Beranda Sipiloka Optimalisasi Layanan Angkutan Umum Melalui Sistem Integrasi Antarmoda

Optimalisasi Layanan Angkutan Umum Melalui Sistem Integrasi Antarmoda

oleh Redaksi

Saat ini, setidaknya ada dua jenis angkutan penumpang berdasarkan kepemilikan kendaraan yang beroperasi di Indonesia. Jenis angkutan tersebut adalah angkutan umum dan angkutan pribadi. Di antara kedua angkutan itu, angkutan manakah yang lebih disukai masyarakat Indonesia?

Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Transportasi Darat Bali melakukan survei kepada sejumlah masyarakat pada Desember 2020 lalu. Survei dilakukan untuk mengetahui tingkat ketertarikan masyarakat terhadap angkutan pribadi, angkutan umum, dan transportasi online berdasarkan persepsi masyarakat itu sendiri.

Hasil survei menunjukkan bahwa angkutan pribadi menjadi angkutan yang paling sering digunakan selama bepergian, disusul dengan transportasi online, kemudian angkutan umum di urutan terakhir. Dari hasil survei ini, bisa dilihat bahwa kebanyakan responden tidak suka bepergian menggunakan angkutan umum.

Selain jarang dimanfaatkan, angkutan umum juga berada di urutan terakhir berdasarkan kemudahan, kenyamanan, dan kecepatan perjalanan. Persepsi lain yang muncul dari responden tentang transportasi umum adalah tipe transportasi tersebut dinilai paling tidak aman dan membingungkan.

Menggunakan angkutan pribadi sebagai pilihan untuk bepergian memang tidak salah. Akan tetapi, apabila kebanyakan masyarakat masih menggunakan angkutan pribadi sebagai pilihan utama, jumlah kendaraan di jalan tentu akan semakin banyak. Ditambah dengan jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat, hal itu dapat memperparah kemacetan jalan raya ke depannya.

Transportasi Umum di Indonesia
Transportasi umum seharusnya dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Meskipun demikian, transportasi jenis ini kurang diminati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Masyarakat masih memilih transportasi pribadi karena dianggap lebih cepat, nyaman, praktis, dan murah.

Kurangnya minat masyarakat terhadap moda transportasi umum bisa disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut:

1. Membingungkan
Apabila tidak ada petunjuk yang jelas, penumpang, terutama yang baru pertama kali menggunakan angkutan umum, bisa saja dibuat bingung dengan alur dan aturan yang harus diikuti.

2. Memakan waktu
Tidak semua transportasi umum bisa mengantarkan penumpang sampai ke daerah tujuan. Biasanya, penumpang harus berganti moda beberapa kali. Saat sudah sampai di daerah tujuan pun, penumpang harus menggunakan angkutan tambahan untuk benar-benar sampai ke tempat yang dituju.

3. Kurang nyaman
Penggunaan kendaraan angkutan umum yang sudah tua dan sudah tidak layak dapat menjadi alasan mengapa masyarakat enggan menggunakan angkutan umum. Selain itu, fasilitas pendukung difabel yang masih minim membuat mereka kesulitan untuk menggunakan sarana dan prasarana angkutan umum.

4. Dinilai kurang selamat
Kasus pencopetan yang masih sering terjadi di moda angkutan umum membuat masyarakat merasa kurang aman bepergian dengan memanfaatkan moda tersebut. Sopir yang terkadang masih mengebut untuk mengejar target setoran juga membahayakan penumpang.

Dalam hal ini, perbaikan infrastruktur transportasi umum sangat dibutuhkan untuk menambah daya tarik masyarakat sehingga dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan. Salah satu bentuk perbaikan infrastruktur moda transportasi umum yang sudah direncanakan adalah perbaikan integrasi antara dua atau lebih jenis moda transportasi umum. Proses integrasi tersebut dikenal dengan istilah integrasi antarmoda.

Integrasi Antarmoda
Integrasi antarmoda merupakan suatu sistem transportasi yang secara berkesinambungan (single seamless services) dapat memindahkan penumpang ataupun barang dari titik asal ke titik tujuan (dari simpul ke simpul). Integrasi antarmoda diarahkan pada keterpaduan jaringan pelayanan dan jaringan prasarana.

Moda transportasi umum seperti TransJakarta tidak bisa menjangkau semua penumpang (terutama yang tinggal di daerah pelosok). Oleh karena itu, mereka harus menggunakan angkutan pribadi atau jasa transportasi lain seperti ojek atau taksi terlebih dahulu.

