Beranda Berita Masa Depan Logistik Maritim di Langit Benoa

Masa Depan Logistik Maritim di Langit Benoa

oleh Redaksi

Menyajikan pemandangan Teluk Benoa dengan latar Tol Mandara dan kawasan mangrove, Pelabuhan Benoa menjadi salah satu pintu masuk menuju Kota Denpasar. Berbalutkan konsep Bali Maritime Tourism Hub (BMTH), pengembangan Pelabuhan Benoa ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2023. Pengembangan Pelabuhan Benoa yang telah direncanakan sejak tahun 2017 ini terbagi ke dalam dua kawasan—Dumping I dan Dumping II—untuk mendukung peningkatan kelancaran alur logistik dan kapasitas komoditas.

Ragam Pekerjaan di Kawasan Dumping II
Salah satu yang menjadi sorotan dalam pengembangan pelabuhan ini adalah pembangunan di kawasan Dumping II. Kawasan dengan area reklamasi seluas 45,4 hektare ini memiliki sejumlah cakupan pekerjaan, di antaranya pembangunan hutan kota, jetty, storage tank, retaining wall, revetment, hingga pengerukan kolam.

Pengembangan Dumping II ini juga akan mengakomodasi 3 dermaga, seperti dermaga curah cair, dermaga liquefied natural gas (LNG), dan dermaga peti kemas. Selain itu, juga terdapat zona terminal energi dengan luas 22 hektare dan hutan kota dengan luas 23 hektare. Pengembangan Dumping II ini nantinya akan menggunakan konstruksi blok beton berkait untuk melindungi sisi samping yang menerus ke arah Jalan Tol Mandara dan konstruksi sheet pile untuk melindungi sisi dermaga yang langsung berhadapan dengan pantai.

Perubahan Perancangan Tata Letak Dermaga
Pada desain yang digunakan saat ini, terjadi beberapa perubahan terhadap penempatan dermaga. Daerah dermaga peti kemas terdahulu yang terletak di ujung kawasan akan menjadi dermaga LNG, di bagian tengah menjadi dermaga curah cair, dan di sebelahnya digunakan sebagai dermaga peti kemas. 

Seluas lima hektare penggunaan lahan curah cair eksisting—dari zona asalnya di sisi selatan—direncanakan akan berpindah ke zona curah cair sisi utara dengan beberapa peruntukkan. Mulai dari penyimpanan tangki untuk bahan bakar minyak, kelapa sawit, hingga minyak goreng, kebutuhan jalur perpipaan, dermaga selatan, hingga sarana fasilitas aspal curah.

Terdapat perbedaan perancangan pada area dermaga yang melayani kebutuhan peti kemas, curah cair, dan LNG. Meskipun desain dermaga peti kemas masih mengikuti desain pada umumnya, proses bongkar muat barang akan menggunakan rail crane. Di sisi lain, dermaga curah cair akan disematkan inovasi berupa marine long arm (MLA). MLA ini berbentuk seperti belalai pipa yang berfungsi untuk mentransfer oil dan gas berbentuk cair ke tempat penyimpanannya.

Berbeda dengan dermaga LNG, dermaga ini akan menggunakan quick release hook (QRH) untuk sistem tambatan kapalnya. QRH ini mampu memberikan automasi dalam pelepasan tambatan kapal yang dioperasikan dari jarak jauh tanpa bantuan manusia sehingga dapat mengurangi kecelakaan, seperti kebakaran, dan kebutuhan terhadap tenaga kerja. Dermaga ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa ducting atau penyaluran pipa gas.

Spesifikasi Desain Dermaga
Dermaga memiliki dimensi lebar 21 meter dan panjang 994 meter dengan kedalaman kolam bergantung pada spesifikasi kapal yang akan bersandar nantinya. Makin besar kapal yang akan bersandar maka akan makin dalam pula kolam dermaga yang akan dikeruk nantinya. Namun hingga kini, spesifikasi dari draft dredging yang didesain berada di kedalaman 12 meter di bawah muka air laut (LWL).

