Notice: Function is_tax was called incorrectly. Conditional query tags do not work before the query is run. Before then, they always return false. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 3.1.0.) in /home/claw7223/public_html/wp-includes/functions.php on line 5833
Mie Instan (X), Mental Kaya Instan (✓) - Clapeyron
Beranda Opini Mie Instan (X), Mental Kaya Instan (✓)

Mie Instan (X), Mental Kaya Instan (✓)

oleh Redaksi

Penipuan berkedok investasi kembali menggemparkan Indonesia beberapa bulan lepas. Mengikuti perkembangan zaman, instrumen “investasi” yang digunakan kali ini tidak lagi menggunakan arisan atau koperasi, melainkan berupa opsi biner (binary option). Aktivitas “investasi” ini dapat berkembang ke seluruh masyarakat karena adanya para influencer atau affiliator. 

Strategi affiliator dalam memasarkan kegiatan ini juga bisa dianggap cerdik, yaitu dengan memamerkan kekayaan yang mereka akui merupakan hasil “trading” di platform opsi biner mereka, hingga melakukan motivasi-motivasi untuk para pengikutnya. Oleh karena itu, penangkapan seorang influencer tersebut sempat membuat geger masyarakat belakangan ini. Kenapa mereka ditangkap?

Kekayaan yang dipamerkan oleh seorang affiliator di media massa seringkali merupakan hasil penipuan terhadap “member” atau personel yang kehilangan uang karena kerugian mereka di platform binary option. Menurut pengakuan dari affiliator platform binary option, mereka bahkan bisa menerima sampai 70 persen dari kekalahan personelnya. Jika dihitung dari laporan kerugian personel yang mencapai ratusan miliar rupiah, para affiliator ini telah menerima puluhan hingga ratusan miliar rupiah dari kerugian personelnya tersebut. 

Penipuan ini sudah memakan banyak korban dari semua kalangan dengan jumlah kerugian yang sangat banyak, bahkan ada yang sampai menjual aset dan terjerat utang demi mendapat keuntungan dari “trading” di opsi biner. Jika bukan platform trading, apa sebenarnya opsi biner ini dan bagaimana cara kerjanya?

Opsi Biner

Sesuai namanya, yakni binary berarti dua dan option berarti pilihan, binary option atau opsi biner berarti menebak di antara dua pilihan. Cara kerja opsi biner adalah “trader” atau pemain harus memprediksi apakah harga suatu aset akan bergerak naik atau turun dalam jangka waktu tertentu. 

Pemain dapat memilih aset yang akan digunakan sebagai “trading”—dalam hal ini biasanya berupa mata uang, indeks saham, kripto, atau komoditas. Jika sudah menentukan aset yang akan digunakan, pemain harus mempertaruhkan sebagian atau seluruh modal yang ia miliki. Pemain akan mendapat keuntungan sebesar 60–90 persen jika tebakannya benar dan akan kehilangan seluruh modal jika tebakannya salah.

Secara kasat mata, hal ini tampak seperti kegiatan perjudian—judi bola misalnya. Seseorang yang tebakannya benar akan mendapatkan keuntungan dari yang tebakannya salah. Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam L Tobing juga menganggap opsi biner, seperti Binomo, sebagai perjudian karena tidak adanya barang yang diperdagangkan.

Selain itu, ada beberapa ihwal yang perlu dipertimbangkan mengenai investasi di platform binary option ini. Pertama, dari mana asal keuntungan yang didapatkan? padahal tidak ada aset yang diperjual-belikan. Jawabannya adalah perusahaan penyedia platform binary option ini bertindak sebagai bandar. Sebagai seorang bandar, tentu mereka tidak mau rugi sehingga mereka memanfaatkan kurangnya literasi keuangan untuk memperoleh keuntungan. Pihak penyedia platform akan selalu melakukan usaha agar orang-orang rugi di platform tersebut karena sebuah perusahaan pasti membutuhkan penghasilan untuk dapat terus beroperasi. 

