Beranda Berbagi Dalam Pandemi Jumat

Jumat

oleh Redaksi

Jumat, 13 Maret 2020, semua masih berjalan normal seperti biasa. Hari ke-2 USBN, tanpa sadar sama sekali kalau hari itu bisa jadi hari terakhir ngerasain yang namanya duduk di bangku sekolah. Hari itu, semua orang cepat-cepat langsung pulang, ingin segera belajar untuk USBK hari Senin. Hari itu bisa jadi hari terakhir untuk ngeliat teman-teman dan kita sendiri pakai baju seragam, tanpa ada yang mengucapkan perpisahan. Padahal, bisa jadi itu terakhir kalinya bisa berpelukan, jabat tangan, dan dekat-dekat tanpa harus takut bakal ada ancaman.

Rasanya, mulai dari hari itu waktu berjalan cepat sekali. Sampai Sabtu siang, semua orang masih sibuk belajar untuk hari Senin. Sore mulai muncul berita-berita kalau semua sekolah di Jakarta diliburkan. Mulai saat itu, grup mulai rame lagi. Semua orang berharap kalau Jawa Barat juga akan mengambil langkah yang sama. Rasanya, ini bisa jadi timing yang pas banget untuk rehat dari segala keruwetan di kelas dua belas ini. Rehat dari bayang-bayang USBK, UNBK, dan pastinya UTBK yang waktu itu kira-kira tinggal sebulan lagi.

Sampai Minggu siang, akhirnya pengumuman itu muncul. Virus corona mulai meresahkan semua pihak hingga memporak-porandakan banyak sekali agenda. Semua orang bahagia dengan pengumuman itu. Dengan senang hati lepas dari buku pelajaran yang tebal-tebal. Main segala permainan yang bisa dimainkan secara online; Ica-ica, werewolf, gatric, dan banyak lagi.

Rasanya, 16 Maret 2020 yang dulu menjadi salah satu tanggal menegangkan, berjalan begitu aja. Begitu pun dengan hari-hari penting lainnya. Tiba-tiba udah seminggu di rumah aja. Ada yang sudah menghabiskan waktu dengan ngambis buat belajar, ada yang ngabisin waktu drakoran, dan ada yang ngabisin waktu dengan cari aktivitas-aktivitas lain. Pengumuman sekolah di umahkan yang awalnya hanya selama dua minggu, diperpanjang lagi sampai 13 April 2020.

Semua orang bertanya-tanya mengenai nasib UNBK dan UTBK. Sampai hari itu, 24 Maret 2020 keluar pengumuman resmi bahwa UN ditiadakan. Rasanya, 30 Maret yang harusnya jadi hari yang menegangkan, menguap begitu aja. Pengumuman lain yang ditunggu pun akhrirnya menyusul. 6 April 2020 keluar pengumuman resmi mengenai jadwal UTBK yang awalnya tanggal April diundur hingga tanggal 5-12 Juli 2020. Bisa jadi banyak yang bahgia, tapi juga ada sedikit cemas. Semakin lama pasti setiap orang sudah semakin matang persiapannya. Semua orang berharap kalau 8 April 2020 bisa dapat kabar paling bahagia di antara semua hal rumit di 2020. Hari itu, semua orang menaruh harap agar tidak perlu menghadapi persaingan yang lebih ketat. Namun harap tinggalah harap. Ada yang bahagia, tapi lebih banyak yang harus penolakan.

Setelah hari itu, mau main online pun rasanya sulit. Semua orang berusaha mengupayakan yang terbaik karena bisa jadi ini satu-satunya kesempatan. Yang sudah bahagia bisa jadi semakin bahagia tapi banyak bosannya. Bisa jadi segala macam aktivitas sudah dicoba buat dilakuin.

Sampai akhirnya, 2 Mei 2020, keluar pengumuman kalau kita sudah lulus. Ngga salah sih kalau semua orang akhirnya sepakat kalau angkatan 2020 ini adalah angkatan yang lulus lewat jalur virus corona. Lulus tanpa ada graduation yang panitianya sudah dibentuk. Lulus tanpa memakai kebaya seragam yang sudah disiapkan sejak dua bulan lalu. Lulus yang pengumumannya hanya disampaikan lewat daring tanpa ada suasana yang benar-benar mengharu biru.

Sekarang, ngga ada yang tahu pasti bakal harus terus di rumah sampai kapan.  Padahal bisa jadi ketidakpastian adalah salah satu hal yang dibenci oleh banyak orang. Akan tetapi sepertinya, perjuangan di Sekolah Menengah Atas memang telah benar-benar usai. Pun, jika kondisi memang sudah kondusif dan sekolah sudah kembali dibuka, sepertinya sulit untuk berkumpul lengkap bersama kawan yang telah berjuang bersama selama tiga tahun ini.

Sekalinya masuk sekolah, bisa jadi kita sudah menempuh gedung yang berbeda dengan teman-teman yang berbeda juga tentunya. Namun itu pun masih belum jelas. Skenario belajar hingga akhir tahun terasa makin memungkinkan jika menilik kondisi yang masih belum ada penurunan penyebaran dari hari ke hari.

Bisa jadi kita angkatan pertama yang ospek nya online dan bahkan menjalani semester pertama tanpa bertatap muka langsung dengan orang-orang baru. Biarpun begitu, apapun yang terjadi, terimakasih ya kawan. Tidak apa. Kita seolah dipaksa berpisah tiba-tiba oleh takdir. Biar takdir juga yang nantinya mempertemukan kita dalam keadaan yang tidak terduga. Sampai bertemu di saat kita semua sudah menggunakan almamater yang berbeda dan punya kebanggan masing-masing. Terimakasih untuk tiga tahun yang berhenti tanpa saling berangkulan.

Ditulis oleh Anggraini Dwiansyah

Artikel Terkait