13th Civil In Action: Dari Kompetisi Menuju Kontribusi

Civil In Action (CIA)—acara tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada—bertujuan sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan keprofesian dalam bidang teknik sipil dan lingkungan bagi seluruh pihak yang terlibat. Pada tahun 2025, CIA mengusung tema besar “Akselerasi Konektivitas Merdeka, Sinergi Membangun Indonesia”. 

“Civil In Action tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu, CIA bergabung dengan Lustrum. Nah, sekarang CIA kembali lagi menjadi satu, jadi tidak dibawahi Lustrum. Kemudian perbedaan selanjutnya, panitia CIA tahun ini jauh lebih banyak, kami independent, dan terdapat inovasi-inovasi baru dari teman-teman sub-event,” 

ucap Hanif Nahrufirdaus, Ketua Pelaksana 13th Civil In Action ketika diwawancarai pada Sabtu (8/23).

Akselerasi Konektivitas Merdeka, Sinergi Membangun Indonesia

Civil In Action tahun ini kembali membawakan tiga ajang perlombaan, yakni Sustainable Bridge Competition (SBC), Civil Innovation Challenge (CIC), dan Future Civil Engineering Competition (FCEC). Seperti yang dipaparkan oleh Ketua Umum 13th CIA, tahun ini tetap mempertahankan tiga sub-event dengan memunculkan inovasi baru dalam tiga ajang perlombaan tersebut. Hal itu dipertahankan karena sejak event sebelumnya, secara turun-temurun tiga sub event, yakni SBC, CIC, dan FCEC sudah ada.

Ketua Pelaksana 13th CIA tersebut juga menjelaskan konsep tema besar tahun ini. Berdasarkan konsep tema besar yang telah disebutkan, terdapat kata “merdeka” di dalamnya. Kata “merdeka” yang diusung selaras dengan terlaksananya rangkaian final pada bulan Agustus, bulan kemerdekaan Indonesia. Tepatnya tahun ini, Indonesia sudah masuk ke delapan dekade Indonesia merdeka, suatu angka yang istimewa. Melalui tema tersebut, Civil In Action ingin mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, untuk selalu memberikan kontribusinya dalam kemerdekaan Indonesia. Para pelajar dan mahasiswa yang berpartisipasi dalam CIA tahun ini diharapkan dapat berperan dan berkolaborasi memaksimalkan peran strategis teknik sipil dalam mewujudkan mimpi besar bangsa Indonesia. 
Rangkaian kegiatan Final 13th Civil In Action diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, terhitung sejak Kamis, 21 Agustus 2025 hingga Sabtu, 23 Agustus 2025. Pada tahun ini, Clapeyron Media berkesempatan untuk meliput rangkaian kegiatan Final 13th CIA. Mulai dari opening ceremony hingga closing ceremony selesai terlaksana.

Opening Ceremony Rangkaian Final 13th CIA dan Perbedaan yang Membawa Perubahan

Kamis, 21 Agustus 2025. Gedung Laboratorium Bahan Bangunan (LBB) DTSL FT UGM dipenuhi dengan lalu lalang para finalis yang berdatangan dari berbagai daerah. Antusias dan kegembiraan terpampang jelas dari raut wajah setiap tim yang berhasil dinyatakan lolos untuk mengikuti rangkaian final tahun ini. Sekitar pukul 08.20 WIB, seluruh finalis dan panitia yang bertugas telah berada di lantai tiga LBB DTSL FT UGM. Master of Ceremony (MC) membuka acara dengan doa, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada. Kegiatan selanjutnya adalah penyampaian sambutan oleh Ketua Keluarga Alumni Teknik Sipil Gadjah Mada, Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi. 

Terdapat hal menarik dan juga berkesan dalam rangkaian opening ceremony 13th CIA tahun ini. Pasalnya, sebelum opening ceremony terlaksana, peresmian Coworking Space: Space to Build, Laboratorium Bahan Bangunan DTSL FT UGM menjadi salah satu rangkaian acara pagi itu. Coworking space diresmikan oleh Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. selaku Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., IPU. selaku Kepala Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, juga Ir. Dandung Sri Harninto, ST., MT., IPU., ASEAN Eng. selaku Ketua Keluarga Alumni Teknik Sipil UGM. Pembangunan coworking space ini menjadi simbol sinergi antara akademisi dan alumni dalam mendukung pengembangan infrastruktur pendidikan. 