Usaha-usaha yang dilakukan pihak penyedia untuk mendapat keuntungan misal dengan manipulasi pasar dan manipulasi regulasi. Manipulasi pasar, yaitu harga sebenarnya dimanipulasi oleh pihak penyedia agar pemain mengalami kerugian. Sementara itu, manipulasi regulasi merupakan langkah yang dilakukan oleh pihak penyedia untuk meyakinkan bahwa platform mereka merupakan platform yang teregulasi dan legal, padahal tidak.

Selain memanfaatkan kurangnya literasi masyarakat tersebut, pihak penyedia platform atau bandar juga mendapatkan keuntungan dari kekalahan seorang pemain. Contoh, pada kondisi seimbang (jumlah pemain yang menang dan kalah sama), pemain yang menang akan mendapatkan keuntungan sebesar 90%, sedangkan 10% sisanya tersebut akan menjadi milik bandar.

Kedua, risk to reward ratio di opsi biner tidak seimbang. Bagaimana tidak? Jika berhasil menebak secara benar, keuntungan yang didapat hanya 60–90 persen dari modal dan di sisi lain akan kehilangan seluruh modal jika tebakan salah. Misal, ada seorang “trader” opsi biner yang membuka posisi sebanyak 20 kali dengan taruhan 1 juta rupiah pada tiap posisi. Jika prediksi pemain benar, akan mendapatkan keuntungan sebesar 70% dan jika kalah, akan kehilangan seluruh modalnya. Katakanlah, pemain tersebut mendapatkan win rate sebesar 60% (12 kali menang dan 8 kali kalah). Apabila dilihat dari jumlah kemenangannya, pemain tersebut seharusnya untung. Namun, kenyataannya tidak demikian. Keuntungan yang didapat pemain dari kemenangannya adalah sebesar 7,2 juta rupiah, sedangkan kerugian yang didapat dari kekalahannya adalah 8 juta rupiah sehingga pemain tersebut mengalami kerugian sebesar 800 ribu rupiah. Hal ini membuktikan bahwa risk to reward ratio di opsi biner tidaklah baik dalam dunia investasi, terlebih lagi bagi trader yang belum bisa menghasilkan win rate yang konsisten.

Apabila ingin mendapat keuntungan, seseorang yang bermain dalam platform tersebut harus dapat memastikan bahwa dia akan menang dengan jumlah yang lebih banyak hingga dapat menutupi kerugian akibat kekalahannya. Akan tetapi, bagaimana cara memastikannya? Ditambah, dengan skema opsi biner serta instrumen analitik yang sangat terbatas, baik dari segi waktu maupun aset yang “diinvestasikan”, membuat tidak memungkinkannya dilakukan analisis secara akurat. 

Ketiga, konsep batas waktu yang ada pada opsi biner tidak fleksibel. Dalam opsi biner, posisi yang dibuka (naik atau turun) dibatasi oleh waktu. Saat batas waktu tersebut habis, hal itulah yang akan menentukan kemenangan atau kekalahan. Hal ini sangat tidak pas untuk investasi karena investasi pada dasarnya bersifat time oriented atau dengan kata lain, waktu yang fleksibel merupakan salah satu hal terpenting bagi investor. 

Investasi bersifat time oriented dapat dilihat dari salah satu cara menganalisis harga, yaitu analisis teknikal. Dalam analisis teknikal, seorang investor atau trader dapat memperkirakan pergerakan harga suatu aset menggunakan data-data historis pergerakan, termasuk grafik pergerakan harga suatu aset yang telah terjadi sebelumnya. Namun, walaupun bentuk grafik bisa diprediksi, kapan pergerakan yang diprediksi akan terjadi tidak dapat diperkirakan sehingga fleksibilitas waktu dalam investasi dan trading sangat diperlukan.

Keempat, secara legalitas, opsi biner merupakan hal yang ilegal di Indonesia. Hal ini seharusnya membuat para “investor” tidak tenang karena dana yang mereka gunakan sebagai modal tidak akan dijamin oleh pemerintah. Plt Kepala Bappebti Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan bahwa binary option tidak mendapat perizinan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan dan transaksinya dilarang. Bappebti juga tidak memberikan izin kepada aplikasi trading online binary option.

