Beranda OpiniKontribusi Sekolah Offline : Dinanti atau Dihindari?

Sekolah Offline : Dinanti atau Dihindari?

oleh Redaksi

Sejak pandemi Covid-19 mengganas di tanah air, kebijakan belajar dari rumah melalui media daring (online) menjadi pilihan satu-satunya bagi pelajar Indonesia. Pada awalnya, kebijakan tersebut disambut hangat oleh pelajar Indonesia. Selain untuk menekan penularan virus Covid-19, sekolah online memiliki kesenangan tersendiri seperti waktu belajar yang fleksibel. Selain itu, terkhusus bagi pelajar perantau, belajar dari rumah dapat memberikan waktu untuk pulang kampung menikmati kebersamaan dengan keluarga. Lantas, mengapa akhir-akhir ini pelajar Indonesia justru menuntut sekolah offline?

Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah memasuki tahun kedua terhitung sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan oleh Presiden Jokowi pada bulan Maret tahun lalu. Tidak lama berselang dari pengumuman kasus pertama, beberapa sekolah memutuskan untuk memulai pembelajaran jarak jauh dari rumah atau yang dikenal dengan sekolah online. Pemberlakuan sekolah online awalnya hanya berdurasi selama dua minggu. Namun, akibat penambahan kasus harian Covid-19 yang tinggi, kebijakan sekolah online menjadi diperpanjang dan masih berlaku hingga saat ini. Beberapa sekolah sebenarnya sudah sempat melakukan simulasi sekolah offline secara terbatas. Akan tetapi, setelah ditinjau ulang, pembukaan sekolah dinilai belum tepat melihat situasi yang semakin memburuk.

Pelajar Menuntut Sekolah Offline

Pemberlakuan sekolah dari rumah yang berlangsung terlalu lama menyebabkan munculnya banyak protes dari kalangan pelajar, menuntut agar sekolah kembali dibuka. Alasannya beragam mulai dari bosan belajar online hingga sulit memahami materi yang diberikan. Desakan agar sekolah segera dibuka makin diperkuat dengan adanya dukungan orang tua pelajar yang juga kesulitan dalam mendampingi anaknya bersekolah Ditambah lagi, kasus kekerasan anak yang meningkat selama pandemi membuat masyarakat menuntut agar sekolah kembali dibuka.

Sekolah Offline : Dinanti atau Dihindari?

Meski banyak yang menuntut agar sekolah kembali dibuka, sebagian pelajar justru mengaku masih nyaman dengan sekolah online. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa meski dinilai kurang efektif, sekolah online nyatanya juga memiliki banyak kelebihan. Misalnya, banyak pelajar yang menyukai sekolah online karena dinilai lebih fleksibel dan mudah, tidak harus ke sekolah, dan diberi salinan materi. Selain itu, pelajar juga tidak banyak mengeluarkan uang karena tidak perlu biaya transportasi serta tugas yang serba online tanpa harus dicetak. Melihat adanya perbedaan dua sisi pendapat tentang sekolah online tersebut, lantas apakah sebaiknya sekolah online dilanjutkan atau tidak?

Sekolah online dan sekolah offline sebenarnya memiliki kelebihan serta kelemahan masing-masing. Melihat situasi pandemi yang masih sangat riskan dan kasus harian Covid-19 yang masih tinggi, sekolah offline memang sangat dihindari untuk saat ini. Hal ini bukan tanpa alasan karena sekolah offline berpotensi untuk menjadi klaster baru penyebaran virus Covid-19. Akan tetapi, jika memang mengharuskan sekolah offline, sebaiknya diberlakukan protokol kesehatan yang ketat. Selain itu, pemberlakuan sekolah offline diharapkan tidak secara keseluruhan, tetapi secara parsial atau blended learning.

Tulisan oleh Yahya Wijaya Pane (UPN “Veteran” Yogyakarta)

Artikel Terkait