Beranda Claborasi Mendung, mendung. Mendung.

Mendung, mendung. Mendung.

oleh Redaksi

Malam kian kelam. Sementara para peronda mulai berkumpul di pos ronda yang berada di samping rumahmu. Aroma kopi dan asap rokok tercium pekat diantara candaan bengal soal gadis SMA serta politik remeh temeh pemilihan walikota. Komplek perumahan yang cukup kecil membuat mereka merasa bisa bersantai sejenak setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan, rengekan anak bayi yang meminta dot susu untuk diambilkan ataupun kondisi rumah yang menjemukan. Lalu Televisi dinyalakan, antena yang terlipat dibuka. Namun, di komplekmu TV hanya mengusir nyamuk. Lantaran tak ada yang tahu pasti siapa saja yang akan menonton benda tersebut, sebab mereka tahu acara TV sudah busuk, media massa terlanjur licik dan para pejabat tak bisa diandalkan. Mereka lebih percaya desas-desus, karena ia lebih terjamin dan sering terbukti.

Desas-desus yang paling diingat adalah soal kemunculan babi hutan. Hewan itu tiba tiba saja muncul di tengah lapangan bola. Ia tertombak di bagian kepalanya dan darah menggenangi sekujur badannya. Tak ada yang memelihara babi apalagi mempunyai tombak. Bahkan tak ada yang doyan memakan babi di komplek itu. Mereka tahu itu karena penjaja sate babi di pasar malam hampir tak pernah disambangi satupun orang sementara pembeli mie ayam akan mengantri sampai ke ujung komplek.

Tak ada yang tahu babi itu ada di tengah lapangan jika tak ada yang menyebarkan desas-desus. Desas-desus itu dibawa pertama kali oleh empat orang bocah yang hendak bermain sepak bola tapi tiba tiba saja berhamburan ke arah pos ronda yang penuh oleh orang tua mereka. Kemudian hal itu menyebar dari para bocah ke para orang tua itu lalu ke tukang sol sepatu yang lewat kemudian ke pak ustad lalu pak RT selanjutnya pak Lurah hingga kemudian satu komplek tahu kabar itu. Tak ada yang mengira bahwa hal tersebut benar terjadi, tetapi didorong oleh penasaran mereka pun berbondong bondong menuju lapangan bola. Mereka mencari babi itu. Hingga ditemukan jasadnya. Kemudian mereka bubar begitu saja karena azan berkumandang dan hujan mulai deras. Diam-diam semuanya sepakat akan mulai menguburkan babi itu ataupun membakarnya jika perlu, yang pasti setelah hujan reda.

Sama seperti kehadirannya yang aneh, babi itu menghilang dengan cara yang aneh pula. Dagingnya yang gemuk itu tiba tiba sudah habis, hanya menyisakan beberapa potongan tulang juga sebilah tombak yang tergeletak di samping tulang belulang tersebut. Hal ini diketahui oleh para pemuda yang sedari sore menunggu di pinggir jembatan dekat lapangan tapi tak ikut bubar. Dengan rasa percaya diri yang selangit mereka perlahan mulai memaksakan diri melihat babi tersebut meskipun hujan kian deras dan bahkan petir menyambar ke pepohonan di ujung gawang. Namun, hal naas itu terjadi. Mereka kehilangan jasad babi yang bahkan baru akan mereka foto untuk dimasukkan ke grup facebook daerah situ. Akhirnya, mungkin seluruh warga komplek tak akan pernah tahu soal kemunculan serta menghilangnya babi itu jika tidak melalui desas-desus. Karena tak ada foto, tak ada berita di koran, bahkan tak pernah ada himbauan dari kelurahan soal kewaspadaan warga akan hadirnya babi hutan.

Itulah cerita yang kau tuturkan padaku saat kita berdua terpaksa meneduh di warung seberang pos ronda itu. Hujan makin tak tentu usainya, sementara tiga batang rokok sudah dihabiskan oleh pak tua pemilik warung yang sedari tadi menemani perbincangan kita.

“Tapi disini gapernah ada lagi kejadian aneh kaya gitu mas, paling mentok cuma maling yang digebukin gara-gara dituduh ngambil kotak amal”

Ujar sang pak tua dengan santainya. Perlahan namun pasti ia kembali menghisap sebatang rokoknya dengan penuh kenikmatan.

Nyatanya ceritamu tidak sampai disitu. Ingatan masa lalu mulai hinggap lagi di kepala mungilmu. Kala itu umurmu masih 5 tahun. Dan bagimu tetangga adalah orang yang berjasa sekaligus menjengkelkan. Pagi buta seorang tetangga menggedor pintu orang-orang layaknya para penjaga sipir di penjara sebelah komplek. Kabar datangnya air dibawakan dari satu orang ke orang lain, meskipun banyak yang tak percaya. Mamah tak percaya sebab TV tak menyiarkan apapun kecuali propaganda jam 4. Tetapi kemudian penyesalan akan muncul seperti pengalaman-pengalaman pertama yang tak selalu berakhir baik lainnya. Hal selanjutnya yang masih kau ingat jelas adalah duduk diatas bangku yang telah ditumpuk ember dengan mie rebus yang terlalu matang dalam piring kecil dan garpu plastik. Sebab kini gelas, mangkok, panci, dan sendok terapung-apung di atas air coklat yang penuh kecoa yang sedang sekarat. Hari itu ada banyak air mata yang kau lihat, namun yang paling jelas adalah air mata mamah yang kalut sembari mengangkati pakaian dan air mata tetanggamu yang menangisi nasi bungkus yang tak kunjung datang hingga sore hari.

Dan barangkali takdir adalah hal yang lucu sekaligus menjemukan. Tak ada bantuan apapun sampai malam hari datang. Tetangga yang dahulu saling menggunjing kini harus menolong. Stok mie instan mulai dikumpulkan untuk kemudian dimasak lagi. Tenda-tenda didirikan di daerah tinggi belakang komplek yang tak tersentuh air. Tangisan, keluhan, dan tawa getir menyatu padu dalam kenyataan yang ganjil. Yang kentara dari malam itu adalah tangisan bayi tetanggamu yang gerah dan gerakan kipas bolak-balik dari tangan mamah.

Ceritamu tiba-tiba berhenti. Sekumpulan pemuda komplek muncul tergopoh-gopoh dari arah kali. Satu kata diteriakkan berulang-ulang dalam nada frustasi. Pos ronda mendadak bubar. TV tetap menyajikan siaran ulang pertandingan bola. Dan para warga mendadak mengeluarkan kendaraan-kendaraan mereka ke belakang komplek. Sepi mendadak mati malam itu. Kini semuanya ramai oleh suara kembang api diatas langit Jakarta, hilir mudik suara motor di depan rumah, teriakan ibu-ibu tetanggamu dan tentu saja kita berdua yang masih bisa tertawa getir seraya berlari di tengah hujan yang makin menggila.

Pada akhirnya tahun baru kita kali ini bermakna spesial. Meskipun tak ada lagu-lagu The Beatles yang diputar, sebab hujan tak pernah berhenti dan aku harus membantumu menggotong setumpuk pakaian. Tak ada pula bocah banal yang menggoda pakaianmu karena kini kau saja harus menyelamatkan setumpuk buku referensi skripsimu. Juga tak ada acara bakar-bakar di teras seorang kawan lantaran terasmu saja sudah dimasuki air. Dan sepertinya tak ada pagi yang datang, sebab malam tetap menghitam, sehitam tumpukan sampah di ujung kali.

Ditulis oleh Khoirul Akmal

Artikel Terkait