Kegiatan “trading” di platform binary option dilarang untuk dilakukan berdasarkan UU PBK (Perdagangan Berjangka Komoditi) Pasal 1 Ayat (8) UU Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan atas UU Nomor 32 Tahun 1997. Hal ini karena kegiatan tersebut bukan merupakan kegiatan perdagangan karena tidak adanya aset atau kontrak yang diperjual-belikan dan lebih mengarah ke perjudian. Aset atau kontrak tersebut seharusnya dikuasai oleh perseorangan serta dapat diperjual-belikan dalam waktu tertentu. Dalam kasus opsi biner ini, tidak ada jual-beli aset atau kontrak karena pemain hanya perlu menebak harga sebuah aset—apakah itu akan turun atau naik dalam batas waktu yang ditentukan.

Dari banyaknya kerugian dan ketidakpastian legalitas seperti yang sudah disebutkan di atas, lantas bagaimana bisa masih banyak korban dalam kasus “trading” ini?

Mental Kaya Instan Masyarakat

Jawaban utama dari pertanyaan di atas adalah adanya mental kaya instan mayoritas masyarakat Indonesia yang muncul akibat jarang menerima edukasi investasi. Kebanyakan masyarakat menginginkan return setinggi mungkin, tetapi dengan modal sekecil dan waktu sesingkat mungkin. Mental semacam inilah yang membuat penipuan berkedok investasi bisa menjamur di tengah masyarakat. Dalam kasus opsi biner, diketahui bahwa kegiatan ini dapat memberikan return yang mereka anggap tinggi, yaitu 60 hingga 90 persen (padahal ini sangat kecil dan tidak seimbang jika dilihat dari faktor risikonya). Hal tersebut mungkin menggiurkan bagi sebagian orang karena tanpa melakukan hal yang melelahkan sekalipun, mereka tetap bisa mendapatkan untung. 

Dalam berinvestasi, salah satu hal yang terpenting sebelum memulai kegiatan tersebut adalah dengan belajar. Tanpa belajar, investasi hanya akan membawa kerugian. Trader (pelaku investasi) harus menguasai dan mengetahui terlebih dahulu di mana akan berinvestasi (mulai dari broker hingga komoditas yang akan diinvestasikan), bagaimana regulasi investasi yang diikuti, dari mana keuntungan berasal, faktor risiko, analisis fundamental dan teknikal, strategi yang akan digunakan, serta masih banyak lagi. Hal penting inilah yang kadang dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Banyak yang berpikir bahwa jika mereka menaruh uangnya pada suatu investasi, yang akan didapatkan hanyalah untung dan untung. Padahal, perlu ada perjuangan dan pengalaman yang banyak hingga seorang trader mendapatkan kesuksesan. Apabila hanya melihat kesuksesan seorang affiliator di media massa secara sekilas, mereka tidak tahu uang yang dipamerkan tersebut berasal dari mana—apakah benar hasil investasi ataukah hasil penipuan seperti kasus opsi biner ini.

Asal Usul Munculnya Mental Kaya Instan

Ada beberapa faktor penyebab munculnya mental kaya instan ini. Faktor pertama, pada dasarnya manusia memang cenderung malas. Pernahkan kalian merasa ingin menikmati kesuksesan tanpa harus bersusah payah?  Atau pernahkan merasa ingin segera mendapatkan self reward secara langsung atas pencapaian sekecil apapun itu? pemikiran seperti ini merupakan tanda bahwa manusia memang menyukai instant gratification atau kecenderungan untuk ingin langsung menikmati reward secepatnya. Manusia kurang ahli dalam melakukan delayed gratification atau kemampuan menunda kesenangan saat ini serta mau bersusah payah dalam kurun waktu yang lama dan konsisten melakukannya hingga berhasil meraih kesuksesan yang diimpikan. Sebagai contoh, kebanyakan manusia lebih menyukai tiduran di kasur dan bermain gawai demi kesenangan saat ini daripada harus belajar atau mengerjakan tugas yang membutuhkan proses panjang dan melelahkan demi masa depan

Selain itu, berdasarkan artikel yang diterbitkan oleh University of British Columbia tahun 2018 lalu dengan judul “Hardwired for laziness? Tests show the human brain must work hard to avoid sloth”, secara instingtif, manusia memang mengidap penyakit inersia atau rasa enggan untuk melakukan beragam tindakan yang rumit dan butuh tenaga ekstra. Manusia memang cenderung lebih menyukai cara yang instan dan lebih suka berada dalam zona nyaman (comfort zone) serta kurang suka melakukan hal-hal yang ribet dan melelahkan.

