Lebar Sepur 1.067 mm dan 1.435 mm, Apa Bedanya?

Hai, Sobat Ero! Bagaimana liburan Waisak kemarin? Kalau Ero, menghabiskan libur Waisak di Jakarta. Dari Yogyakarta, Ero mampir sejenak di Kota Kembang, Bandung, menggunakan KA Argo Wilis. Selanjutnya, Ero mencicipi Kereta Cepat Whoosh dan disambung menggunakan LRT Jabodebek untuk melanjutkan perjalanan ke pusat kota Jakarta. Dari perjalanan tersebut, Ero mengamati bahwa ketiga moda transportasi jalan rel yang Ero gunakan memiliki lebar sepur (rel) yang berbeda. Yuk, kita kupas bersama sejarah dan jenis-jenis ukuran sepur di Indonesia!

Lebar sepur atau rail gauge merupakan jarak bagian dalam antara dua rel yang dipasang sejajar. Lebar sepur dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu sepur standar (1.435 mm), sepur sempit (<1.435 mm), dan sepur lebar (>1.435 mm). Lebar sepur standar mencakup hingga 55% dari jalur kereta api di dunia. 

Saat ini, lebar sepur yang umumnya digunakan di Indonesia adalah 1.067 mm. Lebar sepur ini menjadi landasan operasional PT. Kereta Api Indonesia di Pulau Jawa dan Sumatera. Khusus Pulau Sulawesi, lebar sepur yang digunakan ialah 1.435 mm. Selain itu, Kereta Cepat Whoosh dan LRT Jabodebek pun menggunakan lebar sepur 1.435 mm.

Sejarah Perkembangan Lebar Sepur 1.435 mm

Dalam sejarahnya, konsep kereta api Roman Empires menjadi acuan awal bagi Inggris untuk mengembangkan teknologi kereta api. Di sekitar abad ke-17 (pra-revolusi industri), kawasan tambang telah menggunakan kereta api bertenaga kuda sebagai transportasi pengangkut hasil tambang. Lebar sepur yang digunakan pun berkisar antara 45 kaki. Selanjutnya, revolusi industri pertama menghembuskan angin segar di berbagai sektor industri. Kehadiran lokomotif uap mampu meningkatkan efisiensi kerja. Dirasa kurang puas, seorang insinyur mekanik, George Stephenson, memiliki gagasan bahwa lokomotif yang telah ada masih dapat disempurnakan sehingga diperoleh lokomotif uap yang jauh lebih efisien. Beliau merancang hingga 16 versi lokomotif. Ukuran lokomotif didasarkan pada lebar gerbong batu bara (sekitar 5 kaki). Dengan asumsi ukuran roda sekitar 2 inci dan penambahan koreksi lebar sekitar ½ inci, terciptalah ukuran standar lebar sepur 4 kaki 8½ inci atau 1.435 mm.

Rancangannya ini kemudian digunakan dalam proyek jalur kereta api Liverpool hingga Manchester pada tahun 1830. Keberhasilan di proyek ini menjadi batu loncatan bagi Mr. Stephenson di dunia perkeretaapian. Bersama putranya, Robert Stephenson, mereka mengepalai berbagai proyek jalur kereta api di Inggris. Sejak saat itu, lebar sepur 1.435 mm mendominasi Inggris.

Di waktu yang bersamaan, para insinyur lain sedang giat-giatnya membangun jalur kereta api dengan lebar sepur yang berbeda. Namun, perbedaan ukuran ini mengakibatkan perjalanan kereta api menjadi kurang seamless. Penumpang atau barang harus dipindahkan ke kereta lain sebab lebar sepur yang tidak dapat digabungkan atau bertemu. Parlemen Inggris, melalui Gauge Act 1846, menetapkan jika lebar sepur rancangan Mr. Stephenson menjadi standar di Inggris. Koloni Inggris yang cukup besar kala itu mempercepat penyebaran lebar sepur Stephenson ke berbagai penjuru dunia.

Sejarah Perkembangan Lebar Sepur 1.067 mm

Peran insinyur kereta api Inggris untuk negara lain tercatat ketika Robert Stephenson menjadi pimpinan proyek pembangunan jalur kereta api Norwegia. Robert mengimplementasikan lebar sepur standar untuk proyek ini. Namun, seorang putra daerah, Carl Abraham Pihl, menentang penggunaan lebar sepur standar di negaranya tersebut. Mr. Pihl menilai bahwa menggunakan lebar sepur standar membutuhkan biaya yang lebih mahal sebab topografi Norwegia yang berupa pegunungan. Dalam kajiannya, Mr. Pihl yakin bahwa lebar sepur sempit (1.067 mm) dapat memangkas biaya dan secara teknis dapat dibangun di daerah pegunungan dengan lebih mudah. Mr. Pihl merupakan seorang insinyur terkemuka di Norwegia. Dalam proyek pembangunan jalur kereta api, seperti jalur Hamar-Grundset, beliau mencoba mengimplementasikan lebar sepur 1.067 mm. Proyek ini dinilai sukses dan menjadi buah bibir insinyur dunia dan kiblat pembangunan lebar sepur 1.067 mm kala itu. 

Sejarah Perkembangan Lebar Sepur di Indonesia

Ketika pembangunan jalur rel sedang naik daun, Indonesia masih dalam masa pendudukan Belanda. Pengaruh lebar sepur standar berhembus hingga ke Hindia-Belanda. Jalur-jalur kereta api saat itu dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan swasta. Namun, badai keuangan menghampiri perusahan swasta dan memaksa mereka untuk meminjam uang kepada negara. Pemerintah kolonial sepakat dengan kajian Mr. Pihl. Seiring berjalannya waktu, lebar sepur 1.435 mm mulai ditinggalkan. Perusahaan kereta api milik negara, Staatsspoorwegen (SS), mengambil alih peran. Perusahaan ini mulai membangun jalur kereta api 1.067 mm di beberapa wilayah terutama di Pulau Jawa. 

Fun Fact!

Perlu Sobat Ero ketahui pula!. Di zaman kolonial, ternyata dibangun juga jalur kereta api dengan lebar sepur 750 mm dan 600 mm. Jalur ini dikhususkan untuk trem maupun kereta pengangkut hasil bumi, terutama tebu. Sobat Ero masih bisa menjumpai jenis sepur ini di beberapa pabrik gula (PG), seperti PG Madukismo atau PG Gondang Winangoen.

Kelebihan & Kelemahan

Nah, setelah Ero melakukan riset, Ero menemukan beberapa kelebihan dan kelemahan dari lebar sepur 1.067 & 1.435 mm. Bisa dibaca di infografis di bawah ini ya!

Tulisan oleh Albertus Bintang 

Data oleh Farrel T

Layout oleh Nawang Azani