PIONIR Gadjah Mada 2025 Bukan Sekadar Event, Tapi Movement!

PIONIR Gadjah Mada merupakan kegiatan masa pengenalan mahasiswa oleh Universitas Gadjah Mada yang dilaksanakan tiap tahun dan diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang baru saja memasuki dunia perkuliahan—yang biasanya disebut GAMADA (Gadjah Mada Muda). PIONIR Gadjah Mada menjadi jembatan emas para GAMADA untuk memperoleh bekal-bekal dalam memasuki jenjang perkuliahan seperti pengenalan kampus, penggalian potensi lebih dalam, penanaman nilai-nilai ke-UGM-an, dan juga pendidikan karakter pemimpin-pemimpin muda. Dari kegiatan ini, diharapkan para GAMADA dapat lebih siap untuk menghadapi dunia perkuliahan dan lebih siap untuk memberikan kontribusi di tingkat lokal maupun global sebagai calon-calon pemimpin muda di masa mendatang. Selain itu, GAMADA juga diharapkan dapat menanamkan prinsip “SANG JUARA” (Santun, Adil, Nasionalis, Gembira, Jujur, Unggul, Amanah, Religius, dan Andal). 

PIONIR Gadjah Mada mulai hadir sejak 2012 dengan nama dan juga konsep yang berbeda. Dulunya, kegiatan ospek di Universitas Gadjah Mada ini masih banyak dibumbui dengan kekerasan oleh kakak tingkat terhadap adik tingkat. Lalu, pada tahun 2009, kegiatan ospek ini menekankan prinsip antikekerasan dalam semua bentuk. Akan tetapi, walaupun sudah mengusung prinsip tersebut, masih banyak ditemukan permasalahan yang justru harus dihindari. Seiring berjalannya waktu, prinsip tersebut terus dikembangkan seperti berfokus pada antikekerasan, isu kekerasan seksual, isu kesehatan mental, dll. Selain itu, mereka juga berusaha meneguhkan komitmen-komitmen dari prinsip yang diusungnya—kemudian menciptakan prinsip baru yang tak kalah hebat juga pada ospek Universitas Gadjah Mada dari tahun ke tahun. 

Tahun ini, PIONIR Gadjah Mada mengusung tema “Kontribusi Gadjah Mada Muda, Gemilang Cita Indonesia”. Sama meriahnya dengan tahun kemarin, para GAMADA tahun ini ada sebanyak 10.629 orang. Bahkan, tidak sedikit juga yang berasal dari negara lain, seperti India, China, Pakistan, Malaysia, Timor Leste. Dimulai sejak embun udara pukul enam pagi yang masih dingin, tersimpan bara semangat mahasiswa-mahasiswa baru yang juga disambut dengan para co-fasilitator dengan setelan merah muda yang mewarnai hijaunya Lapangan Pancasila bak bunga, juga disambut dengan cuaca cerah berawan dengan matahari yang semakin terik. Para GAMADA datang dan mencari gugus mereka masing masing dengan berbalut jas almamater, bertopi caping, dan menenteng puspakara yang telah dibuat dari cardboard dan juga kertas asturo dengan berbagai warna. Setelah para GAMADA berada di gugusnya masing-masing, mereka diarahkan oleh para co-fasilitator untuk duduk di lapangan sesuai dengan barisan dan gugusnya. 

Setelah itu, dilanjutkan dengan Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pembukaan PIONIR Gadjah Mada 2025 yang ber-tagline-kan “Pionir Gadjah Mada  2025: Kuatkan Sinergi, Kembangkan Potensi, Wujudkan Mimpi”. Rangkaian acara ini dimulai dengan sambutan dari Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, memotivasi untuk mengurangi jumlah sampah melalui teori dan praktik pemilahan sampah yang diimplementasikan dalam rangkaian Pionir Gadjah Mada untuk membangun kesadaran lingkungan kepada GAMADA.