Faktor kedua, smartphone culture yang makin memperkuat mental instant gratification. Bermain gawai makin disenangi karena berhasil memenuhi dahaga penggunanya untuk sekadar mendapatkan instant reward. Hanya dengan scroll-scroll atau klik-klik di layar gawai, semua keinginan bisa terpenuhi dengan cepat dan real time. Kebiasaan bermain gawai inilah yang membuat mentalitas instan dalam jiwa seseorang makin kuat. 

Persis seperti saat sedang bermain gawai, seseorang ingin keinginannya terwujud secepat mungkin. Akibat bermain gawai ini, keinginan untuk melompati suatu proses dari satu titik ke titik lainnya makin kuat. Hal ini biasa disebut dengan short attention span atau kondisi seseorang sulit fokus saat melakukan kegiatan dengan durasi yang lama. 

Itulah sisi kelam dari kebiasaan bermain gawai yang seringkali tidak disadari. Rutinitas scroll-scroll layar demi mendapatkan kenikmatan sesaat makin menumbuhkan mentalitas instan dalam diri seseorang, termasuk mental ingin cepat kaya dan sukses. 

Perlu digarisbawahi bahwa bermain gawai tidaklah selalu salah. Yang terpenting adalah bisa atau tidaknya seseorang dalam memanajemen diri saat bermain gawai tersebut.

Faktor ketiga, obsesi berlebih pada hasil akhir berupa kekayaan atau kesuksesan. Sebagian orang menjadi ingin cepat kaya dan sukses akibat gambaran akhir kenyamanan yang muncul, seperti memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke Eropa, gadget keren, dan aneka fashion yang bermerek. Gambaran fisik materi yang mewah sebagai simbol kesuksesan tersebut acapkali memberikan pengaruh pada alam bawah sadar pemirsanya. Diam-diam dalam hati, mereka juga ingin dapat menikmati kenyamanan semacam itu.

Fokus pada hasil akhir berupa kekayaan dan kesuksesan ini akhirnya mendorong tumbuhnya mentalitas instan ingin cepat kaya agar juga dapat menikmati kemewahan seperti itu. Namun sayangnya, sebagian besar orang hanya terobsesi dengan hasil dan lupa akan sebuah proses untuk meraihnya. Perlu kerja keras dan perjuangan dengan tekun, gigih, serta konsisten agar impian tersebut tidak hanya menjadi lamunan belaka. 

Kesuksesan merupakan sesuatu yang harus kita dapatkan dengan usaha dan pengalaman, bukan sesuatu yang didapatkan secara begitu saja. Mental kaya instan harus dihilangkan karena dapat merusak seseorang dalam urusan finansial, bahkan mental secara keseluruhan. Efeknya adalah pada persepsi orang dalam dunia investasi juga buruk. Kepercayaan orang terhadap investasi yang legal dan dapat memberikan keuntungan, bahkan financial freedom, juga akan berkurang dengan adanya kasus kasus investasi bodong seperti ini. Padahal, investasi adalah hal yang sangat penting karena dapat mengamankan aset kita dari gerusan inflasi yang terus mengurangi nilai dari aset kita setiap tahunnya. 

Selalu ingat, kekayaan bukanlah suatu hal yang instan, melainkan butuh proses. Menunda kesenangan saat ini demi masa depan memang tidaklah mudah. Ditambah adanya fakta bahwa setiap orang terlahir dengan kecenderungan menyukai cara yang mudah dan instan. Namun, apakah kondisi ini lantas membuat kita pasrah dan akhirnya terpaku pada zona nyaman masing-masing?

Tulisan oleh Hakan Malika Anshafa

Data oleh Jason Devian Putra

Ilustrasi oleh Davina Fairuz Zain

Artikel Terkait