Beranda Artikel Persentase Kelulusan yang….?

Persentase Kelulusan yang….?

oleh Redaksi

Semuanya memang menggembirakan. Yaitu, masalah komunikasi yang makin baik antara dosen dan mahasiswa di lingkungan Teknik Sipil, UGM. Terlihat sedikit pendekatan dosen yang berpredikat sebagai pendidik dan mahasiswa sebagai anak didik. Justru dengan kesedikitan itu, yang dimulai dengan keberanian, akan membawa suatu perubahan suasana di kampus ini. Setiap manusia kampus Pogung pernah merasa dan mendengar isu-isu renggangnya hubungan dosen dan mahasiswa tersebut.

“Memang hubungan antara dosen dan mahasiswa itu perlu, tetapi sekarang kelihatan kurang,” demikian komentar Ir. Suhendrojati yang sempat ngomong-ngomong dengan Clapeyron di ruang Pengembangan Kemahasiswaan. Sedang penyebab kurangnya komunikasi ini siapa, Hendro sendiri kurang tahu.

Lain dengan pendapat Soegeng Djojowirono yang insinyur. Beliau memberi saran, agar diadakan forum komunikasi antara dosen dan mahasiswa supaya tercapai komunikasi yang baik. Dan yang terutama agar mahasiswa berhasil dalam menyelesaikan studinya dengan baik.

Kelihatannya mudah. Sediakan sarana komunikasi! Sekarang kenyataan yang penting. Ada komunikasi tanpa yang bicara, percuma! Dan diharapkan ada yang memulai menggunakan komunikasi. Keberanian di sini memang sangat diperlukan (mudah-mudahan saja tidak ada resikonya!). Kurangnya komunikasi itu disebabkan terlalu banyaknya mahasiswa, apalagi mahasiswa baru, ini menurut Hardjoso yang bergelar Profesor Insinyur. Sayang bapak ini tidak memberi saran bagaimana mengadakan dan menggunakan komunikasi. Sedang jalan keluarnya dapat dikaji dari pegangan Ir. Soetojo Tjokrodihardjo yang merupakan dekan Teknik UGM. Pegangannya: “Kalau saudara memanggil dosen-dosen itu “bapak”, tempatkanlah mereka itu sebagaimana saudara memanggilnya”, demikian kata Ir. Soetojo sewaktu ditemui Clapeyron di ruang Dekan.

Tak dapat disangkal bahwa dalam mengutarakan berbagai sebab kurangnya komunikasi antara dosen yang satu dengan lainnya, mereka mempunyai versi sendiri-sendiri. Tetapi di sini yang jelas, komunikasi memang kurang dan banyak yang menyadarinya. Yang menjadi pertanyaan, mengapa ini sampai berlarut? Hingga generasi ke berapa? Siapa yang harus memulai terlebih dahulu, ini merupakan pertanyaan tersendiri. Tetapi yang diharapkan bukan hanya berupa sebuah pertanyaan saja, tetapi realisasinya.

Sebenarnya, di satu pihak memang telah menyediakan forum, dan forum itu memang kelihatan ada. Hendro sebagai pengurus Rumah Tangga dan Alumni Teknik Sipil sangat menganjurkan, agar mahasiswa menggunakan saluran yang ada misalkan KMTS dan badan-badan otonomnya, juga dapat melalui pengurus bagian kemahasiswaan. Dan di sini perlu adanya penghapusan rasa takut dan gengsi untuk menggunakan forum yang dikatakan oleh dosen kabege ( Konstruksi Bangunan Gedung ) I & II itu.

Pendapat Wiek Prawignyo tentang ketakutan mahasiswa itu disebabkan adanya isu “dosen killer” di dalam kampus. Dan adanya isu tersebut, ternyata telah mendarah daging di dalam tubuh mahasiswa kita yang diturunkan oleh kakak mereka dulu. Tidak jelas faktor penyebab adanya anggapan dosen killer, dan menurut asisten konstruksi beton dan pengajar Jalan Raya I & II tersebut sebetulnya salah. Memang ada dosen yang menghendaki kedisiplinan, dan kedisiplinan yang tidak bisa diimbangi mahasiswa itu, ini mungkin yang disebut dengan istilah “killer”.

