Beranda Artikel Cerita dari Kalitelu

Cerita dari Kalitelu

oleh Redaksi

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil seluruh mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Salah satu cerita tentang KKN berasal dari Dusun Kalitelu, Desa Lumajang, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo.

Dusun Kalitelu berada di Utara Kabupaten Wonosobo. Akses menuju dusun yang terletak 60 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Wonosobo ini terbilang susah. Jalan berbatu, berliku, dan bertanah harus dilalui. Tak jarang pengendara motor tergelincir saat melewati jalan tersebut. Namun pemandangan yang didapat dari lokasi ini sangat menakjubkan.

Perpaduan antara rimbunnya pepohonan, hijaunya ladang, dan sejuknya udara menjadi suguhan dusun ini setiap hari. Suhu udara rata-rata berkisar antara 12 sampai 19 derajat celsius. Meskipun terbilang dingin, namun rasa persaudaraan antar warga menepis dinginnya udara yang menembus kulit. Sambutan hangat warga terasa semenjak pertama kali tiba di dusun. Semua warga keluar dari rumah dan saling bergantian menyalami mahasiswa KKN. Inilah awal dari keakraban yang identik dengan suasana pedesaan.

Keseharian masyarakat Kalitelu sangatlah beragam. Tanah yang subur menjadikan mayoritas masyarakat dusun berprofesi sebagai petani. Selain bertani, ada pula warga yang mengadu nasib sebagai pekerja bangunan. Kesibukan masing-masing warga dalam mencari nafkah tersebut menciptakan suasana sepi dari pagi hingga sore hari, dan baru terlihat keramaian pada petang.

Saat petang, aktifitas yang sering dilakukan warga yaitu mencari kehangatan dengan membakar ranting-ranting sisa pakan ternak di beberapa halaman rumah.Tak jarang warga membakar umbi-umbian untuk selanjutnya dinikmati secara bersama-sama. Mereka juga menyelingi kehangatan malam tersebut dengan menceritakan keseharian mereka, yang terkadang diselingi dengan candaan-candaan, untuk menambah keakraban.

Suasana nyaman tersebut terus berlanjut sampai pada acara-acara yang diadakan Dusun Kalitelu. Salah satu acara yang disambut meriah oleh warga yaitu penerbangan balon selepas Bulan Ramadhan. Warga membuat balon raksasa dari bahan dasar kain untuk diterbangkan. Pada bagian buntut balon disematkan petasan untuk menghancurkan balon di udara. Kegiatan menerbangkan balon sudah berlangsung secara turun-temurun. Namun pada tahun ini balon yang diterbangkan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Meskipun jumlah balon terbatas, namun keceriaan terpancar dari tiap tatapan masyarakat yang menyaksikan penerbangannya.

Ada pula seni gambusan yang merupakan perpaduan antara seni beladiri dengan iringan suara gamelan dan rebana serta seni Tari Lengger yang menjadi kegemaran warga. Tari Lengger dipentaskan pada malam hari dan baru berakhir saat menjelang subuh. Tari Lengger dibawakan oleh penari wanita berparas cantik dengan balutan pakaian tradisional. Ada pula penari lelaki yang gagah namun tetap bisa mengimbangi gerakan halus dari penari wanita. Seni tari lengger diiringi nyanyian sinden yang merdu dengan lantunan musik gamelan.

Tari Lengger sangat di gemari karena kejadian-kejadian mistis sering terjadi saat pentas berlangsung. Penonton yang sedang menikmati tarian sering dihebohkan dengan tragedi kesurupan. Kesurupan diawali dengan penonton yang menari mengikuti irama gamelan pengiring. Ada pula yang tiba-tiba berteriak secara histeris. Dalam keadaan tidak sadar itu terucap permintaan yang terkadang diluar nalar. Ada yang meminta lampu, gelas, ataupun ayam hidup untuk dimakan. Namun ada pula yang meminta bersalaman dengan penonton lain. Setelah permintaan terpenuhi, penonton yang kesurupan langsung tersadar dalam kondisi badan yang lemas dan linglung.

Hidup dalam kesederhanaan tidak membuat masyarakat Kalitelu sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka selalu berpartisipasi dalam setiap acara yang diadakan di dusun seperti pembuatan panggung untuk pentas tari lengger. Pembuatan panggung tradisional diawali dengan penebangan pohon-pohon bambu berukuran besar. Setelah dirasa cukup, bambu-bambu dibawa dari tepi sungan ke lapangan di dusun, dengan medan berbukit dan jalan setapak tanah yang licin. Kemudian bambu tersebut dirakit menjadi sebuah panggung menggunakan ikatan-ikatan tali yang terbuat dari bambu itu juga.

Dua bulan menetap di Dusun Kalitelu mengajarkan nilai-nilai penting yang mulai luntur pada generasi muda. Meskipun hidup dalam kesederhanaan dan padatnya aktifitas untuk mendapat rupiah, namun mereka tetap meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan yang ada di dusun secara sukarela dan bahagia. Karena, bagi mereka yang terpenting yaitu kebersamaan dan kekeluargaan.

 

Zulzizar Nur M.

Kontributor

Artikel Terkait