Rangkaian acara pun diteruskan dengan penyematan jas almamater oleh wakil rektor kepada perwakilan dari tiap-tiap fakultas, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi Bisnis, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Fakultas Psikologi, sebagai tanda bahwa mahasiswa baru resmi menjadi bagian dari Universitas Gadjah Mada. Diikuti oleh Janji GAMADA yang dipimpin oleh Mahasiswa Berprestasi dan juga menyanyikan Hymne Gadjah Mada. Tak lama berselang, penyerahan GAMADA kepada KGPAA Paku Alam X menandakan bahwa GAMADA resmi menjadi bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta. 

“Tinggalkan romantisme. Tinggalkan kebiasaan yang tidak konstruktif. Tingkatkan kebiasaan yang berorientasi pada kebermanfaatan kolektif.”

—  Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D.,

Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pembukaan PIONIR Gadjah Mada 2025 selesai pada pukul 08.15 dengan cuaca yang terik dan udara yang segar. GAMADA dipersilakan duduk kembali dan diperdengarkan anthem PIONIR Gadjah Mada. Lalu, dilanjut dengan pertunjukan musikalisasi dari berbagai UKM yang menyentuh hati para mahasiswa baru. Diikuti dengan penayangan video drama sambutan, juga diputarkan lagu Laskar Pelangi karya Nidji yang dinyanyikan bersama oleh GAMADA dan panitia.

Kegiatan di Lapangan Pancasila ini ditutup dengan tarian selebrasi. Selanjutnya, GAMADA moving ke ruangan masing-masing sesuai gugus untuk melakukan sesi terpisah yang berupa penerimaan materi-materi dan juga games-games seru lainnya serta membuat kenangan-kenangan indah yang tak akan terlupakan sebagai GAMADA. Cerita di ruang kelas ini dimulai dengan Sapa Cofas sebagai awal dari perkenalan mereka, dilanjut dengan penerimaan materi Note Taking mengenai metode-metode mencatat, dan dilanjutkan dengan materi Toleransi, Multikulturalisme, serta Cinta Tanah Air. Rangkaian tersebut dipotong dengan jam ibadah dan istirahat pada siang hari. Mereka pun diarahkan menuju tempat ibadah lalu dilanjutkan dengan istirahat dan juga makan siang sebelum memasuki sesi berikutnya yaitu penerimaan materi lagi. Materi-materi pada PIONIR Gadjah Mada ini bertujuan agar mereka mempersiapkan diri sebelum memasuki kelas pada perkuliahan, lebih mengenal lingkungan sekitarnya, juga tak lupa mengenai kesehatan mental mereka, dan materi-materi bermanfaat lainnya, seperti Keistimewaan Yogyakarta, Literasi Digital, Integritas Akademik, Academic Honesty, Academic Misconduct, dan Social Awareness. Rangkaian acara pionir pertama ini selesai pada jam 16.00 WIB. Para mahasiswa baru dengan jas almamater goni ini pun mewarnai sepanjang jalan. Mereka kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing, beristirahat, dan mempersiapkan diri untuk mengikuti rangkaian acara pada keesokan harinya.

Hari kedua PIONIR Gadjah Mada pun menjadi kelanjutan perjalanan para GAMADA, menghadirkan rangkaian kegiatan yang tak kalah menarik. Tidak seperti hari pertama yang mengawali kegiatan di Lapangan Pancasila, lokasi kedatangan hari kedua PIONIR Gadjah Mada berada di kelas fakultas/sekolah yang sudah mereka datangi pada hari pertama. Pagi hari mereka diawali dengan Kuliah Umum Ke-UGM-an pada auditorium di masing-masing fakultas/sekolah. Kuliah Umum ini ditujukan untuk para mahasiswa baru agar lebih mengenal lagi lebih dalam mengenai Universitas Gadjah Mada seperti filosofi, nilai-nilai, sejarah, dll. Juga bertujuan agar bisa menghargai jasa-jasa para tokoh pendiri UGM.