Menilik kedisiplinan di sini memang sangat diperlukan. Baik itu buat diri sendiri maupun bagi studi. Untuk ini Pragnyono Mardjikun sang Profesor Insinyur angkat bicara, bahwa aktivitas inisiatif dan disiplin diri merupakan modal utama bagi mahasiswa. Sayang sekali tidak dijelaskan bagaimana bentuk kedisiplinan yang cocok bagi mahasiswa.

Yang jelas di sini bukan tempatnya saling melempar kesalahan itu, tapi bagaimana jalan keluarnya, sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan studi dengan baik dan cepat. Dan dosen tidak gagal dalam profesinya.

Menyinggung profesi dosen, Ir. Suwarno Wiryomartono yang ketua KAGAMA, mengungkapkan dosen “gagal” dalam profesinya, kalau kelulusan mahasiswa dalam ujian itu rendah. “Rendah” di sini, Suwarno yang tahun 62-64 pernah memangku jabatan Dekan Teknik UGM terbanyak meluluskan mahasiswa yaitu 250 insinyur, dikategorikan di bawah 50%. Kegagalan itu dapat dihindarkan, bila dosen memberi materi kuliah yang baik, dan mahasiswa harus banyak diberi latihan dan bimbingan. Tetapi, menurut Ir. Sutojo kelulusan mata kuliah MT I, MT II dan MT III masih kurang begitu banyak antara lain: “seorang mahasiswa tingkat persiapan itu masih dalam masa peralihan, dan seharusnya nilai kelulusan ini dibandingkan dengan kelulusan fakultas lain yang tandingannya (dalam arti jumlah kreditnya), kiranya itu gejala umum (maksud beliau kelulusan yang sedikit). Kalau dibandingkan dengan fakultas yang kreditnya kecil, kelulusannya memang kecil juga.”

Sedang masalah kelulusan ini, mas Wiek mengatakan, ini suatu hal yang kompleks. Mahasiswa kebanyakan belajar bukan teori, tetapi mempelajari penyelesaian soal-soal. Kalau mempelajari soal-soal, ada sedikit kelainan soal, mahasiswa tidak tahu. Nah, di sini kesalahan mahasiswa.

Untuk kabege I, II, III, dan IV oleh beliau yang berkepentingan, dianjurkan agar banyak latihan menggambar, kalau sudah banyak latihan dan terbiasa menggambar itu tak ada persoalan dan bisa cepat, demikian pak Soegeng menambahkan.

Saya melihat sebagian mahasiswa tak mengetahui prinsip yang benar, hal ini diungkapkan oleh pak Sri Harto yang juga Ir. lebih lanjut Sri Harto yang tahun ’70 telah menenteng predikat kerennya di depan nama insinyur, mengatakan, “Bagi saya kalau prinsip kena tentu ada nilainya. Sedang mengenai kelulusan PTM yang rendah ada 2 kemungkinan, materinya yang terlalu banyak atau saya yang tidak bisa mengajar.” Inilah yang disebut dosen “bertanya”. Mengenai materi, PTM I akan dikurangi dan PTM II akan ditambah.” Tentang suara yang bervolume rendah, itu diakui memang pembawaannya sejak kecil. Tulisan nan lembut, kurang bisa dibaca, akan diusahakan lebih diperbesar dan diperjelas. “Memang dulu saya pernah sakit tangan selama 1 1/2 tahun dan ini membuat tulisan saya tak jelas. Baiklah untuk selanjutnya biar jelek asal jelas,” kata Sri berkelakar.

Nah, disinilah terasa pentingnya komunikasi. Bukannya saling melempar kesalahan. Dosen menyalahkan mahasiswa, mahasiswa ngrasani ( membicarakan kejelekan orang lain ) di belakang dosen. Mahasiswa menuduh yang bukan-bukan, ini kek itu kek, padahal mereka tak tahu letak kesalahan itu kemungkinan dari mereka sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Ir. Morizco, Beliau pribadi sebenarnya tidak mempersulit kelulusan. Dengan sedikitnya kelulusan mata kuliah komputer, lebih lanjut dosen yang kurang tertarik pada studi ke luar negeri ini, menambahkan keterangan, mahasiswa kemungkinan belum mengetahui dan mengenal type soal, apalagi bahasa komputer belum dijiwai, serta mahasiswa sendiri belum melihat kenyataannya.

