
Cuaca siang hari di kota besar terasa semakin menyengat. Tanda perubahan iklim yang ekstrem sudah mulai terjadi di dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampaknya. Gedung bertingkat, jalanan aspal, dan minimnya area hijau menyebabkan udara semakin panas. Fenomena ini dikenal sebagai urban heat island yang menjadi masalah utama di berbagai kota berkembang.
Solusi tidak selalu harus dimulai dari hal besar. United Nations Environment Programme (UNEP) menyarankan penggunaan green roof sebagai penanggulangan alternatif akibat efek urban heat island. Alih-alih membiarkan atap bangunan kosong, kini diubah menjadi ruang hijau yang fungsional.
Mengenal Lebih Jauh Tentang Green Roof
Green roof atau atap hijau merupakan sistem atap datar hingga rendah yang tidak lebih dari 30 derajat dan di atasnya ditutupi vegetasi. Permukaan atap dilapisi dengan tanaman dan tanah, yang dapat membantu menyerap air, mengurangi limpasan, serta menjadi lapisan insulasi tambahan untuk bangunan.
Umumnya, material lapisan konstruksi dari green roof dimulai dari dasar, yaitu plat lantai beton, waterproof membrane, drain mat, filter cloth, growing medium, dan tumbuhan yang ditanam. Menurut Daneswara (2017), green roof dibedakan menjadi tiga tipe berdasarkan ketebalan media tanam dan tingkat pemeliharaannya, yaitu:
- Extensive: ketebalan kurang dari 15 cm, ringan, minim pemeliharaan, dan tidak ditujukan untuk aktivitas manusia.
- Semi-intensive: ketebalan 15-20 cm, dapat menampung lebih banyak jenis tanaman, bersifat dekoratif, dan memerlukan pemeliharaan sedang.
- Intensive: ketebalan lebih dari 20 cm dan mendukung berbagai jenis tanaman serta aktivitas manusia, namun memerlukan struktur bangunan yang kuat dan pemeliharaan tinggi.
Green roof berfungsi sebagai sistem penyejuk alami melalui proses evapotranspirasi, di mana tanaman menyerap air dan melepaskannya kembali ke udara sebagai uap sehingga udara sekitar bangunan menurun karena panas diserap. Lapisan green roof menyerap lebih sedikit panas dibandingkan permukaan beton atau seng, sehingga mengurangi suhu permukaan atap. Lapisan tanaman dan tanah menambah hambatan termal pada atap untuk menjaga suhu dalam bangunan tetap stabil. Selain itu, green roof menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk dan memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Lebih dari Sekadar Hijau, Manfaat Green Roof
Berbagai penelitian menunjukkan green roof memberikan manfaat dalam pengendalian suhu dan efisiensi energi akibat urban heat island. Pada penelitian yang dilakukan oleh Arbiatun, F. dan W. A. A. (2024) di Nanyang Technological University, Singapura, green roof secara signifikan menurunkan suhu permukaan atap hingga 7,3% dan suhu udara sekitar 0,5% dibandingkan dengan atap tanpa vegetasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Wang dkk. (2004) melalui analisis citra satelit menegaskan bahwa, area yang memiliki vegetasi padat cenderung memiliki suhu permukaan yang lebih rendah. Hal ini mendukung peran green roof dalam menurunkan dampak urban heat island. Lebih lanjut, evaluasi oleh Liu dan Minor (2005) di pusat komunitas Toronto menunjukkan bahwa suhu maksimum harian permukaan atap dapat berkurang sebanyak 30-40 derajat selsius. Evaluasi ini memperkuat klaim bahwa green roof secara langsung dapat mengurangi panas. Sementara itu, penelitian oleh Fang (2007) berfokus pada efek reduksi termal dari lapisan vegetasi pada green roof. Rasio penutupan lahan dan ketebalan daun total merupakan faktor krusial yang berpengaruh terhadap kapasitas pengurangan panas dan menekankan pentingnya desain vegetasi untuk performa termal optimal.
Kampus Ikut Andil sebagai Tren Berkelanjutan
Seiring meningkatnya kesadaran terkait efek urban heat island dan pengembangan kawasan berkelanjutan, green roof mulai diminati sebagai solusi jangka panjang. Beberapa institusi pendidikan tinggi di Indonesia telah mengambil langkah konkret dalam mengimplementasikan konsep green roof. Dua contoh implementasi berikut menjadi representasi penerapan green roof dalam skala kampus.
- Garden Rooftop GIK Universitas Gadjah Mada
Garden Rooftop GIK UGM hadir sebagai ruang hijau yang tidak hanya sebagai dekorasi pada suatu bangunan, tetapi bertujuan untuk mengedukasi pentingnya prinsip keberlanjutan lingkungan lewat konsep taman urban dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas udara di kawasan kampus. Keberadaan Garden Rooftop ini berpotensi menjadi pionir perwujudan ruang terbuka hijau dari atas bangunan.
Seno Andhikawanto selaku Chief Operating Officer GIK UGM memberikan pemaparan dalam Harian Jogja, “Sebagai ruang hijau di area urban, Garden Rooftop ini membantu meningkatkan kualitas udara sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sejuk”.
- Perpustakaan Universitas Indonesia
Sebagai salah satu ikon arsitektur ramah lingkungan di Indonesia, Perpustakaan Universitas Indonesia membuktikan sebuah bangunan dapat berfungsi sebagai pusat informasi sekaligus sebagai contoh konkret penerapan desain berkelanjutan.
Konsep green roof pada bangunan ini tidak hanya membantu mengurangi suhu panas di dalam ruangan, tetapi meredam kebisingan sekitar. Selain itu, penggunaan skylight pada bagian atap berfungsi sebagai sumber pencahayaan alami. Sinergi antara green roof dengan skylight membuat perpustakaan lebih hemat energi sekaligus ramah lingkungan.
Problematika Implementasi
Dalam upaya mengembangkan ruang terbuka hijau, penerapan green roof menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan. Namun, implementasinya tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kondisi geografis Indonesia yang memiliki dua musim. Perbedaan musim ini mengharuskan perancangan green roof dilakukan secara adaptif. Tidak hanya itu, sulitnya proses pemeliharaan serta keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia menjadi rintangan dalam pengelolaan green roof.
Kota Sejuk Bukan Hanya Mimpi
Green roof terbukti sebagai solusi efektif untuk mengurangi efek urban heat island di perkotaan. Melalui berbagai penelitian, green roof tidak hanya menurunkan suhu dalam bangunan, tetapi juga menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk dan meningkatkan efisiensi energi. Implementasi di kampus menunjukkan bahwa green roof bermanfaat secara ekologis dan edukatif. Meskipun menghadapi banyak tantangan, pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu berkolaborasi. Dengan dukungan kebijakan dan kesadaran akan keberlanjutan, green roof merupakan inovasi yang revolusioner yang menawarkan solusi nyata.
Tulisan oleh Marschavinina Aryssa
Data oleh Alma Aulia Nabila
Layout oleh Cornelius Yosha Widyatama dan Grace Marta Sepgiani