Setelah kuliah umum selesai, mereka moving ke ruangan kelas masing-masing untuk sesi selanjutnya yang membahas mengenai implementasi nilai-nilai ke-UGM-an, dilanjut dengan UGM 2025 and Beyond, dan pemaparan materi pagi ini diakhiri dengan Safety Health Environment (SHE), Health Promoting University (HPU), dan Kesehatan Fisik. Pada beberapa rangkaian pemaparan materi, GAMADA tidak hanya sebatas duduk dan mendengarkan, tetapi diiringi dengan sesi interaktif dan seru yang membuat mereka tidak stres, senang, tetapi juga tetap berambisi dalam setiap sesi. Ruangan kelas mereka setiap harinya diwarnai dengan canda tawa dalam sesi-sesi materi interaktif seperti membuat suatu karya, quiz-quiz seru, bermain games, hingga berdiskusi kelompok. Inilah yang membuat setiap langkah GAMADA pada PIONIR Gadjah Mada menjadi sangat berkesan. 

Mereka juga diperkenalkan eLOK yang merupakan sistem e-learning yang biasanya digunakan pada proses belajar mengajar di Universitas Gadjah Mada. Ini akan memudahkan mereka ketika kuliah mulai nanti karena mereka sudah dikenalkan dengan eLOK sebelumnya pada PIONIR Gadjah Mada. 

Setelah sesi pertama selesai, mereka pun diarahkan untuk ibadah dan istirahat selama 1 jam. Lalu, dilanjutkan dengan penerimaan materi berupa Fasilitas UGM, Manajemen Keuangan, dan juga diakhiri dengan Dinamika Kelompok. Sama seperti hari sebelumnya, rangkaian hari kedua ini selesai pada pukul 16.00 WIB sore.

Hari pertama dan hari kedua pada rangkaian acara ini berbeda dengan hari ketiga dan hari keempat. Dua hari setelah PIONIR Gadjah Mada ini, mereka pun mengikuti PIONIR Fakultas di fakultas mereka masing-masing. PIONIR Fakultas ini memiliki nama dan juga kegiatan yang beragam, seperti PIONIR Psikologi Rumah Kita oleh Fakultas Psikologi, PIONIR Kesatria oleh Fakultas Teknik, PIONIR Justicia oleh Fakultas Hukum, PIONIR Kampung Budaya oleh Fakultas Ilmu Budaya, PIONIR Simfoni oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis, PIONIR Morfogenesis oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, PIONIR Pascal oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, PIONIR Organik oleh Fakultas Pertanian, PIONIR Pelestari oleh Fakultas Kehutanan, PIONIR Vetebrae oleh Fakultas Kedokteran Hewan, PIONIR I-Dentistry oleh Fakultas Kedokteran Gigi, PIONIR Society oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, PIONIR Rancher oleh Fakultas Peternakan, PIONIR Agrophoria oleh Fakultas Teknologi Pertanian, PIONIR Permadani oleh Sekolah Vokasi, PIONIR Geospace oleh Fakultas Geografi, PIONIR Dialektika oleh Fakultas Filsafat, PIONIR Papyrus oleh Fakultas Farmasi, dan PIONIR Metamorphoself oleh Fakultas Biologi.

Memasuki hari ketiga dan keempat yaitu PIONIR Fakultas, tidak lagi berkumpul di fakultas/sekolah gugus, para GAMADA berkumpul di fakultas/sekolah masing-masing untuk menjalani kegiatan yang telah dipersiapkan. Untuk PIONIR Kesatria sendiri yang penyelenggaranya adalah Fakultas Teknik pada tahun kali ini mengusung tema “Satyakara” yang dilambangkan dengan Burung Cendrawasih dan bermakna keberanian aksi yang bijaksana dengan mengandung esensi nilai-nilai kritis serta inovatif. Kesatria Muda dianalogikan sebagai Burung Cendrawasih—pemimpin muda yang kritis, inovatif, pemberani, dan bijaksana. 

