Beranda Sipiloka Konsep Pembangunan Bungker Radioterapi untuk Tangkal Radiasi

Konsep Pembangunan Bungker Radioterapi untuk Tangkal Radiasi

oleh Redaksi

Ribuan kasus kanker menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO), setidaknya total kasus kanker di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 396.914 kasus dan total kematian sebesar 234.511 kasus.

Terdapat beberapa metode yang umum digunakan untuk pengobatan kanker, salah satunya radioterapi. Radioterapi merupakan metode yang menggunakan sinar pengion untuk membunuh jaringan kanker yang ada dalam tubuh pasien. Di dalam bangunan fasilitas kesehatan, —seperti rumah sakit—tak jarang ditemui layanan radioterapi. Umumnya, metode ini dikerjakan pada suatu ruangan yang dikenal dengan istilah bungker radioterapi.

Walaupun bermanfaat untuk menangani kanker, terdapat sejumlah bahaya yang dapat disebabkan oleh sinar pengion ini jika tidak dikerjakan dengan baik. Bahaya radiasi dari sinar pengion antara lain dapat menimbulkan penurunan daya tahan tubuh hingga gangguan pada fungsi jaringan serta organ tubuh. Oleh karena itu, dalam pembangunan bungker radioterapi, diperlukan metode dan desain yang khusus.

Clapeyron berkesempatan mewawancarai PT Tigamas Mitra Selaras dengan Ir. Yudhi Wibowo selaku Direktur Utama serta Rino Dian Febrino sebagai Project Manager untuk mengetahui lebih dalam mengenai pembangunan bungker radioterapi. Proyek pembangunan bungker yang telah dilaksanakan PT Tigamas Mitra Selaras di antaranya adalah bungker Linac RSUP Dr. Kariadi Semarang, bungker Linac RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, serta Gedung Bungker Radioterapi RSUD Sidoarjo.

“Bungker bukan struktur biasa. Berbeda dengan gedung yang tebal platnya biasanya 12 sentimeter, kalau bungker tebal plat atap bisa mencapai 3 meter,” ungkap Febri.

Dalam pembangunan bungker dibutuhkan minimal tiga faktor yang perlu diperhatikan, yakni metode, bahan, dan manpower. Metode pengecoran bungker dilakukan dalam satu kali, tidak boleh terputus. “Kalau ketinggian dindingnya 3,5 meter, kita harus mengecor keseluruhan 3,5 meter itu dalam satu waktu,” ujar Febri.

Pengecoran hanya dapat berhenti sesuai batas yang telah ditentukan agar beton menjadi satu kesatuan sehingga tidak terjadi kebocoran radiasi melalui dinding beton. Metode tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam bagian mobilisasi pengecoran. Selain itu, analisis kekuatan bekisting untuk menahan beban pelat juga menjadi tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bungker.

Ketebalan dinding bungker bergantung pada merek alat radioterapi yang nantinya akan digunakan. Setiap merek dapat memiliki paparan radiasi yang berbeda. Berdasarkan pengalaman yang pernah dilaksanakan, Febri mengaku ketebalan dinding juga dibedakan berdasarkan letak bungker. Bungker yang berada di atas tanah berdinding 3–4 meter, sedangkan di bawah tanah relatif lebih tipis, yaitu 1,5–2 meter. Makin tebal dinding beton, makin tinggi pula kemampuan dalam menahan radiasi. Namun, efisiensi dinding yang makin tebal tidak sesuai dan kurang ekonomis. Bungker di bawah tanah tanah memiliki dinding yang lebih tipis karena tanah di sekelilingnya cenderung membuatnya lebih aman serta menimbang dari segi ekonominya.

Bahan pencetak beton berperan penting untuk menahan radiasi seperti semen, koral, dan pasir. Pasir yang mengandung besi digunakan sebagai bahan material agar densitas beton yang dihasilkan menjadi lebih tinggi. Standar densitas beton dapat mencapai hingga 2.400 gram per cm kubik.

Syarat densitas beton untuk bungker rumah sakit adalah minimal 2.350 gram per kubik, sedangkan rata-rata beton yang dibuat memiliki densitas 2.200 gram per cm kubik. Untuk mencapai persyaratan tersebut, beton dicampurkan dengan material yang mengandung besi sehingga nilai densitas beton dapat naik mencapai maksimal 2.400 gram per cm kubik.

Sebelum pengecoran, thermocouple ditanam untuk memantau perubahan suhu beton agar suhu di dalam dan di luar tidak terlalu berbeda. Batas perbedaan suhu beton maksimum sebesar 20 derajat celsius. Hidrasi senyawa semen melibatkan reaksi eksotermik. Reaksi tersebut menyebabkan suhu beton meningkat.

Setelah pengecoran dilaksanakan, suhu beton dijaga agar suhu rata-rata menjadi 38 derajat. “Dengan beton yang sebegitu tebalnya, yang di tengah bisa mencapai suhu 100 derajat,” ungkap Febri. Upaya yang dilakukan untuk mendinginkan beton, yakni dengan memasukkan es batu pada bungker, menggunakan selimut, serta penambahan zat aditif. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemuaian beton secara signifikan yang dapat mengakibatkan crack pada beton itu sendiri.

Curing atau perawatan beton juga dilakukan untuk memaksimalkan hasil pengecoran serta menjaga kelembaban dan suhu sesuai mutu yang diinginkan. Perawatan beton dilaksanakan dengan dua cara, yakni water curing dan membrane curing. Water curing adalah metode perawatan dengan menyelimuti beton dengan air untuk menghambat penguapan. Sementara itu, membrane curing adalah metode perawatan beton menggunakan kalsium klorida sebagai pengawet.

Pembangunan dua ruang bungker radioterapi membutuhkan waktu kurang lebih selama empat bulan. Tahap pembangunan bungker terdiri dari proses pengelolaan mutu, waktu, dan biaya, pelaksanaan pekerjaan persiapan, pekerjaan struktur bawah, pekerjaan struktur atas, pengujian mutu beton, dan penyambungan stop cor.

Banyak pihak yang terlibat dalam pembangunan bungker baik dari pihak internal maupun pihak eksternal. Kerja sama antar-manpower juga menjadi salah satu faktor penting dalam pembangunan bungker agar dapat terlaksana dengan baik. Rata-rata pembangunan bungker membutuhkan biaya sebesar 6–7 miliar rupiah.

Tulisan oleh Amalia Ramadhani
Data oleh Nathanael Bimo
Ilustrasi oleh Fairunafis Sabrina
Dokumentasi oleh PT Tigamas Mitra Selaras

Artikel Terkait