Kalau melihat yang demikian mestinya telah disadari jauh sebelumnya. Dan yang penting bagaimana mendobrak hal yang demikian ini. Mungkin bisa dengan berbagai cara. Mahasiswa sendiri merombak cara belajar mereka. Siapa lagi kalau bukan mereka sendiri yang bisa mendobrak, seandainya mereka ingin cepat menggondol gelar kebanggaan, insinyur sipil. Dan dosen yang telah mengetahui kelemahan-kelemahan ini, tentunya dapat membimbing mahasiswa menuju proporsi yang sebenarnya. Bukannya mendiamkan dan mengatakan toh mereka telah dewasa. Akan tetapi dosen sebagai pembimbing – seperti apa yang dikatakan pak Hendro harusnya membimbing mahasiswa untuk maju lebih sempurna.

Memang bimbingan itu penting. Seperti kita orang tahu sebuah institut di negeri ini yang begitu terkenal dengan dosen pembimbingnya. Hal ini sempat dikomentari oleh Prawignyo, institut itu memang mempunyai letak geografis yang menguntungkan. Yang terang di sana bimbingan lebih banyak, demikian lebih lanjut ia mengatakan. Sedang di UGM sedang dalam proses, karena mencari tenaga dosen sulit. Yang tak kita ketahui, mengapa di sana bisa, sedang di sini sejak dulu selalu masih dalam proses.

Sedikitnya tenaga dosen di republik ini memang bisa dimaklumi. “Lain dengan di Amerika”, demikian Ir. Soegeng menerangkan. Di Amerika tiap ruangan hanya berisi 25-30 mahasiswa, di mana hal ini dapat memperlancar komunikasi. Sedang penempatan dosen dalam memberikan kuliah menggunakan sistem paralel, yaitu sistem di mana satu matakuliah tidak dipegang oleh satu dosen, tetapi lebih dari satu dosen. Masalah kegagalan mahasiswa sebetulnya ada juga di Amerika, tetapi kegagalan mahasiswa dalam studi itu selalu dipermasalahkan, dan sedapat mungkin oleh dosen pembimbing dicarikan jalan keluar.

Menyinggung pembimbing, sebenarnya di kampus Pogung ini juga ada. Tapi bukan oleh dosen. Sedang kalau di Sipil UGM dilakukan oleh asisten wali yang diharapkan bisa menjadi adviser untuk tiap dua angkatan. Sayang mereka hanya berfungsi kalau hanya ada pendaftaran saja. Hal ini juga diakui oleh pak Soegeng. “Disinilah yang menyebabkan kegagalan mahasiswa, karena mereka tak tahu di mana kesalahannya”, katanya lebih lanjut.

Yang penting bagi mahasiswa adalah jalan keluarnya. Dan menurut pak Dekan Sutojo kebanyakan mahasiswa banyak yang masih menebak-nebak. Sebagai jalan keluar, pak Dekan sempat memberi nasihat, agar mengikuti kuliah dengan baik, latihan soal dan agar bertanya kalau tidak tahu. “Saya selalu membuka pintu buat kamu”, demikian kata Tojo dengan lantangnya. Menyinggung profesi dosen yang tak bisa meluluskan lebih dari 50%, dia berpendapat hal itu tergantung pada situasi kondisi dan fasilitas studi yang ada. Malahan kalau bisa lulus lebih banyak lagi.

Masih dalam hal kelulusan yang begitu hangat. Profesor Insinyur yang pernah belajar di Amerika untuk studi Bangunan Tenaga Air yaitu Pragnyono Mardjikoen mempunyai tanggapan lain. Kita harus bertanggung jawab pada pendidikan, tidak asal meluluskan saja untuk mencari popularitas.

Sebegitu jauh belum ada titik pertemuan yang bisa dipakai sebagai pegangan untuk menyemarakkan iklim yang baik antar pendidik sendiri dan anak didik. Sebagai contoh kecil dapat dibeberkan disini. “Bertanya kalau tidak mengerti,” ini yang selalu ditekankan Tojo di muka bangku kuliah. Tetapi walaupun anak tidak mengerti toh juga tidak bertanya, sehingga dosen dan mahasiswa saling serta tidak tahu dan saling tidak mengerti. Bagaimana?

Ditulis ulang oleh Ria Verensia

(Rep/edit: edo,nov,bag, hot, bas,yak,mq,678).

Keterangan : Beberapa kata telah diubah untuk menyesuaikan dengan ejaan saat ini.

Artikel Terkait