Para Kesatria Muda dikumpulkan di Tugu Fakultas Teknik untuk mencari gugus fakultas mereka masing-masing dan melakukan pengecekan atribut. Untuk atribut di PIONIR Kesatria sendiri, para Kesatria Muda diinformasikan untuk membawa name tag, topi cap berwarna hitam, perlengkapan untuk formasi angkatan, dll. Mereka pun berbaris di gugus masing-masing sambil menunggu teman-teman mereka yang belum datang. Area tugu teknik pun diwarnai dengan taunting antargugus, tetapi ini hanya candaan semata saja. Agenda pertama PIONIR Kesatria ini ditemani dengan cuaca cerah berawan dan matahari tidak begitu terik. Setelah itu, tarian selebrasi PIONIR Kesatria yang energik pun menyambut para Kesatria Muda. Disusul juga oleh Supersonik (Supporter Solid Teknik) yang turut menyambut wajah baru 1.739 Kesatria Muda dengan melantunkan chant Supersonik yang penuh semangat membara.

Setelah itu, Upacara Pembukaan PIONIR Kesatria pun dimulai pada pukul 07.10 WIB di halaman depan gedung SGLC. Pimpinan fakultas teknik masuk diiringi musik dan tarian tradisional sebagai penghormatan sekaligus sambutan. Setiap elemen tarian mengandung makna simbolik (jarik dan motif batik berarti kekayaan budaya, selendang berarti kelembutan, sanggul berarti kewibawaan dan kerapian, dan bunga melati simbol kesucian serta budi pekerti). 

“Selamat datang di rumah baru, tempat langkah kalian akan dimulai.”

—  Koordinator Umum PIONIR Kesatria, Angeli Juana Patricia

Dilanjut dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Teknik, Prof. Selo, ST., M.T., M.Sc., Ph.D., para Kesatria Muda diperkenalkan kepada jajaran dekanat. Disusul oleh penyampaian pesan pesan terkait tegak SHE (Safety, Health, and Environment), larangan merokok, dan himbauan untuk tidak berbuat hal hal yang menyeleweng dari etika akademik. Usai penyampaian pesan-pesan dan juga wejangan oleh para pengisi upacara. Akhir upacara pun ditutup dengan Paduan Suara dengan nyanyian Rayuan Pulau Kelapa dan juga penampilan seni teater yang sangat meriah karena suasananya yang ramai dan para Kesatria Muda excited mendukung tokoh yang mempresentasikan gugus mereka masing-masing, seperti Srikandi, Abhiyasa, Abimanyu, Gatotkaca, Batari, Sadewa, dan Subadra.

Lalu, diikuti dengan agenda Jalan-Jalan Teknik yang dimana para pengurus BSO Teknik memperkenalkan BSO mereka kepada para Kesatria Muda, seperti Cendekia Teknik, LPKTA, Club Fiagra, Keluarga Muslim Teknik, KMKT, PMKT, dan Satu Bumi. Usai pengenalan BSO, mereka pun lanjut tour yang dipandu oleh pemandu gugus mereka masing-masing. Agenda Jalan-Jalan Teknik ini bertujuan untuk memperkenalkan lembaga, lingkungan dan departemen, fasilitas, serta membangkitkan semangat dan ketertarikan mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada Kesatria Muda.

Setelah Jalan-Jalan Teknik selesai, para Kesatria Muda pun diarahkan ke kelas masing-masing sesuai dengan gugus mereka yang dipandu oleh pemandu. Di ruang kelas, mereka menerima penyampaian materi interaktif oleh pemandu yang bertujuan untuk membekali para Kesatria Muda sebelum memasuki dunia perkuliahan secara langsung. Lalu, diakhiri dengan ibadah dan istirahat pada pukul 11.40 WIB. Selanjutnya, para Kesatria Muda pun diarahkan kembali menuju halaman depan Gedung SGLC untuk mengikuti Cerita Act dan disusul dengan penutupan hari pertama Pionir Kesatria. Lalu, rangkaian kegiatan ini dilanjutkan dengan Info Day di departemen mereka masing-masing yang bertujuan agar mereka mengenal lebih dalam mengenai departemen mereka.