Sebelum memasuki acara inti opening ceremony 13th CIA, terdapat penyampaian sambutan oleh Dega Qushoyyi selaku Ketua Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan. Selanjutnya, dalam proses simbolisasi  opening ceremony 13th CIA, Ketua Pelaksana 13th Civil In Action, Ketua Civil Innovation Challenge, Ketua Future Civil Engineer Challenge, Ketua Sustainable Bridge Competition, dan Ketua Civil Engineering Advance Software Training maju ke depan panggung. Simbolisasi dilakukan dengan menggabungkan empat kepingan yang mewakili masing-masing sub event Civil In Action 2025. 

Masing-masing kepingan memiliki makna yang berbeda. Dimulai dari pemasangan kepingan dari sub-event CRAFT, wadah pelatihan yang mengajak mahasiswa, akademisi, dan praktisi untuk memahami dan mengoptimalkan teknologi Building Information Modelling (BIM). CRAFT menjadi simbol transformasi industri konstruksi menuju efisiensi, kualitas, dan keberlanjutan. Simbolisasi dilanjut dengan pemasangan kepingan dari sub event SBC, mempresentasikan peran jembatan sebagai penggerak ekonomi, penghubung wilayah, dan pilar kemajuan bangsa. Kepingan ini melambangkan konektivitas dan kemerdekaan berkreasi. Selanjutnya adalah sub-event CIC, dengan sebuah kepingan yang mencerminkan kreativitas, keberanian, dan solusi masa depan. Setelah itu, kepingan keempat dari sub event FCEC, sebuah kepingan yang menjadi pijakan awal lahirnya insinyur masa depan Indonesia. Dan yang terakhir adalah kepingan yang melengkapi empat kepingan lain yang telah disatukan. Akhirnya, lima kepingan telah bersatu—lingkaran Civil In Action—sebagai simbol harmoni, sinergi, dan komitmen bersama. Dengan terlaksananya simbolisasi tersebut, maka rangkaian final 13th Civil in Action tahun 2025 resmi dibuka.

Civil Innovation Challenge (CIC), Solusi Inovatif Tantangan Pembangunan

Civil Innovation Challenge (CIC) merupakan lomba ketekniksipilan. Kegiatan ini mengajak mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam memberikan ide-ide terbaik guna menyelesaikan suatu permasalahan dengan dasar ilmu teknik sipil dan lingkungan. Pada tahun ini, CIC mengangkat tema “Rekayasa Geoteknik Guna Membebaskan Indonesia dari Barrier Interaksi Antardaerah”. Civil Innovation Challenge mendorong mahasiswa memperluas pengetahuan dan pemahaman mengenai bagaimana mencari jalan keluar dari suatu permasalahan di bidang geoteknik, khususnya mengenai kestabilan tanah. 

“Kita tahu di pembangunan infrastruktur sendiri, terutama di jalan banyak sekali permasalahan geoteknik. Misalkan ada tanah lunak, likuifaksi, dan gempa. Itu merupakan salah satu faktor yang membuat kami memilih subtema ini. Karena menurut kami di delapan dekade Indonesia merdeka, kita tidak hanya merdeka secara politik, tetapi kita juga harus merdeka secara akses dan konektivitas, supaya antarwilayah juga bisa berkembang bersama dan saling berinteraksi.”

ucap Andhika Rendry Ramadhan, Ketua sub-event Civil Innovation Challenge 2025 ketika diwawancarai pada Sabtu (8/23). 

Rangkaian final ajang perlombaan Civil Innovation Challenge tahun ini terlaksana selama dua hari. Pada Kamis, 21 Agustus 2025. Hari pertama rangkaian final, setiap tim melaksanakan pemodelan dan pengujian dimana para tim peserta akan membuat sebuah prototype pada sandbox berukuran ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan penyangga tanah dasar dan lapisan geocell. Tahap pemodelan mengharuskan peserta untuk merekonstruksi timbunan tanah di atas tanah lunak menggunakan aplikasi geocell dan geotekstil yang terbuat dari kertas saring kasar untuk perkuatan tanah.

Sustainable Bridge Competition (SBC), Rancangan Jembatan Berkelanjutan
Sore hari dari Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, penulis kembali meliput rangkaian final 13th CIA hari pertama. Pada kesempatan ini, sembari mengamati dan berkunjung, pihak Clapeyron Media sempat mewawancarai beberapa panitia dan peserta sub-event Sustainable Bridge Competition (SBC).

“Untuk saat ini kami sedang ada di tahap presentasi dan checking material, dimana para peserta memverifikasi apakah materialnya siap, lolos ketentuan Term of Reference (TOR), dan siap dilakukan perakitan.”