Untuk mengatasi permasalahan itu, perlu dibuat integrasi antarmoda yang bisa melayani sampai ke tempat tinggal penumpang tersebut. Plt Dirut PT Transportasi Jakarta Yoga Adiwinarto saat wawancara dengan Antaranews (24/03/2020), mengatakan bahwa cara yang dilakukan adalah dengan mengintegrasikan TransJakarta dengan angkutan yang bisa melayani sampai ke daerah-daerah pelosok. Hal itu dinilai lebih baik daripada harus memanjangkan koridor sampai menjangkau daerah tersebut.

Selain sistem yang terpadu, integrasi antarmoda juga memberikan kemudahan saat ingin berpindah moda. Pergantian moda, sebelum terintegrasi, biasanya memakan waktu lebih banyak. Lamanya penumpang dalam berpindah moda bisa saja terjadi karena mereka harus berjalan jauh untuk sampai ke moda selanjutnya. Kondisi jalur yang kurang mendukung (misalnya jalur sempit, gelap, panas, atau berkubang saat hujan turun) juga mempersulit perpindahan tersebut.

Bentuk integrasi dapat berupa penambahan infrastruktur penunjang efisiensi dan kenyamanan saat berpindah moda. Untuk meningkatkan efisiensi waktu berpindah, dapat berupa adanya koneksi dan penyeberangan langsung dari satu moda ke moda lainnya. Penambahan kenyamanan pengguna moda bisa dengan pemasangan peneduh, pelebaran trotoar, dan percantikan muka bangunan aktif.

Pembayaran tarif yang belum terintegrasi mengharuskan masyarakat untuk memiliki berbagai macam alat pembayaran untuk setiap moda yang digunakan. Otomatis, pembayarannya juga dilakukan berulang-ulang setiap berpindah moda sehingga bisa saja pembayaran yang dikeluarkan penumpang menjadi lebih besar.

Oleh sebab itu, pembayaran tarif diintegrasikan menjadi satu berdasarkan jarak atau waktu yang dibutuhkan. Contoh, Transjakarta, MRT, LRT, dan KRL sebagai satu kesatuan layanan, dapat memberikan kemudahan akses berpindah moda dan memungkinkan untuk menggunakan moda yang berbeda dalam satu kali pembayaran dengan tarif yang terintegrasi. Selain pembayaran yang terintegrasi, bantuan pembayaran juga bisa dengan pemberian tarif khusus, misalnya kepada pelajar, orang tua, turis, penyandang disabilitas, dan sebagainya.

Singkatnya, Integrasi antarmoda memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan moda yang beroperasi secara terpisah. Pertama, penumpang yang rumahnya sulit terjangkau tidak perlu lagi memesan ojek atau taksi secara terpisah untuk bisa sampai ke sarana transportasi umum. Kedua, waktu untuk berpindah dari satu moda ke moda yang lain menjadi lebih cepat dan nyaman. Adanya koneksi dan penyeberangan langsung membuat jalur yang ditempuh menjadi lebih pendek.

Ketiga, pembayaran yang dilakukan menjadi lebih praktis. Ibarat ada lima jenis kartu angkutan umum yang harus dibawa setiap kali bepergian. Dengan sistem yang sudah terintegrasi, kartu yang harus dibawa menjadi cukup satu. Adanya Integrasi antarmoda juga memungkinkan penumpang untuk berurusan hanya dengan satu agen saja. Hal tersebut tentu memudahkan proses asuransi dan pertanggungjawaban.

Integrasi Antarmoda di Indonesia
Sebenarnya, integrasi antarmoda sudah diterapkan di kota-kota besar Indonesia, salah satunya Jakarta. Kendati demikian, integrasi yang ada masih belum optimal. Sebagai contoh, integrasi di Simpang CSW, Cawang Cikoko, dan Halte TransJakarta Juanda dengan Stasiun KRL Juanda.

Untuk Simpang CSW, lokasi ini merupakan perpotongan antara Koridor 1 dan 13 TransJakarta dengan MRT. Halte TransJakarta CSW yang berada di ketinggian 23 meter hanya memiliki akses tangga dan belum ada koneksi langsung dengan Stasiun MRT Sisingamangaraja yang berjarak kurang dari 100 meter di sebelah utara.