Masuk ke hari berikutnya, yakni hari ke-4, para mahasiswa masih melaksanakan PIONIR Fakultas. Dimulai dari para Kesatria Muda yang berkumpul di gugus mereka masing-masing dan melakukan pengecekan atribut selama 10 menit, lalu mereka moving untuk agenda selanjutnya, yaitu Pameran Karya yang terletak di Halaman Depan Gedung SGLC, hingga departemen-departemen. Pameran Karya ini dilakukan oleh BEM & MPM, GMAT, Reactics Chem-e-car, GMBB, GMRT, Arjuna, Gamantaray, Gamaforce, Semar, Bimasakti. Tidak hanya duduk dan melihat, beberapa Kesatria Muda juga diberi hadiah karena berhasil menjawab kuis ataupun mengajukan pertanyaan. 

Usai Pameran Karya, para Kesatria Muda pun diarahkan kembali ke halaman depan Gedung SGLC untuk mengikuti sesi Talkshow bersama Pak Anies Baswedan.

“Masa depan didapat oleh orang yang mau melaju.”

“Kemajuan hanya lahir dari orang orang yang berpikir kritis.” 

—  Anies Rasyid Baswedan 

Pak Anies pun melanjutkan penjelasan-penjelasan yang dapat membuka pandangan para mahasiswa baru untuk memasuki perkuliahan. Beliau mengatakan bahwa Indeks Prestasi (IP) memang penting. Nilai yang tinggi dapat membuka jalan menuju wawancara, tetapi yang akan benar-benar mengantarkan seseorang pada keberhasilan adalah kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan daya nalar. Oleh karena itu, IP perlu dijaga sesuai standar minimal, misalnya prasyarat beasiswa S2. Namun, tidak boleh menjadi satu-satunya tolak ukur kesuksesan.

Beliau menjelaskan bahwa menjadi mahasiswa berarti aktif di dua ruang sekaligus, yaitu di dalam kelas untuk memperdalam kompetensi akademik dan di luar kelas untuk mengasah kemampuan berinteraksi serta berkontribusi di tengah masyarakat. Selain itu, kegiatan non-akademik akan memperkaya CV dan menjadi bekal penting di masa depan. Lebih dari itu, mahasiswa juga dituntut terlibat dalam percakapan publik, baik pada isu lokal maupun nasional. Membaca, membahas, hingga berani menyampaikan pandangan adalah bentuk nyata kepedulian dan tanggung jawab intelektual. Beliau menekankan jangan sampai mahasiswa terisolasi dari perkembangan, karena peran mereka bukan sekadar supaya gak jadi “tukang-tukang” tok, tapi menjadi orang yang menyiapkan arah ke depannya. 

Selain itu, beliau juga menjelaskan kontribusi seorang engineer. Bagi seorang engineer, memahami aspek teknis saja tidak cukup. Setiap keputusan teknis sejatinya juga merupakan keputusan politis. Oleh karena itu, insinyur harus sensitif terhadap sosial dan politik dari pekerjaannya. Tujuannya bukan hanya menyelesaikan proyek, melainkan memastikan karya-karya engineer membawa keadilan, kesejahteraan, dan manfaat luas bagi masyarakat. Engineer tidak cukup menjadi pelaksana; ia harus mengerti arah besar dari pekerjaannya.

Pesan lain yang disampaikan adalah pentingnya keberanian dalam mengungkapkan pengalaman dan gagasan. Mahasiswa perlu melatih diri untuk berdiskusi, menyampaikan ide, dan tidak hanya memilih jalur yang terlihat nyaman atau biasa disebut dengan comfort zone. Jangan menjadi “kupu-kupu” yang hanya datang kuliah lalu pulang, jadilah mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan sesuai minat dan bidangnya. Waktu luang yang terlalu longgar bisa jadi tanda ada sesuatu yang keliru dengan jalan yang dipilih. Isi masa kuliah dengan pengalaman yang memperkaya, baik melalui organisasi, kepanitiaan, maupun kegiatan sosial.

Lalu, beliau juga melanjutkan bahwa di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa dituntut untuk terus memperluas wawasan. Manfaatkan dan kendalikan AI, buka media digital secara aktif, mengikuti perkembangan isu, hingga berteman dengan orang-orang yang andal di bidangnya adalah langkah penting. Jaringan yang luas akan memperkuat kapasitas diri. Lebih dari itu, mahasiswa didorong untuk mengumpulkan kawan-kawan, membahas isu-isu terkini, serta memanfaatkan teknologi. Namun, teknologi hanyalah alat, kendali tetap harus ada di tangan manusia.

