
Di tengah berkembangnya UMKM sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk yang ditawarkan. Penataan ruang, suasana, dan identitas visual sebuah tempat juga turut membentuk pengalaman pengunjung sehingga berperan dalam menciptakan daya tarik sekaligus mendukung keberlanjutan usaha.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Symposium Pre-Event WEX UGM 2026 hadir sebagai ruang belajar untuk melihat lebih dekat bagaimana arsitektur bekerja dalam keseharian UMKM. Melalui Symposium dan observasi lapangan, peserta diajak memahami bahwa ruang usaha bukan sekadar tempat berlangsungnya aktivitas, tetapi juga bagian penting yang dapat memperkuat karakter, nilai, dan daya tarik sebuah usaha. Ruang belajar ini juga bersifat inklusif, terbuka bagi siapa saja—mulai dari mahasiswa, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum yang ingin melihat lebih dekat bagaimana arsitektur bekerja dalam keseharian
Rangkaian kegiatan Symposium Pre-Event WEX UGM 2026 pada (14/03/2026) diawali dengan sesi talkshow yang menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang yang sama-sama dekat dengan dunia arsitektur. Dalam suasana diskusi yang hangat dan santai, keduanya membagikan pandangan mengenai bagaimana arsitektur dapat mendukung keberhasilan UMKM dari berbagai sisi.
Pada sesi talkshow pertama, WEX UGM 2026 menghadirkan Ariq Naufal, content creator di balik akun RQMN yang dikenal melalui konten inspiratif dan informatif seputar arsitektur. Dalam pemaparannya, Ariq menjelaskan bahwa meskipun produk tetap menjadi faktor utama yang menarik minat pengunjung, arsitektur memiliki peran sebagai elemen pendukung yang mampu memperkuat daya tarik tersebut. Melalui desain bangunan dan ruang usaha yang tepat, sebuah UMKM dapat membangun kesan pertama yang baik, memperkuat identitas usaha, dan mendorong pengunjung untuk datang kembali. Ariq juga menyoroti bahwa pengalaman pelanggan dibentuk oleh banyak hal, mulai dari kenyamanan ruang, tata letak, suasana, hingga elemen pendukung seperti aroma dan musik.
Pada sesi talkshow kedua, menghadirkan Ratri Sekar, co-founder Vert Terre—sebuah toko ramah lingkungan yang tidak hanya menjual produk berbahan alami dan berkelanjutan, tetapi juga aktif mengembangkan edukasi mengenai gaya hidup ramah lingkungan. Dalam pemaparannya, Ratri menekankan bahwa elemen arsitektur tidak harus selalu mahal. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana ruang mampu menciptakan kesan yang menarik dan tetap selaras dengan aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Dengan begitu, pengunjung tidak hanya datang untuk membeli produk, tetapi juga dapat merasakan pengalaman yang nyaman dan berkesan saat berada di dalam ruang tersebut. Bagi Ratri, arsitektur tidak hanya membentuk ruang secara fisik, tetapi juga mampu menghadirkan makna dan membangun kedekatan antara usaha dan pelanggannya.
Setelah sesi talkshow, peserta diajak mengikuti sesi collecting data sebagai bentuk penerapan langsung dari materi yang telah didapatkan. Dalam kegiatan ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diajak menyusuri kawasan Malioboro sambil singgah di beberapa titik UMKM, antara lain Batik Hayuningrat, Kedai Makan Tojoyo, dan Jaya Wall and Ethnic.
Selama proses observasi, peserta membawa WEXPLORE Passport sebagai media pengamatan yang diisi langsung di lapangan. WEXPLORE Passport berisi semacam alur perjalanan menelusuri toko satu ke toko lain dengan beberapa kriteria yang perlu diisi berdasarkan hasil pengamatan. Melalui passport tersebut, peserta diajak membaca ruang dengan lebih peka—mengamati bagaimana layout, penataan, dan suasana sebuah usaha bekerja dalam keseharian, membentuk kesan pertama, memengaruhi kenyamanan pengunjung, hingga menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi setiap individu.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, setiap kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil observasinya di hadapan peserta lain. Dalam pemaparan singkat tersebut, peserta menyampaikan branding apa saja yang disuguhkan, aspek ruang, kriteria observasi, dan hipotesis awal mengenai karakter ruang yang diamati, serta menilai pengaruhnya terhadap daya tarik tempat dan pengalaman pengunjung. Dari sesi ini, muncul beragam insight mengenai bagaimana ruang bekerja dalam sebuah usaha—mulai dari elemen sederhana yang mampu membentuk suasana, hingga keputusan desain yang dapat memperkuat identitas sebuah tempat.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Pre-Event WEX UGM 2026 tidak hanya menghadirkan ruang diskusi mengenai arsitektur dan UMKM, tetapi juga membangun kesadaran bahwa desain ruang memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar estetika. Arsitektur hadir sebagai medium yang mampu memperkuat identitas, membentuk pengalaman, serta menghadirkan nilai tambah yang relevan bagi keberlangsungan usaha. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi langkah awal yang bermakna untuk melihat UMKM dari sudut pandang yang lebih utuh—bahwa di balik sebuah usaha, selalu ada ruang yang bekerja dan berbicara.
Data dan Tulisan oleh Alma Aulia Nabila
Layout oleh Grace Marta Sepgiani Simanjuntak
Tim Liputan (Alma dan Grace)