Pada Cawang Cikoko, fasilitas koneksi TransJakarta dengan KRL masih minim. Penumpang
harus melalui jalur pejalan kaki yang hanya selebar 90 cm jika ingin mengakses sisi selatan.
Kondisi semakin parah ketika malam atau hujan dengan minim pencahayaan dan kondisi jalur
yang penuh kubangan.

Halte TransJakarta Juanda dengan Stasiun KRL Juanda memang sudah memiliki koneksi jembatan penyeberangan orang (JPO). Namun, JPO TransJakarta tersebut hanya dibangun sampai trotoar di ujung stasiun. Setelah turun dari JPO, penumpang harus naik lagi menuju concourse (tempat terbuka di stasiun) sampai ke platform KRL. Hal ini membuat pergerakan penumpang menjadi kurang efisien.

Contoh Perbaikan Integrasi Antarmoda
Pada Simpang CSW, saat ini sedang dibangun jembatan layang (skybridge) yang menghubungkan pintu masuk stasiun dengan jembatan layang melingkar. Jembatan layang ini akan mengintegrasikan Halte TransJakarta Koridor 1 (Blok M-Kota) dan Koridor 13 (Ciledug- Mampang) dengan Stasiun MRT ASEAN.

Lebih detailnya, jembatan layang tersebut akan dibangun sebanyak lima lantai. Lantai pertama digunakan sebagai halte baru TransJakarta Koridor 1 Blok M-Stasiun Kota. Lantai dua dan tiga menjadi area komersial yang diisi dengan retail dan toko. Lantai empat berupa akses menuju Halte TransJakarta CSW. Terakhir, lantai lima dibangun sebagai halte CSW itu sendiri.

Jembatan layang CSW tersebut dilengkapi dengan eskalator, elevator, dan tangga darurat sebagai akses antarlantai. Ke depannya, para penumpang baik pengguna MRT Jakarta maupun TransJakarta dapat mengakses kedua moda itu melalui jembatan layang.

Jak Lingko Indonesia
Seperti yang sudah dijelaskan, integrasi antarmoda tidak hanya dalam bentuk fisik saja. Integrasi antarmoda transportasi juga dapat dilakukan pada sistem pembayarannya. Sistem pembayaran yang terintegrasi bisa dengan pembayaran menggunakan kartu pintar (smartcard) untuk berbagai jenis layanan.

Dalam hal ini, Jak Lingko Indonesia berdiri untuk melakukan pengelolaan dan pengusahaan integrasi tarif dan pembayaran antarmoda Jabodetabek. Rencana ini telah dicanangkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, bersama Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo pada tahun 2020. Program ini direncanakan untuk menggantikan program lama OK-Otrip yang digagas oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Yang tidak kalah penting, integrasi layanan juga menjadi faktor yang diperhitungkan dalam Jak Lingko. Lewat Jak Lingko, TransJakarta menghadirkan layanan MikroTrans. Layanan ini mampu menjangkau pelosok yang tak tersentuh MRT, LRT, dan bus ukuran besar. Dengan demikian, penumpang yang bertempat tinggal di daerah pelosok tidak perlu menggunakan angkutan pribadi untuk sampai ke sarana angkutan umum. Mereka tetap dapat merasakan pengalaman menggunakan angkutan umum dari titik asal ke titik tujuan.

Jak Lingko sendiri merupakan program unggulan untuk integrasi layanan transportasi yang dimiliki Jakarta. Jak Lingko memiliki peran besar sebagai gerbang menuju kota berkelanjutan, yaitu integrasi transportasi di berbagai jalur di Ibu Kota.

Diharapkan, integrasi antarmoda yang lebih efektif juga bisa diterapkan di daerah lain di Indonesia. Tidak hanya di Jakarta, beberapa kota besar lainnya yang sering mengalami kemacetan perlu menjadi prioritas untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur antarmoda ini.

Kenyamanan, kemudahan mobilitas, dan penghematan biaya sangat diperlukan dalam rangka menarik minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi umum. Setelah pembangunan dan perbaikan infrastruktur integrasi antarmoda, diharapkan masyarakat akan lebih memilih transportasi umum sebagai pilihan moda dalam bepergian. Dengan begitu, jumlah kendaraan pribadi di jalan raya akan menurun dan angka kemacetan pun turut mengurang.

Data oleh Satria Handar Pratista
Tulisan oleh Hakan Malika Anshafa
Ilustrasi oleh Arieq Zulian

Artikel Terkait