Beliau menekankan bahwa pendidikan sendiri tidak semata-mata soal mencerdaskan, melainkan juga menjadi eskalator sosial ekonomi. Di Indonesia, korupsi masih menjadi masalah besar dan itu sesungguhnya adalah penyakit integritas. Oleh karena itu, pendidikan harus menghasilkan orang-orang berintegritas. Integritas bukan hanya menghindarkan dari perilaku koruptif, tetapi juga menjadi bekal kepercayaan publik. Selama masih di bangku kuliah, mahasiswa perlu membiasakan diri menjaga integritas, misalnya lewat pengalaman mengelola uang, waktu, dan orang dalam kepanitiaan. Hal tersebut adalah latihan nyata membangun kejujuran dan tanggung jawab.

Selain itu, beliau memaparkan bahwa pendidikan di Indonesia terlalu menitikberatkan pada ilmu eksak yang jawabannya seragam di mana pun dan kapan pun. Misalnya soal perkalian delapan kali tujuh, jawabannya akan selalu 56. Sementara itu, pertanyaan yang membutuhkan kreativitas, diksi, dan wawasan justru sering diabaikan, padahal jawaban bisa beragam seperti ketika diminta membuat pantun. Orang yang berhasil adalah mereka yang mampu mengombinasikan keduanya, yakni menguasai kepastian ilmu eksak, sekaligus memiliki kreativitas dari ilmu non-eksak.

Beliau menjelaskan betapa pentingnya kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis bukan berarti nyinyir, melainkan mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Prosesnya runtut, pertanyaan kritis melahirkan pemikiran kritis, dari sana muncul kreativitas, lalu berkembang menjadi inovasi. Inspirasi tidak muncul dari ruang hampa, tetapi dari interaksi. Oleh karena itu, mahasiswa harus berani mengajukan pertanyaan, bahkan ketika dosen sedang mengajar. Pertanyaan adalah latihan berpikir kritis, dan teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan pertanyaan yang lahir dari nurani manusia.

Dalam kepemimpinan, kepercayaan adalah fondasi utama. Rumusnya sederhana: P(trust) = c (competence) + i1 (integrity) + i2 (intimacy) – si (self-interest). Kompetensi, integritas, dan kedekatan dengan orang yang dipimpin akan menumbuhkan kepercayaan, sementara kepentingan diri justru menguranginya. Pemimpin sejati adalah mereka yang diikuti secara sukarela karena dipercaya, bukan sekadar pejabat yang memiliki jabatan formal. Dengan demikian, menjadi pemimpin berarti menumbuhkan kepercayaan, bukan sekadar memegang kekuasaan.

Usai Talkshow bersama Pak Anies dan penerimaan materi yang “ber-daging”, para Kesatria Muda moving ke ruang kelas dan melaksanakan agenda Karya Aplikatif yang dipandu oleh pemandu mereka sesuai dengan gugus masing-masing. Disusul oleh ibadah dan istirahat, lalu sesi kepemanduan. Sebelum mengakhiri PIONIR Kesatria hari ke-4, para Kesatria Muda melakukan formasi angkatan di halaman tugu fakultas teknik. Formasi angkatan ini menggunakan perlengkapan formasi angkatan yang sudah mereka buat menggunakan cardboard dan juga kertas asturo dengan berbagai warna dan membentuk sebuah gambar jika dilihat dari atas menggunakan drone pada agenda formasi angkatan di hari terakhir PIONIR Kesatria. Usai formasi angkatan, para Kesatria Muda pun moving ke halaman depan Gedung SGLC untuk mengikuti Upacara Penutupan PIONIR Kesatria 2025.

