Menanggapi pertanyaan tersebut, Dadi Prasojo menjelaskan bahwa melalui pendekatan RAD+ar, diperlukan keseimbangan antara aspek bisnis, sosial, dan keberlanjutan. Tidak seluruh proyek berorientasi pada keuntungan, melainkan beberapa di antaranya dilakukan sebagai bentuk kontribusi sosial. Menurutnya, kunci utama dalam arsitektur adalah memahami manusia sebagai pengguna ruang. Pengembangan skala desain harus menyesuaikan konteks sosial masyarakat, sementara desain berkelanjutan perlu diterapkan secara realistis agar dapat diterima dan berjalan dengan baik di tengah masyarakat.

Competition

Tema lomba yang diangkat adalah “Reviving Spaces, Renewing Chances”, dengan fokus pada upaya menghidupkan kembali kawasan di tepi sungai melalui pemberdayaan UMKM. Lomba ini diselenggarakan dalam skala nasional dengan peserta merupakan mahasiswa arsitektur di seluruh Indonesia. Output yang dihasilkan dalam lomba ini berupa poster dan maket sebagai representasi gagasan desain yang ditawarkan.

Menurut Labdawara selaku Koordinator Competition WEX, tema lomba dan pameran saling berkaitan, yaitu berfokus pada pemberdayaan UMKM di Indonesia melalui pendekatan arsitektur. Dalam pelaksanaanya, terdapat dua tahap penjurian, yaitu penjurian awal dan penjurian akhir. Penjurian awal dilakukan sebagai tahap seleksi untuk menentukan karya yang layak masuk ke tahap final. Peserta yang lolos ke tahap final kemudian mengembangkan karya dalam bentuk maket. Selanjutnya, penjurian akhir dilakukan untuk menentukan juara 1, 2, dan 3.

Dewan juri dalam lomba ini terdiri atas Ar. Yacobus Gatot Surarjo dari Arcadia Architects, Dadi Prasojo selaku Associate Director of RAD+ar, dan Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D. selaku dosen Arsitektur UGM. Labdawara menjelaskan bahwa setiap juri dipilih berdasarkan latar belakang dan pengalaman yang relevan dengan tema yang diangkat. Dadi Prasojo dipilih karena RAD+ar memiliki banyak pengalaman dalam bidang arsitektur komersial yang dinilai linear dengan tema WEX tahun ini. Sementara itu, Yacobus Gatot Surarjo dipilih karena keterlibatannya dalam pengelolaan M-Bloc di Jakarta yang saat ini berkembang menjadi ruang publik dan pusat aktivitas kreatif anak muda. Prof. Wiendu Nuryanti dipilih karena selain aktif sebagai dosen Arsitektur UGM, beliau juga terlibat dalam pengembangan Kampung Seni Borobudur yang berfokus pada pemberdayaan UMKM masyarakat setempat.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, pemenang Juara 1 Competition WEX diraih oleh tim dari Universitas Brawijaya. Khalid, Fathur, dan Keno selaku pemenang menyampaikan bahwa proses persiapan lomba berlangsung selama kurang lebih tiga minggu. Dalam proses perancangannya, tim melalui beberapa tahapan mulai dari analisis tema, studi kawasan, hingga pengembangan konsep desain. Desain yang diusung berfokus pada konteks kawasan dan skala urban. Tim menganalisis kebutuhan serta arah yang diinginkan oleh penyelenggara lomba, sekaligus mengkaji potensi kawasan di sekitar site. Lokasi yang dipilih berada di Jatiroto, Lumajang, Jawa Timur. Dalam perancangannya, tim menekankan bahwa desain tidak hanya berfokus pada bangunan semata, tetapi juga mempertimbangkan kawasan secara menyeluruh, termasuk konteks sosial-ekonomi masyarakat sekitar serta potensi pengembangan urban.

Berkat gagasan desain yang dinilai menarik, Khalid, Fathur, dan Keno memperoleh kesempatan dari Yacobus Gatot Surarjo untuk terlibat dalam Jakarta Architecture Festival di M-Bloc. Kesempatan tersebut menjadi sebuah kehormatan bagi tim karena dapat secara langsung diundang untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Selain itu, tim juga sempat mengunjungi pameran. Tim menyampaikan bahwa pameran tersebut terasa unik, menarik, dan memiliki alur cerita yang jelas sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pengunjung.

Closing

Closing WEX 2026 berlangsung dengan meriah dan menarik. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari terakhir pelaksanaan WEX, yaitu 17 Mei 2026 di GIK UGM. Acara penutupan diisi dengan berbagai pertunjukan, mulai dari penampilan Rumah Orkestra Jogja dan Teater Gadjah Mada, hingga penampilan penutup oleh Bearing (Band Engineering).Seluruh rangkaian pertunjukan berlangsung dengan atraktif dan berhasil memikat para pengunjung yang hadir untuk menyaksikan acara tersebut. Melalui penyelenggaraan WEX 2026, diharapkan kegiatan ini tidak hanya menjadi sebuah event semata, tetapi juga mampu memberikan manfaat serta dampak langsung bagi para peserta maupun pengunjung yang datang.

Data dan Tulisan oleh Naura Syakirani Hasya dan Keesha Rygel

Dokumentasi dan Layout oleh Naiwa Septa Cahyatari

Tim Liputan Naura Syakirani Hasya, Keesha Rygel, dan Naiwa Septa Cahyatari