Lebih lanjut, dermaga ini dapat mengakomodasi kapal berkapasitas 30.000 DWT dengan spesifikasi panjang 115 meter, lebar 92 meter, dan draft maksimum kapal 10,9 meter di bawah muka laut. Dengan desain draft dredging yang dirancang di kedalaman 12 LWL, masih terdapat jarak 1,1 meter sebelum mencapai tanah dasar. Selain itu, terdapat sejumlah cakupan pekerjaan mekanikal yang bersifat sistem yang ada di dermaga ini, seperti fasilitas hydrant, air bersih, dan sistem pemadam kebakaran.

Desain yang diakomodasi dalam perencanaan dermaga ini awalnya didesain menggunakan sistem slab on pile. Desain ini merupakan desain yang telah mengalami perubahan. Jika mengaplikasikan desain sebelumnya dengan kondisi timbunan tanah yang masih cenderung tinggi, disinyalir dapat menyebabkan penurunan tanah. Penurunan tanah ini kemudian akan mendesak dan mendorong dinding dermaga (quay wall) sehingga angkur yang terpasang akan terangkat dan berujung kepada kegagalan. 

Menjawab Tantangan Pembangunan dari Sisi Lingkungan
Secara umum, area pengerjaan proyek revetment, retaining wall, dan dermaga ini berlangsung di atas tanah reklamasi yang baru berusia kurang lebih tujuh tahun. Tanah reklamasi ini cenderung merupakan tanah dengan kapasitas dukung tidak sebaik tanah asli sehingga dapat berisiko terhadap penurunan (settlement). Penggunaan struktur sistem slab on pile ini akan memungkinkan adanya ikatan antar-pile sehingga walaupun tanahnya turun, konstruksi yang terikat satu sama lain akan bergerak bersama. Pergerakan bersama ini mengakibatkan penurunan lokal tidak akan terjadi.

Dalam menggarap proyek dermaga curah cair ini sendiri tidak terlepas dari pekerjaan galian dan timbunan yang berada di tepi laut. Pekerjaan galian dan timbunan ini tentunya memiliki risiko terkait isu lingkungan—misalnya kerusakan biota laut yang ada. Mengantisipasi hal tersebut, biota-biota yang terdapat di Laut Benoa didata terlebih dahulu sehingga nantinya dapat dilakukan analisis kerusakan yang timbul akibat pembangunan dermaga.

Selain itu, untuk mengatasi kontaminasi tanah akibat pekerjaan galian timbunan, digunakan silt protector. Silt protector ini dipasang sebelum melakukan proses penimbunan dan berfungsi untuk menyaring lumpur hingga ukuran 10 milimikron sehingga tidak meluber ke area laut.

Silt protector ini berbentuk seperti tirai pembatas yang menjuntai ke dalam air dengan panjang tertentu dan terbuat dari woven geotekstil. Silt protector ini juga dilengkapi dengan stirofoam untuk membuatnya dapat mengapung di air dan pemberat untuk menahan bentangan tirainya. Untuk proyek ini sendiri, digunakan silt protector dengan ukuran bentangan terpanjang sebesar 4 meter.

Di lain sisi, risiko kebisingan dan polusi udara yang mungkin dapat ditimbulkan juga telah diantisipasi dengan mengatur lokasi pekerjaan sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Pengukuran terhadap dampak ini menjadi penting untuk memenuhi aspek penilaian lingkungan.

Penerapan Teknologi Revetment dan Retaining Wall
Selain itu, terdapat pula bagian pelindung dermaga berupa revetment dan retaining wall. Meskipun keduanya sama-sama merupakan bangunan pelindung, tetapi fungsi spesifik dan peletakannya berbeda. Pada daerah yang berada di sisi samping dermaga dan menerus hingga sisi yang bersebelahan dengan jalan tol, digunakan revetment dari konstruksi blok beton berkait. Lalu, bagian pelindung kakinya dipakai pasangan batu yang dilapisi oleh geotekstil nonwoven yang bertindak sebagai penyaring (filter). 

Di sisi satunya—yang berhadapan langsung dengan pantai—akan menggunakan bangunan pelindung berupa retaining wall yang terbuat dari konstruksi sheet pile dengan diameter 1.016 milimeter. Satuan-satuan sheet pile ini kemudian akan dihubungkan satu sama lain hingga membentuk satu kesatuan dinding penahan tanah. Perlu diketahui bahwa pembangunan konsep dinding penahan tanah seperti ini dilakukan mengingat dermaga yang dibangun bukan merupakan dermaga jetty, melainkan dermaga dengan dinding (quay walls).

