Beranda Sipiloka Waduk Sang Pengendali Banjir

Waduk Sang Pengendali Banjir

oleh Redaksi

Dalam laporan berjudul The Human Cost of Weather Related Disaster, disebutkan sejak 1995 hingga 2015, banjir telah berdampak pada 2,3 miliar jiwa atau setidaknya 30% dari penduduk dunia. Banjir dapat diakibatkan oleh banyak hal, bisa terjadi karena faktor alam maupun ulah  manusia. Pada laporan berjudul Moving from Water Problems to Water Solutions, dinyatakan bahwasanya 44,6% bencana banjir global diakibatkan oleh monsoonal rain atau hujan lebat yang terjadi akibat angin musiman di monsoon regional (Afrika Barat dan Asia-Australia) yang dapat meningkatkan kadar air hujan.

Tanggul Kali Bodri yang terletak di Kendal, Jawa Tengah terlihat dalam kondisi yang mengkhawatirkan setelah mengalami longsor pada awal 2020. Sebelum terjadinya longsor, ketebalan tanggul sekitar 7 meter, tetapi setelahnya tanggul hanya tinggal 1 meter. Sudah beberapa kali dilakukan perbaikan terhadap tanggul, tetapi peristiwa longsor kembali terjadi. Bila sampai jebol, akan terjadi banjir yang bisa mengancam 100.000 penduduk di wilayah Kecamatan Patebon dan Kendal Kota. Oleh sebab itu, pemerintah daerah memutuskan untuk membangun waduk sebagai pengendali banjir di Kali Bodri.

Kerja waduk sebagai pengendali banjir sebetulnya cukup sederhana. Bisa dibayangkan seperti saat kita melakukan isi daya pada telepon genggam kita. Adaptor yang digunakan untuk mengisi daya sebetulnya berfungsi untuk menurunkan tegangan listrik yang besar dari rumah kita agar menjadi tegangan listrik yang rendah dan bisa disimpan oleh baterai telepon genggam. Sama halnya dengan waduk, fungsi utama waduk sebagai pengendali banjir adalah menahan aliran besar dari banjir masuk (inflow) dan dilepaskan (outflow) dengan debit air yang lebih rendah sehingga tidak terjadi banjir pada hilir sungai. Jika dibayangkan, kerjanya memang cukup sederhana. Namun, banyak sekali tantangan yang harus diperhitungkan matang-matang dalam perencanaan, operasi, hingga pemeliharan waduk.

Dalam perencanaan, penentuan kapasitas waduk dapat ditentukan dengan analisis neraca air atau bisa disebut keseimbangan air. Keseimbangan air didapat ketika kebutuhan air dan ketersediaan air selaras atau bisa disebut tidak berlebih (surplus) ataupun tidak kekurangan (defisit). Keseimbangan air tersebut bisa ditentukan berdasarkan oleh beberapa faktor seperti ketersediaan air dan kebutuhan air pada daerah aliran sungai.

Kebutuhan air bisa dibagi menjadi dua hal, irigasi dan non irigasi. Kebutuhan air non irigasi yang dimaksud terdiri dari kebutuhan air rumah tangga, perkotaan, maupun industri yang bisa diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk dan tingkat perkembangan kota ataupun desa. Sedangkan sebagai pemenuhan kebutuhan air, dibutuhkan ketersediaan air yang dapat diperoleh salah satunya dari air hujan. Tidak bisa dipungkiri bahwa curah hujan bukanlah sesuatu yang bisa kita kontrol dan kita pastikan di masa yang akan datang.

Menghitung ketersediaan air daerah aliran sungai memang penuh ketidakpastian. Jika prediksi tidak tepat, justru bencana banjir bandang ataupun kekeringan yang mungkin bisa terjadi. Pada umumnya, ketersediaan air daerah aliran sungai dinyatakan dalam debit andalan, yaitu debit sungai dengan probabilitas tertentu. Lalu, bagaimana caranya insinyur meramalkan debit andalan yang akan terjadi untuk tahun yang akan datang? Penetapan debit andalan dapat dilakukan dengan adanya data debit aliran yang cukup lama, kira-kira minimum 15 tahun. Namun, jika data debit tidak cukup lama atau bahkan tidak tersedia bisa dilakukan suatu simulasi hujan aliran untuk estimasi nilai debit. Simulasi hujan aliran bisa dilakukan dengan banyak metode, seperti MOCK, RAIN-RUN, WMS, NRECA, dan lainnya.

Selanjutnya, masa operasi waduk sebagai pengendali banjir merupakan poin penting dalam pengelolaan banjir di daerah aliran sungai. Namun, masih ada banyak faktor yang tidak dapat diprediksi dan dapat menciptakan risiko. Menurut Juan Chen (2014) dalam  Risk Analysis for Real-Time Flood Control ada banyak hal yang tidak bisa dipastikan dalam operasi waduk sebagai pengendali banjir. Beberapa faktor ketidakpastian adalah kesalahan perkiraan aliran masuk, kesalahan aliran keluar, dan kesalahan pengamatan pada kurva kapasitas penyimpanan waduk. Faktor ketidakpastian tersebut akan berisiko dalam kesalahan pengambilan keputusan pengendalian banjir dan bisa berdampak pada kemananan waduk.

Terjadinya risiko dan ketiga faktor ketidakpastian di atas bisa diminimalisasi menggunakan suatu perhitungan. Dengan pertimbangan ketiga hal ketidakpastian, perhitungan dilakukan dengan menurunkan suatu persamaan diferensial stokastik dari debit masuk dan debit keluar. Kemudian, semua risiko yang mungkin akan terjadi dihitung dalam suatu formula dan diturunkan dengan metode analitik. Selanjutnya akan didapatkan suatu metode perhitungan banjir langsung yang dapat memperkirakan risiko dalam pengendalian banjir pada waduk. Sehingga hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko yang dihasilkan dari ketidakpastian bisa berkurang. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya metode ini diterapkan pada Waduk Dahuofang di Cina. Sehingga sangat mungkin jika waduk-waduk yang ada di Indonesia bisa menerapkan hal yang sama.

Di Indonesia penerapan fungsi waduk sebagai pengendali banjir sudah diterapkan di tempat lain, salah satunya adalah Waduk Gajah Mungkur. Waduk Gajah Mungkur bisa dikatakan sebagai waduk pengendali banjir yang cukup sukses. Hal itu terbukti ketika Waduk Gajah Mungkur mulai difungsikan pada tahun 1978, sudah tidak terjadi lagi banjir besar seperti pada tahun 1965.

Namun, berkaca pada Waduk Gajah Mungkur yang telah sukses dalam perencanaan maupun operasi waduk, pemeliharaannya masih bisa dikatakan belum optimum. Tidak optimumnya perawatan ini disebabkan oleh sedimentasi dan kerusakan bangunan tanggul waduk. Sedimentasi yang mengendap lebih dari 3 juta meter kubik setiap tahunnya ini mengganggu kinerja waduk dalam penampung air maupun dalam pengaliran air keluar. Alhasil, pada akhir tahun 2007 hingga 2012 banjir besar kembali melanda di kawasan Sungai Bengawan Solo.

Pembangunan waduk sebagai pengendali banjir harus dipastikan optimum mulai dari perencanaan hingga pemeliharan. Hal ini ditujukan agar fungsi utama waduk sebagai pengendali banjir akan maksimal dan tidak bergeser menjadi penyebab utama banjir.

Tulisan oleh Salma Afida
Data oleh Rama Sakti Panjalu
Gambar oleh Arieq

Artikel Terkait