“Kami juga melakukan pengecekan bagaimana mereka ini punya kelengkapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), lomba kami ini selain membangun jembatan yang kuat dan sustainable, juga memperhatikan aspek K3, safety first karena keamanan sangat penting.” 

ucap Sahib Aarde Elhaq dan Arkan Muyassir, panitia ajang perlombaan Sustainable Bridge Competition ketika diwawancarai pada Kamis (8/21).

Sub event Sustainable Bridge Competition (SBC) sendiri merupakan ajang inovasi desain jembatan tingkat nasional yang menantang mahasiswa teknik sipil untuk merancang jembatan berkelanjutan. Pada tahun ini, SBC mengangkat tema “Merdeka Berkoneksi dengan Jembatan sebagai Pilar Akselerasi Pembangunan Negeri”. Kompetisi ini memfasilitasi penerapan pengetahuan teoritis ke dalam praktik nyata. Desain jembatan modern tidak lagi hanya mempertimbangkan aspek struktural dan ekonomis, tetapi juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, ketahanan terhadap bencana alam, dan adaptabilitas terhadap perubahan iklim.

Rangkaian Final 13th CIA Hari Kedua Sukses Terlaksana

Pada Jumat, 22 Agustus 2025, kembali terlaksana rangkaian Final 13th CIA. Dalam rangkaian ini, ajang perlombaan CIC dan FCEC melaksanakan rangkaian kegiatan bertempat di ruang kelas lantai lima LBB DTSL UGM, sedangkan ajang perlombaan SBC kembali melaksanakan rangkaian kegiatan di Joglo GIK UGM. 

Menelisik kembali sub-event Civil Innovation Challenge. Rangkaian final hari kedua sukses terlaksana, setiap tim melakukan presentasi dari hasil yang mereka lakukan di universitas masing-masing, kemudian dibandingkan dengan hasil pemodelan dan pengujian yang sudah dilakukan di hari pertama. Waktu pelaksanaan presentasi untuk setiap tim adalah 20 menit, dengan rincian 10 menit melakukan presentasi dan 10 menit merupakan sesi tanya jawab oleh juri. 

Rangkaian final sub-event CIC sukses terlaksana, terdapat harapan dan pesan tersendiri dari Ketua Civil Innovation Challenge tahun ini, Andhika Rendry Ramadhan,

“Harapannya, semoga semakin banyak peminat dari kalangan mahasiswa yang mendalami ilmu tentang geoteknik karena menurut saya geoteknik merupakan salah satu fondasi utama dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Saya juga berharap semoga acara semakin sukses dan semakin baik kedepannya.”
Gelanggang Kreativitas dan Inovasi sudah dipenuhi dengan rakitan jembatan enam tim finalis Sustainable Bridge Competition. Pada rangkaian hari kedua final SBC, dilakukan perakitan dan pembebanan pada jembatan. Rakitan jembatan dari masing-masing tim memiliki ciri khas tersendiri. Waktu perakitan jembatan adalah tiga jam, seluruh tim merakit dalam rentang waktu yang bersamaan. Setelah proses perakitan selesai, barulah pembebanan dilaksanakan. Pembebanan dilakukan oleh setiap tim secara bertahap. Terkait waktu pelaksanaan pembebanan bagi setiap tim adalah 40 menit.

Rangkaian Final Ajang Perlombaan Future Civil Engineer Challenge (FCEC)

Sedikit berbeda dengan ajang perlombaan CIC dan SBC, rangkaian final ajang perlombaan Future Civil Engineer Challenge (FCEC) terlaksana pada hari Jumat, 22 Agustus 2025. FCEC merupakan ajang perlombaan yang ditujukan kepada pelajar SMA/SMK/MA untuk menyampaikan karya tulis ilmiah di bidang teknik sipil, lingkungan, dan sumber daya air. Tema dari FCEC tahun ini adalah “Perwujudan Pembangunan Berkelanjutan: Peran Generasi Muda dalam Akselerasi Transisi Energi dan Infrastruktur Ramah Lingkungan”.

Final presentation setiap tim dilaksanakan dalam rentang waktu 30 menit, dengan rincian 15 menit melakukan presentasi dan 15 menit merupakan sesi tanya jawab. Setiap tim memaparkan hasil penelitian mereka, metode yang digunakan, bagaimana penerapan, dan inovasi kedepannya apakah dapat dikembangkan atau tidak. 

Pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Seluruh tim Future Civil Engineer Challenge yang lolos dalam tahap Final Presentation juga mendapatkan fasilitas berupa sesi educational session.  Rangkaian kegiatan ini berperan sebagai agenda edukatif dan informatif guna memberikan wawasan baru dalam bidang ketekniksipilan, lingkungan, dan sumber daya air bagi para finalis. Educational Session dilaksanakan di Desa Wisata Sukunan. Beralamat di Dusun Sukunan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Closing Ceremony dan Awarding Day 13th Civil In Action, Tentang Pesan dan Harapan

Hari yang ditunggu oleh seluruh finalis dan panitia tiba. Rangkaian kegiatan Final 13th Civil In Action telah sukses terlaksana. Hari Sabtu, 23 Agustus 2025 menjadi puncak acara, closing ceremony dan awarding day telah terselenggara. Segala kerja keras dan upaya seluruh panitia terbayarkan dengan rasa bangga. 

Rangkaian Closing Ceremony dan Awarding Civil In Action diawali dengan pembacaan doa, dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada. Kemudian, terdapat pula penyampaian sambutan oleh Ketua Pelaksana 13th Civil In Action, Ketua Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan, dan Sekretaris Program Studi Sarjana Teknik Sipil. Kemudian, agenda dilanjutkan dengan penampilan Forum Musik Fisipol (FMF)—sebuah band yang berasal dari komunitas musik di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM. Setelah itu, terdapat penampilan memukau dari Padmanaba Orchestra (Padzchestra) yang menambah kemeriahan rangkaian acara siang itu. 

Kini, setelah sesi istirahat selesai, merupakan rangkaian yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh finalis dan panitia 13th Civil In Action, sesi pengumuman kejuaran 13th Civil In Action dari setiap ajang perlombaan. Penulis mengucapkan selamat kepada seluruh tim yang telah berhasil meraih kejuaraan dalam rangkaian Civil In Action tahun ini. Bagi para finalis yang belum memperoleh kejuaraan, jangan bersedih hati, kesempatan masih terbuka lebar.

Simbolisasi Penutupan 13th Civil In Action, Akhir dari Perjalanan Panjang

Setelah empat kepingan sub event membentuk lingkaran utuh pada simbolisasi opening ceremony Civil In Action, kini, rangkaian 13th Civil In Action ditutup secara simbolis dengan dipasangnya kemudi sebagai lambang arah dan tujuan perjalanan. Kemudi tersebut merupakan simbol bahwa perjalanan panjang tidak hanya berhenti pada satu titik saja, tetapi telah terarah, terkendali, dan meninggalkan jejak berharga. Selanjutnya, kemudi diputar. Melalui hal tersebut, dengan dipasang dan diputarnya kemudi, menandakan bahwa rangkaian 13th Civil In Action benar-benar telah mencapai titik akhir perjalanan. 

Setelah simbolisasi selesai terlaksana, rangkaian acara selanjutnya kembali dimeriahkan dengan penampilan dari The Kandang dan Responsi. Maka dari itu, berakhirlah sudah perjalanan panjang serta kerja keras seluruh pihak yang turut serta menyukseskan keseluruhan rangkaian 13th Civil In Action tahun 2025. 

Raut wajah penuh suka cita para pemenang menambah kehangatan sore itu. Segala kerja keras yang telah mereka dedikasikan untuk perlombaan ini terbayarkan. Penulis sempat mewawancarai beberapa panitia CIA tahun ini, salah satunya Ketua Pelaksana 13th Civil In Action.

“Alhamdulillah, sekitar 280 lebih panitia sudah bekerja keras hampir satu tahun ini, jadi semua saat ini sudah terbayarkan. Harapannya, acara ini bisa selesai dengan baik sampai akhir nanti dan memberikan manfaat bagi semua orang. Kemudian, pesan untuk adik-adik angkatan 2024 dan 2025 CIA tahun depan, semoga bisa lebih sukses dari sekarang , inovasi-inovasinya kami tunggu, semoga kedepannya mas dan mbak angkatan 2022 dan 2023 juga bisa berkontribusi menjadi peserta dan tetap memberikan manfaat bagi banyak orang.”

Harapan dan pesan dari Hanif Nahrufirdaus, Ketua Pelaksana 13th Civil In Action ketika diwawancarai pada Sabtu (8/23).
Akhir dari rangkaian kata ini, penulis mengucapkan selamat kepada seluruh tim yang telah berhasil memperoleh kejuaran pada masing-masing ajang perlombaan 13th Civil In Action. Sebagai bentuk apresiasi, penulis juga mengucapkan selamat kepada seluruh panitia Civil In Action yang telah bekerja keras, dibuktikan dengan sukses terselenggaranya 13th CIA tahun 2025 dengan sangat luar biasa.

Tulisan oleh Nabila Puspita Rena

Dokumentasi oleh Naiwa Septa Cahyatari

Tim Liputan: Nabila Puspita Rena, Naiwa Septa Cahyatari