Bangunan pelindung ini sejatinya ditujukan untuk menjaga konstruksi dermaga dari potensi kerusakan. Misalnya, potensi kerusakan akibat gelombang air laut yang dapat mengakibatkan pergeseran garis pantai saat terjadi pasang dan mengurangi area dermaga. Bangunan pelindung ini juga dapat menjaga konstruksi dermaga dari potensi kelongsoran yang diakibatkan oleh ketidakstabilan lereng.

Selain itu, terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan proyek Pelabuhan Benoa ini, baik dari sisi teknis maupun administrasi. Misalnya saja, sebagian lahan masih belum dapat dikerjakan karena masih dipergunakan oleh nelayan sebagai sandar kapal atau perahu. Dalam mengatasinya, pihak kontraktor PT Waskita Karya (Persero) Tbk. masih terus melakukan upaya pendekatan kepada para nelayan untuk mengatasinya.

Medan Kerja yang Penuh Tantangan
Tantangan lainnya datang dari tiang pancang baja yang telah berada di lokasi sejak lama. Tiang pancang tersebut tentunya telah mengalami proses karatan sehingga perlu diperbaiki melalui pekerjaan sandblasting. Pekerjaan ini akan mengikis karatan yang ada pada tiang baja dan kemudian dilakukan coating. Hasil dari proses sandblasting ini tergolong ke dalam limbah bahan berbahaya beracun (B3) yang dapat mengontaminasi tanah dan membuatnya tidak dapat berfungsi untuk kurun waktu yang lama. Mengetahui hal tersebut, dilakukan kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengolah limbah B3 tersebut menjadi batako.

Pada dasarnya, pekerjaan sandblasting ini dilakukan dengan menyemprotkan pasir kuarsa menggunakan kompresor ke area yang berkarat untuk mengikis karat yang ada. Proses pekerjaan ini juga meminimalkan debu keluar agar tidak menjadi isu lingkungan. Untuk meminimalkan debu yang keluar, proses pengerjaan sandblasting ini dilakukan di dalam tenda tertutup.

Selain itu, pekerjaan pemancangan tiang juga masih dilakukan dengan kuantitas yang terbatas mengingat kondisi area yang dibatasi oleh keadaan muka air. Pemancangan tiang dilakukan pada pagi hingga pukul 11 siang dan dilanjutkan pada sore hari hingga pukul 12 malam. Hal ini dilakukan untuk menghindari masa pasang karena akan menyulitkan proses pemancangan. Dengan metode kerja ini, tiang yang dapat dipancangkan berkisar 4 tiang per harinya.

Menilik Kembali Konsep BMTH
Kembali menilik konsep Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) yang menyematkan serangkaian unsur beautifikasi dan penghijauan kawasan, tentunya proyek ini juga mempertimbangkan keberadaan daerah hijau. Pada keseluruhan proyek BMTH, daerah Dumping I dan II akan dilengkapi dengan hutan kota yang terletak di samping Jalan Tol Mandara. Terdapat beberapa jenis pohon yang akan mendiami hutan kota tersebut, di antaranya pohon cemara udang, cemara laut, sawo kecik, kelapa gading, kamboja, tanaman jempiring, dan asoka. 

Pengembangan dan penataan ulang Pelabuhan Benoa Bali sebagai wisata dan logistik maritim ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan Nusantara, sekaligus memperkuat dan meningkatkan aktivitas serta efisiensi logistik angkutan laut. Melalui fasilitas logistik maritim yang berdaya, komoditas ekspor dapat beralih menggunakan jalur laut sehingga beban biaya logistik serta potensi kerusakan jalan nasional di wilayah Bali dapat ditekan.

Tulisan oleh Giovanni Serena Siahaan
Data oleh Faatira Azzahra S K
Dokumentasi oleh Bagas Adi Wicaksono
Tim Liputan Clapeyron (Giovanni Serena, Faatira Azzahra, Bagas Adi, Alkansa Jesiro)

Artikel Terkait