Hari ke-5 dan ke-6 dilanjutkan oleh PIONIR Soft Skill dan para GAMADA pun kembali ke fakultas/sekolah dan ruang kelas yang sama seperti hari ke-1 dan ke-2 mereka pada PIONIR Gadjah Mada. PIONIR Soft Skill merupakan bagian dari rangkaian PIONIR Gadjah Mada yang dirancang untuk memberikan wawasan dan pemahaman mendalam mengenai keterampilan non-akademik (soft skill) yang berlangsung selama 2 hari. Mahasiswa berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kemampuan problem solving, kepekaan sosial, serta kemampuan untuk beradaptasi secara efektif dalam lingkungan sekitar.

Action Plan merupakan salah satu bagian dari rangkaian PIONIR Gadjah Mada yang merefleksikan penerapan nyata dari nilai-nilai ke-UGM-an sebagai bentuk kolaborasi dan inovasi GAMADA. Kegiatan belajar ini menjadi wadah bagi GAMADA untuk mengimplementasikan ide dan gagasannya menjadi bentuk aksi nyata yang diharapkan memberikan dampak positif masyarakat sekitar. Beberapa gugus melakukan Action Plan di lingkungan akademik, adapun yang berada di lingkungan desa. Kegiatan ini juga merupakan kenangan yang tidak terlupakan di PIONIR Gadjah Mada. Action Plan dilaksanakan pada hari ke-7 sampai hari ke-12—sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk masing-masing gugus.

Usai Action Plan, hari yang dinanti-nanti pun telah tiba, yaitu pada hari ke-13, yang merupakan acara penutupan PIONIR Gadjah Mada; terdiri dari Selebrasi oleh GAMADA. Penutupan ini berlokasi di Lapangan Pancasila, setiap GAMADA duduk di tempat sesuai dengan nomor yang telah ditentukan, mengenakan jas almamater, topi caping, dan menenteng puspakara mereka. Penonton-penonton—seperti wali mahasiswa, teman, keluarga juga kerabat—ikut menunggu dan menyaksikan para GAMADA. Suasana yang penuh haru, campur aduk, dan tidak sedikit juga yang sedih terharu melihat serta mengingat perjuangan mereka untuk berdiri di sana.

Setelah Selebrasi dilakukan, para GAMADA dan panitia pun merayakan keberhasilan mereka dengan tarian selebrasi PIONIR Gadjah Mada dengan penuh semangat dan juga rasa bangga. Menurut Kak Riri selaku co-fasilitator, PIONIR Gadjah Mada, PIONIR Fakultas, juga PIONIR Soft Skill sangat penting untuk GAMADA karena PIONIR merupakan perkenalan baru tentang UGM, Yogyakarta, dan lingkungan sekitarnya, terlebih GAMADA sedang di tahap adaptasi. PIONIR juga membantu GAMADA untuk mengenali diri sendiri selama rangkaiannya, terutama melalui PIONIR Soft Skill. 

“Banyaklah belajar di UGM. Manfaatkan waktu untuk membentuk pribadi dan kemampuan baik dari segi sains maupun skill yang lain.” 

– Bu Dwi Aryani, Wali Mahasiswa

“Keren banget, semuanya heboh, seru banget, kakak kakaknya semangat, pokoknya seru banget.” 

– Kholid, Teknik Kimia Angkatan 2025.

“Pembukaan dan penutup ospeknya sangat menarik.” 

– Gideon, Teknik Sipil Angkatan 2025.

“Sangat penting untuk melatih fisik dan mental untuk menghadapi perkuliahan nanti.” 

– Denis, Akuntansi Angkatan 2025

“PIONIR membantu kita untuk berdinamika bersama dan dituntun untuk tumbuh dan berkembang bersama.” 

– Faleska, Psikologi Angkatan 2025

“Lihat GAMADA senyum gara-gara kita itu pasti hal yang sangat bahagia. Itu perjuangan yang sangat terbayarkan.”

– Kak Riri, Cofas Koesnadi Hardjasoemantri 4

“PIONIR sudah berjalan sesuai yang diharapkan. ” 

– Pak Wagino, Pengadaan Konsumsi, Ditmawa

Tulisan oleh Naurah Syifa Mangidi

Data oleh Archiera Azalia W.

Layout oleh Dixna Hizkia P.